Notification

×

Iklan

Iklan

Perjuangan Nakes RSUA Tangani Covid-19: Saya Anggap Semua Ini Jihad

Rabu, 08 April 2020 | April 08, 2020 WIB | 0 Views Last Updated 2020-04-08T05:12:45Z
abati parfum | Parfum Arab Terbaik
TamiangNews.com, SURABAYA -- Para tenaga kesehatan (nakes) adalah pahlawan di tengah pandemi Covid-19. Mereka berada di garda terdepan. Bertaruh waktu dan nyawa. Berikut suka duka para nakes yang bertugas di Poli Khusus RSUA.


Pagi yang begitu tenang di Poli Khusus Rumah Sakit Universitas Airlangga (RSUA) kemarin (7/4). Saat itu, sekitar pukul 07.00, antrean di poli khusus penanganan Covid-19 di gedung Rumah Sakit Penyakit Tropis Infeksi (RSPTI) belum begitu ramai. Para tenaga kesehatan (nakes) pun sudah bersiap diri menangani pasien yang berkunjung untuk memeriksakan diri. Mulai tim yang bertugas di instalasi gawat darurat (IGD) hingga di ruang rawat inap pasien Covid-19.

Bangun Mukti Ardi, kepala ruang rawat inap atau ruang isolasi khusus (RIK) lantai 4, datang dengan penuh semangat pagi itu. Sama dengan nakes lainnya, dia selalu menunjukkan sikap optimistis di depan rekan sejawatnya.

Di lantai 4, tempat Bangun bekerja, hanya ada tiga pasien yang dirawat. Dua perawat jaga dan satu asisten perawat mulai bersiap menjalankan tugas untuk sif pagi. Bangun pun memimpin doa bersama sebelum ganti jaga.

’’Hari ini (kemarin, Red) masih cukup tenang. Kami sebelumnya merawat sampai delapan pasien di ruang inap lantai 4,’’ katanya membuka percakapan bersama Jawa Pos.

Ritual pagi dengan berdoa bersama sudah rutin dilakukan. Sebab, tugas yang diemban para nakes di ruang rawat inap cukup berat. Ada risiko penularan dari pasien positif Covid-19 ke petugas nakes. Setidaknya doa menjadi permohonan agar mereka selamat saat bertugas.

Para nakes yang bertugas di sif pagi itu pun langsung sibuk menyiapkan makanan dan obat yang akan diberikan kepada pasien di ruang isolasi. Setelah makanan dan obat sudah siap, mereka lantas memakai baju hazmat (pakaian dekontaminasi) serta APD lainnya. Mulai sepatu bot, baju pelindung diri, kacamata goggle, masker N95, hingga face shield.

Mereka langsung menuju ke nurse station. Sebagian perawat menyiapkan kepulangan pasien. Ada juga perawat yang melengkapi status pasien dan harus berkonsultasi tentang kondisi pasien ke dokter.

Ya, meski dibilang tidak begitu banyak pasien yang dirawat di lantai 4 saat itu, aktivitas para perawat untuk beberapa pasien saja sudah begitu padat. Terjadwal rapi. Mereka terlihat begitu telaten. ’’Sekarang para perawat sudah mulai beradaptasi. Ada yang masih baru dapat rolling. Mereka biasanya cukup stres di awal,’’ ujarnya.

Apalagi ketika menangani pasien di awal-awal Poli Khusus RSUA dibuka. Sekitar sebulan lalu. Tingkat stres perawat sempat tinggi. Sebab, kasus Covid-19 mulai muncul. Banyak pasien yang terus menangis saat dirawat inap. Psikis mereka terganggu. Ada yang takut melihat pemberitaan tentang pasien Covid-19 yang meninggal. Ada juga pasien yang minta pulang, serta khawatir dengan keluarganya dan lingkungan rumah yang padat. Akibatnya, imunitas tubuh pasien menurun. ’’Perawat yang masuk ke ruang isolasi biasanya lebih lama. Kami harus mendengarkan curhatan mereka,’’ ungkapnya.

Bangun menjelaskan, perawat tidak hanya merawat pasien dan menangani penyakitnya, tetapi juga harus menjaga psikologis pasien agar tidak drop. Para perawat harus membangun kepercayaan kepada pasien. ’’Hampir 3–4 hari di awal, mereka stres. Kemudian, mereka bisa menerima dan tenang. Setelah itu, baru bisa mengikuti pengobatan secara teratur,’’ terangnya.

Kondisi pasien memang berbeda-beda. Setiap orang mempunyai manajemen stres. Ada yang suka mendengarkan musik klasik, jazz, murotal, atau melihat video motivasi. Semua itu difasilitasi dengan disediakan akses wifi.

’’Itu bisa menurunkan tingkat stres pasien. Dulu butuh waktu 3–4 hari agar tenang. Kini 2 hari saja sudah mulai tenang,’’ ungkap Bangun.

Awal-awal kasus Covid-19 muncul memang menjadi tantangan berat bagi perawat. Sebelum memberikan penanganan, nakes harus bisa menyelesaikan masalah psikologisnya. Kadang keluhan pasien terkait dengan psikis lebih dulu dikonsultasikan ke psikiater. ’’Bahkan, ada pasien yang menginjak lantai saja takut karena khawatir kotor atau ada virusnya. Kami pun bingung,’’ kisahnya.

Sebenarnya, jika masyarakat makin teredukasi, kejiwaan mereka bakal lebih tenang. Kini pemahaman masyarakat juga lebih bagus. Masalah psikologis pasien masih ada, tetapi tidak begitu besar seperti dulu. Hanya, tantangan yang dihadapi para nakes saat ini adalah banyaknya kasus Covid-19 dengan tingkat keparahan yang tinggi. ’’Dulu yang dirawat inap masih ODP (orang dalam pemantauan) dan pasien dalam pengawasan (PDP). Hasilnya juga belum tentu positif,’’ jelas Bangun.

Sementara itu, ruangan terbatas. Pasien yang dirawat memiliki kondisi klinis lebih gawat. Perawat pun harus bekerja lebih ekstrahati-hati. Sebab, risiko tertular virus sangat besar ketika mereka lengah. ’’Sekarang kapasitas ruang juga diperluas. Tentu akan lebih banyak lagi menampung pasien,’’ ujarnya.

Bangun menyatakan, para nakes sudah mempersiapkan diri menghadapi outbreak Covid-19 yang mungkin bakal meningkat. Para nakes saat ini telah mempertaruhkan semuanya. Keluarga, harta, bahkan nyawa. ’’Saya anggap semua ini jihad,’’ tuturnya.

Sebagai nakes yang bertugas langsung menangani pasien Covid-19 di ruang rawat inap, tentu banyak suka duka yang dirasakan. Tidak terkecuali, Bangun. Dia rela tidak pulang ke rumah selama bertugas di rawat inap. Saat ini dia indekos dan menghabiskan banyak waktu di rumah sakit. ’’Kalau pulang, saya takut membawa virus. Jadi, kalau selesai bertugas, saya isolasi diri di kos,’’ ucapnya. [] JAWAPOS
×
Berita Terbaru Update