TamiangNews.com, REDELONG - Polres Bener Meriah, Jumat (9/9) menetapkan Ketua Komisi Independen Pemilihan (KIP) Iwan Kurnia sebagai tersangka pemukulan terhadap anggotanya, Anwar Hidayat, Ketua Divisi Bidang SDM dan Humas. Tersangka telah diperiksa polisi, tetapi tidak ditahan dengan alasan masih adanya tahapan Pilkada 2017.
Iwan ditetapkan menjadi tersangka dalam kasus penganiayaan terhadap Anwar dengan memukul bertubi-tubi tanpa ada perlawanan dari korban. Pihak kepolisian langsung melayangkan surat panggilan seusai insiden, namun yang bersangkutan baru hari ini, Jumat bisa memenuhi panggilan tersebut dan telah mengakui perbuatannya.
Kapolres Bener Meriah, AKBP Deden Soemantri melalui Kasat Reskrim, AKP Suparwanto kepada Serambi, Jumat (9/9) membenarkan telah menetapkan Ketua KIP, Iwan Kurnia sebagai tersangka dalam kasus penganiyaan itu. “Karena saat kejadian, Iwan Kurnia hanya berdua dengan korban, sehingga hanya dia yang ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus ini,” kata Suparwanto.
Dikatakan, polisi telah memeriksa dan memintai keterangan tersangka pemukulan Anwar. “Tersangka sudah kita kita periksa sejak tadi pagi dan dia juga telah mengakui insiden penganiyaan dengan memukul korban berkali-kali,” jelasnya.
Ketika disinggung, apakah tersangka ditahan, Suparwanto menyebutkan Iwan Kurnia tidak ditahan dengan pertimbangan masih adanya kegiatan tahapan menjelang Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2017. Meski begitu, proses hukum terkait dengan kasus penganiayaan ini, tetap berlanjut.
“Korban juga belum mau berdamai, sehingga prosesnya tetap lanjut dan nanti, kami akan memeriksa sejumlah saksi lainnya,” sebut Suparwanto. Dia berharap insiden ini tidak berulang, karena hanya persoalan sepele, tetapi berujung pada aksi kekerasan.
Dilansir sebelumnya, Ketua Komisi Independen Pemilihan (KIP) Kabupaten Bener Meriah, Iwan Kurnia dilaporkan ke polisi lantaran menganiaya salah seorang anggotanya, Rabu (7/9) sekira pukul 13.30 WIB. Paska insiden itu, korban pemukulan, Anwar Hidayat yang merupakan Ketua Divisi Bidang SDM dan Humas KIP Bener Meriah, harus menjalani perawatan di RSU Datu Beru, lantaran menderita sejumlah luka.
Insiden pemukulan yang dilakukan oleh Ketua KIP Bener Meriah, Iwan Kurnia dipicu persoalan sepele. Sebelum kejadian, Anwar Hidayat dipanggil ke ruangan Ketua KIP, untuk menjelaskan tentang proses perekrutan PPK dan PPS.
“Padahal sudah saya jelaskan, data proses perekrutan PPK dan PPS, bisa dilihat di website, namun tiba-tiba, dia emosi dan langsung memukul saya,” kata Anwar Hidayat kepada Serambi, Kamis (8/9). Menurut Anwar, aksi pemukulan tersebut, terjadi di ruang kerja Iwan Kurnia.
Bahkan pada saat insiden terjadi, kondisi ruangan dalam keadaan terkunci sehingga sempat didobrak oleh sejumlah petugas kepolisian yang bertugas di kantor penyelenggara pemilihan itu. “Saya sempat teriak-teriak dari dalam ruangan lantaran Iwan Kurnia terus memukuli saya. Meski sudah berupaya menghindar, tapi sebelah mata saya bengkak terkena pukulan,” sebut Anwar Hidayat.
Mahasiswa Demo
Seusai insiden pemukulan itu, sepuluhan mahasiswa melakukan demonstrasi ke Kantor KIP Bener Meriah, kemarin. Mereka meminta Iwan Kurnia dicopot dari jabatannya sebagai ketua KI. Mereka juga mendesak polisi untuk terus memproses kasus penganiayaan.
Belasan mahasiswa itu, berorasi di depan Kantor KIP, sembari membawa spanduk. Beberapa orang mahasiswa bergantian menyampaikan orasinya untuk meminta agar menghentikan sikap premanisme yang terjadi di KIP Bener Meriah. Bermodalkan mega phone dan selembar spanduk bertuliskan copot ketua KIP Bener Meriah dan stop premanisme. Aksi tersebut, berlangsung damai.
Koordinator aksi, Waladan Yoga menyebutkan, aksi masa tersebut, menuntut Ketua KIP Bener Meriah, segera dicopot dari jabatannya. Mereka juga mendesak aparat penegak hukum untuk serius dan tidak menutupi kasus pemukulan yang melibatkan Ketua KIP Bener Meriah.
“Kami mendesak Komisioner KIP Bener Meriah untuk segera melakukan pleno untuk pergantian ketua KIP tanpa menunggu proses hukum yang sedang berjalan,” tandasnya. [] Serambinews
Iwan ditetapkan menjadi tersangka dalam kasus penganiayaan terhadap Anwar dengan memukul bertubi-tubi tanpa ada perlawanan dari korban. Pihak kepolisian langsung melayangkan surat panggilan seusai insiden, namun yang bersangkutan baru hari ini, Jumat bisa memenuhi panggilan tersebut dan telah mengakui perbuatannya.
Kapolres Bener Meriah, AKBP Deden Soemantri melalui Kasat Reskrim, AKP Suparwanto kepada Serambi, Jumat (9/9) membenarkan telah menetapkan Ketua KIP, Iwan Kurnia sebagai tersangka dalam kasus penganiyaan itu. “Karena saat kejadian, Iwan Kurnia hanya berdua dengan korban, sehingga hanya dia yang ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus ini,” kata Suparwanto.
Dikatakan, polisi telah memeriksa dan memintai keterangan tersangka pemukulan Anwar. “Tersangka sudah kita kita periksa sejak tadi pagi dan dia juga telah mengakui insiden penganiyaan dengan memukul korban berkali-kali,” jelasnya.
Ketika disinggung, apakah tersangka ditahan, Suparwanto menyebutkan Iwan Kurnia tidak ditahan dengan pertimbangan masih adanya kegiatan tahapan menjelang Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2017. Meski begitu, proses hukum terkait dengan kasus penganiayaan ini, tetap berlanjut.
“Korban juga belum mau berdamai, sehingga prosesnya tetap lanjut dan nanti, kami akan memeriksa sejumlah saksi lainnya,” sebut Suparwanto. Dia berharap insiden ini tidak berulang, karena hanya persoalan sepele, tetapi berujung pada aksi kekerasan.
Dilansir sebelumnya, Ketua Komisi Independen Pemilihan (KIP) Kabupaten Bener Meriah, Iwan Kurnia dilaporkan ke polisi lantaran menganiaya salah seorang anggotanya, Rabu (7/9) sekira pukul 13.30 WIB. Paska insiden itu, korban pemukulan, Anwar Hidayat yang merupakan Ketua Divisi Bidang SDM dan Humas KIP Bener Meriah, harus menjalani perawatan di RSU Datu Beru, lantaran menderita sejumlah luka.
Insiden pemukulan yang dilakukan oleh Ketua KIP Bener Meriah, Iwan Kurnia dipicu persoalan sepele. Sebelum kejadian, Anwar Hidayat dipanggil ke ruangan Ketua KIP, untuk menjelaskan tentang proses perekrutan PPK dan PPS.
“Padahal sudah saya jelaskan, data proses perekrutan PPK dan PPS, bisa dilihat di website, namun tiba-tiba, dia emosi dan langsung memukul saya,” kata Anwar Hidayat kepada Serambi, Kamis (8/9). Menurut Anwar, aksi pemukulan tersebut, terjadi di ruang kerja Iwan Kurnia.
Bahkan pada saat insiden terjadi, kondisi ruangan dalam keadaan terkunci sehingga sempat didobrak oleh sejumlah petugas kepolisian yang bertugas di kantor penyelenggara pemilihan itu. “Saya sempat teriak-teriak dari dalam ruangan lantaran Iwan Kurnia terus memukuli saya. Meski sudah berupaya menghindar, tapi sebelah mata saya bengkak terkena pukulan,” sebut Anwar Hidayat.
Mahasiswa Demo
Seusai insiden pemukulan itu, sepuluhan mahasiswa melakukan demonstrasi ke Kantor KIP Bener Meriah, kemarin. Mereka meminta Iwan Kurnia dicopot dari jabatannya sebagai ketua KI. Mereka juga mendesak polisi untuk terus memproses kasus penganiayaan.
Belasan mahasiswa itu, berorasi di depan Kantor KIP, sembari membawa spanduk. Beberapa orang mahasiswa bergantian menyampaikan orasinya untuk meminta agar menghentikan sikap premanisme yang terjadi di KIP Bener Meriah. Bermodalkan mega phone dan selembar spanduk bertuliskan copot ketua KIP Bener Meriah dan stop premanisme. Aksi tersebut, berlangsung damai.
Koordinator aksi, Waladan Yoga menyebutkan, aksi masa tersebut, menuntut Ketua KIP Bener Meriah, segera dicopot dari jabatannya. Mereka juga mendesak aparat penegak hukum untuk serius dan tidak menutupi kasus pemukulan yang melibatkan Ketua KIP Bener Meriah.
“Kami mendesak Komisioner KIP Bener Meriah untuk segera melakukan pleno untuk pergantian ketua KIP tanpa menunggu proses hukum yang sedang berjalan,” tandasnya. [] Serambinews

