Notification

×

Iklan

Iklan

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Jual Beli, Riba dan Bunga

Rabu, 13 Mei 2020 | Mei 13, 2020 WIB | 0 Views Last Updated 2020-05-14T07:43:15Z
abati parfum | Parfum Arab Terbaik

Nama                : Arina Manasikana
NPM                  : 1851030188
Prodi                 : Akuntansi Syariah
Mata Kuliah     : Manajemen Keuangan Syariah
Dosen Pengampu : Dr. Muhammad Iqbal Fasa,M.E.I

TamiangNews.com | Saat ini dunia sedang digemparkan dengan virus yang tersebar di 209 Negara Indonesia. Virus ini menyerang seluruh kalangan dimulai dari masyarakat bawah hingga masyarakat kelas atas. 
ata terbaru pada Kamis (16/4/20) pukul 12.00 WIB pasien positif Covid-19 mencapai 5.516 orang. 

Pandemi ini tentu saja sangat berdampak terhadap perekonomian Negara terutama pada aktivitas jual beli yang semakin kacau akibat Panic Buying yang tentu saja dapat memicu munculnya Riba dan Bunga.
Ada beberapa alasan yang menjadikan Covid-19 dapat merusak aktivitas ekonomi Negara. 

Alasan pertama karena  adanya Covid-19 yang mengharuskan dilakukannya Lockdown mengakibatkan kepanikan pada masyarakat. 

Salah satunya adalah aksi Panic Buying yang mengakibatkan masyarakat memborong sembako, masker, hand sanitizer, dan sabun. 

Hal ini tentu mengakibatkan langkanya persediaan sehingga harga melonjak tinggi dan tidak wajar tentu memicu munculnya Riba dalam transaksi jual beli. 

Ada beberapa pihak yang memanfaatkan momen ini dan sengaja menjual barang-barang kebutuhan dengan harga yang sangat tinggi. Harga yang sangat tinggi inilah yang menjadi faktor munculnya Riba dalam jual beli. 

Alasan yang kedua yaitu wabah Covid-19 membuat masker menjadi langka. 

Kepanikan membuat masyarakat melakukan aksi menimbun masker sehingga mereka yang memerlukan justru tidak mendapatkan masker. 

Aksi ini dalam Islam dikenal dengan  istilah Ihtikar, yakni tindakan menyimpan atau menimbun harta yang tidak ingin dijual atau diberikan kepada orang lain. 

Hal ini tentu dapat mengakibatkan kacaunya perekonomian pada harga masker. Harga sekotak masker medis di Jakarta terpantau telah menembus angka hingga Rp.300.000 yang sangat melonjak dari angka normal yang biasanya hanya Rp.20.000–Rp.25.000.

Hal ini tentu mengakibatkan sebagian masyarakat terjerumus dalam Riba dan Bunga karena keterpaksaan untuk memenuhi kebutuhannya.
Alasan yang terakhir karena Lockdown sudah diberlakukan maka banyak yang harus berhenti dari pekerjaannya, seperti pedagang kaki lima dan buruh-buruh yang di PHK. 

Mereka tentu tidak memperoleh penghasilan namun kebutuhan hidup tetap harus dipenuhi, sehingga banyak dari mereka yang terpaksa harus meminjam uang pada Rentenir dengan bunga yang tinggi. Karena hanya Rentenirlah yang mau memberikan pinjaman pada masa krisis seperti ini.

Untuk mengatasi masalah-masalah diatas, diperlukan aksi dari pemerintah seperti: tindakan tegas dalam pembatasan pembelian sembako dan masker serta memberi peringatan dan sanksi bagi pelanggar, serta memberikan Bantuan Langsung Tunai kepada masyarakat yang mengalami PHK.[]


×
Berita Terbaru Update