Munculnya wabah virus corona atau sars cov 2 ditengah-tengah masyarakat sungguh menyita perhatian.
Dampak yang terlihat tidak hanya mempengaruhi kesehatan masyarakat tetapi turut mempengaruhi perekonomian dunia.
Adanya wabah virus corona maka dilalukanlah sosial distancing (jarak sosial) atau lebih dikenal dengan upaya Lokcdown (karantina mandiri).
Hal ini juga memberikan dampak terhadap perusahaan perseorangan. Dengan demikian, upaya diterapkannya sosial distancing atau lokcdown yang berimbas langsung terhadap penurunan drastis ekonomi perusahaan perseorangan.
Karena setiap warga, mahasiswa, dan murid sekolah pun diliburkan agar tetap berada didalam rumah, akibatnya perusahaan perseorangan terhambat dalam penjualan dan kegiatan produksi.
Maka secara tidak langsung tidak ada proses transaksi dan peredaran uang makin langka, sedangkan kebutuhann dan gaya hidup tetap berjalan yang akhirnya hidup konsumtif dengan anjuran lokcdown.
Dampak lain dari adanya wabah virus corona ini terutama daerah zona merah contohnya di Jakarta yang dilansir menjadi tempat peyebaran virus corona.
Pemerintah Jakarta menerapkan sistem Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang bertujuan untuk mengurangi penyebaran virus corona.
Sistem ini dapat merugikan para pedagang. Misalnya pedagang pakaian, toko material, bengkel, laundry, dan sebagainya kecuali penjual bahan pokok yang hanya perbolehkan untuk membuka tokonya selian penjual bahan pokok tidak diperbolehkan membuka toko akibatnya para pedagang merasa dirugikan karena tidak memperoleh pendapatan.
Bahkan ada perusahaan perseorangan yang hampir menutup usahanya karena omsetnya dari hari kehari selalu menurun karena pandemi virus corona.
Misalnya, seperti rumah makan dan pedagang kaki lima yang merasakan dampak dari virus ini yang biasanya ramai sekarang menjadi sepi.
Karena orang-orang tidak keluar rumah dan menghindari keramaian agar tidak terpapar virus corona, sehingga ada sebagian rumah makan yang memilih untuk tutup dari pada mengalami kerugian yang semakin besar karena pendapatan yang menurun setiap harinya dan ada juga yang tetap buka karna untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya pada situasi pandemi virus corona saat ini.
Meskipun begitu, ada beberapa faktor yang membuat usaha mikro masih bisa bertahan ditengah wabah virus corona.
Umumnya usaha mikro menghasilkan barang konsumsi dan jasa yang dekat dengan kebutuhan masyarakat.
Pendapatan masyarakat menurun drastis tidak berpengaruh terhadap permintaan barang dan jasa yang dihasilkan.
Misalkan, para penjahit membuat masker dalam situasi pandemi virus corana pada saat ini. Karena, langkanya masker dan harga yang tinggi di atas harga normal dikarenakan banyak orang yang menimbun masker, dan tingginya permintaan masker sedangkan persediaan masker yang ada tidak dapat memenuhi permintaan masker yang begitu tinggi pada situasi pandemi corona saat ini.
Maka mikro, seperti para penjahit membuat membuat masker kain agar bisa menstabilkan pendapatan perekonomiannya.
Pengirim :
Catur Wiyati
Prodi : Akuntansi Syariah
Mata Kuliah : Manajemen Keuangan Syariah
Dosen Pengampu: Dr. Muhammad Iqbal Fasa,M.E.I
![]() |
| Foto : Ilustrasi |
Adanya wabah virus corona maka dilalukanlah sosial distancing (jarak sosial) atau lebih dikenal dengan upaya Lokcdown (karantina mandiri).
Hal ini juga memberikan dampak terhadap perusahaan perseorangan. Dengan demikian, upaya diterapkannya sosial distancing atau lokcdown yang berimbas langsung terhadap penurunan drastis ekonomi perusahaan perseorangan.
Karena setiap warga, mahasiswa, dan murid sekolah pun diliburkan agar tetap berada didalam rumah, akibatnya perusahaan perseorangan terhambat dalam penjualan dan kegiatan produksi.
Maka secara tidak langsung tidak ada proses transaksi dan peredaran uang makin langka, sedangkan kebutuhann dan gaya hidup tetap berjalan yang akhirnya hidup konsumtif dengan anjuran lokcdown.
Dampak lain dari adanya wabah virus corona ini terutama daerah zona merah contohnya di Jakarta yang dilansir menjadi tempat peyebaran virus corona.
Pemerintah Jakarta menerapkan sistem Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang bertujuan untuk mengurangi penyebaran virus corona.
Sistem ini dapat merugikan para pedagang. Misalnya pedagang pakaian, toko material, bengkel, laundry, dan sebagainya kecuali penjual bahan pokok yang hanya perbolehkan untuk membuka tokonya selian penjual bahan pokok tidak diperbolehkan membuka toko akibatnya para pedagang merasa dirugikan karena tidak memperoleh pendapatan.
Bahkan ada perusahaan perseorangan yang hampir menutup usahanya karena omsetnya dari hari kehari selalu menurun karena pandemi virus corona.
Misalnya, seperti rumah makan dan pedagang kaki lima yang merasakan dampak dari virus ini yang biasanya ramai sekarang menjadi sepi.
Karena orang-orang tidak keluar rumah dan menghindari keramaian agar tidak terpapar virus corona, sehingga ada sebagian rumah makan yang memilih untuk tutup dari pada mengalami kerugian yang semakin besar karena pendapatan yang menurun setiap harinya dan ada juga yang tetap buka karna untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya pada situasi pandemi virus corona saat ini.
Meskipun begitu, ada beberapa faktor yang membuat usaha mikro masih bisa bertahan ditengah wabah virus corona.
Umumnya usaha mikro menghasilkan barang konsumsi dan jasa yang dekat dengan kebutuhan masyarakat.
Pendapatan masyarakat menurun drastis tidak berpengaruh terhadap permintaan barang dan jasa yang dihasilkan.
Misalkan, para penjahit membuat masker dalam situasi pandemi virus corana pada saat ini. Karena, langkanya masker dan harga yang tinggi di atas harga normal dikarenakan banyak orang yang menimbun masker, dan tingginya permintaan masker sedangkan persediaan masker yang ada tidak dapat memenuhi permintaan masker yang begitu tinggi pada situasi pandemi corona saat ini.
Maka mikro, seperti para penjahit membuat membuat masker kain agar bisa menstabilkan pendapatan perekonomiannya.
Pengirim :
Catur Wiyati
Prodi : Akuntansi Syariah
Mata Kuliah : Manajemen Keuangan Syariah
Dosen Pengampu: Dr. Muhammad Iqbal Fasa,M.E.I


