Notification

×

Iklan

Iklan

Aplikasi Usaha dan Doa dalam Takdir Allah di Kehidupan Sehari-Hari

Minggu, 26 Desember 2021 | Desember 26, 2021 WIB | 0 Views Last Updated 2021-12-26T03:00:04Z
abati parfum | Parfum Arab Terbaik

Inna Zulfa Maula Mahasiswa Semester 1 Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan Institut Agama Islam Negeri Pekalongan  

TamiangNews.com -- Iman dan Islam merupakan landasan dasar bagi setiap manusia yang mengakui dan menyakini bahwa ia beragama islam, maka sebagai umat beragama islam mengimplementasikan Rukun Islam yang sesuai dan diperintahkan syariat yakni dengan mengucapkan syahadat, melaksanakan sholat, menunaikan zakat, melakukan puasa, dan haji bagi yang mampu. Selain itu, setiap manusia muslim yang beriman maka harus menyakini serta beriman pada 6 rukun iman yang salah satunya iman kepada qodho qodar Allah. 


Qodho qodar Allah atau yang dikenal dengan takdir merupakan ketentuan dan ketetapan dari Allah untuk setiap makhluk-Nya. Qodho qodar itu berupa kehidupan manusia di dunia baik rezeki, jodoh dan mati yakni kembalinya manusia pada kehidupan yang hakiki. Tetapi, terkadang manusia lupa akan hal itu hingga menyebabkan pada hal-hal negatif bahkan terjerumus pada kemusyrikan yakni suatu perbuatan yang mengingkari Allah sebagai pencipta semesta alam. Seperti contoh, ketika manusia mengalami kehidupan tingkat menengah ke bawah atau miskin dengan pekerjaan dan penghasilan yang kurang maka seolah dalam hati dan pikirannya takdir atau nasibnya buruk bahkan berpikir bahwa Allah tidak sayang kepadanya. Sama halnya, ketika seseorang mengalami kecelakaan atau mempunyai penyakit yang sudah tidak bisa diharapkan kesembuhannya akan berpikir bahwa Allah tidak sayang kepadanya dan kematian menjadi takdirnya, maka disitu keimanan seseorang yang mengalami kehidupan seperti itu sedang diuji. Apakah orang tersebut akan tetap berusaha semaksimal mungkin dan menyerahkan usahanya kepada Allah ? atau justru dia memilih jalan alternatif lain dengan mencari bantuan yang dapat menggoyahkan keimanannya ? semua kembali kepada manusia itu sendiri dengan seberapa besar iman dan hatinya menyakini disertai dengan ilmu ketauhidan yang dipelajari dan dikaji oleh guru agama atau di kenal dengan kyai dan ustadz maupun pengalaman spiritual yang pernah dialaminya. Pada hakikatnya ketika manusia telah mengucapkan syahadat dan mengatakan dia beragama islam dengan sudah menjalani perintah - perintah Allah dan menjauhi larangan - laranganNya maka dari itu pula manusia sanggup menjalani kehidupannya dengan tetap berusaha semaksimal mungkin dan menyerahkan hasil usahanya kepada Allah Sang Maha Kuasa. 


Sebagaimana firman Allah dalam kitab suci Alquran yang artinya : Allah tidak akan membebani hambaNya melampaui batasan yang mampu dilakukannya.(Q.S. Al Baqoroh :286) dengan penjelasan Allah akan memberi pahala bagi orang yang mengerjakan kebaikan dan Allah akan memberikan siksa bagi orang yang melakukan keburukan. Begitu juga seseorang yang berusaha dan bekerja keras dan maksimal untuk mencukupi kehidupan dan kebutuhan baik diri sendiri, keluarga atau orang-orangg yang menjadi tanggungannya, sembari berikhtiar serta berdoa dan sujud dalam waktu sholatnya maka tawakkal atau pasrah serta husnudzon kepada Allah menjadi jalan yang tepat. Karena Allah itu sesuai dengan prasangka seorang hambaNya. 


Sebagaimana sifat-sifat dan nama – nama Allah yang berjumlah 99 atau disebut dengan Asmaul Husna diantaranya Yang Maha Pengasih , Yang Maha Penyayang, Yang Maha Kuasa bukti dari itu semua bisa kita rasakan oleh semua makhlukNya baik berupa manusia , hewan ataupun tumbuhan. Dimulai dari alam atau langit Allah mampu membuat matahari terbit dan tenggelam di waktu malam dengan perputaran waktu siang dan malam yang konsisten. Allah juga memberikan sumber makanan untuk makhluk Allah yang sempurna dan menjadi khalifah atau pimpinan di bumi yakni manusia dengan memanfaatkan makhluk Allah yang lain yakni tumbuhan dan hewan. 


Di bumi sendiri Allah menciptakan bumi yang tepat dengan segala fasilitas yang sudah di sediakan oleh Allah. Dengan tumbuhan dan hewan kasih sayang Allah berupa memberikan makanan dengan cara sendiri dan memanfaatkan alam, dan masih banyak kekuasaan dan keajaiban Allah yang lain. 


Menyakini atau beriman kepada qodho dan qodar merupakan iman yang keenam.Qodho dan qodar atau yang sering dikenal dengan takdir adalah ketetapan perbuatan manusia yang telah ditentukan sejak zaman azali, sebelum ia lahir ke dunia; di sisi lain manusia mempunyai kebebasan dalam menentukan kemauan dan perbuatan yang hendak dilakukannya, walaupun tetap ada keterbatasan sesuai kodratnya sebagai manusia. Sedangkan, di dunia Barat dikenal dengan istilah Free Will and Predestination. Atau takdir bisa diartikan sebagai mewujudkan sesuatu dalam bentuk tertentu kemudian mewujudkan sesuatu tersebut sesuai dengan tujuan,makna dan hikmahnya atau menetapkan amalan sesuai kadar kemampuan setiap makhluk sesuai iradahNya. Peristiwa-peristiwa yang terjadi di alam raya ini, dan sisi kejadiannya, dalam kadar atau ukuran tertentu, pada tempat dan waktu tertentu, dan itulah yang disebut takdir. Tidak ada sesuatu yang terjadi tanpa takdir, termasuk manusia. Peristiwa-peristiwa tersebut berada dalam pengetahuan dan ketentuan Tuhan, yang keduanya menurut sementara ulama dapat disimpulkan dalam istilah sunnatullah, atau yang sering secara salah kaprah disebut ‘hukum -hukum alam".


Takdir adalah ketetapan Allah dalam segala sesuatu yang ada pada makhlukNya seperti sifat,perbuatan baik dan buruk dan lain-lain sebagai iradahNya itu ditetapkan didalam lauh mahfudz jauh sebelum zaman azali. Zaman azali sendiri zaman dimana langit dan bumi diciptakan karena pencatatan takdir itu sesuai dengan qalamullah dan karena apa yang telah diketahuiNya itu pasti terjadi. Takdir atau qodho qodar Allah bukan lah ketetapan yang tidak atau menjadi penghambat manusia untuk melakukan sesuatu di dunia untuk kehidupan abadi yakni akhirat. Maka dari itu agama mengajarkan bahwa usaha dan doa merupakan salah satu menyakini dan mengaplikasi qodho dan qodar Allah karena manusia sendiri adalah makhluk Allah yang sempurna.


Seperti halnya penetapan takdir bahagia ,sengsara, rizki, ajal dan amal untuk setiap manusia memang sudah menjadi ketetapan Allah baik berupa kehidupan di dunia ataupun diakhirat seperti kapan seseorang itu dihidupkan dan dilahirkan di dunia, dalam kondisi seperti apa (bahagia atau sengsara ) manusia hidup di dunia atau di akhirat atau bagaimana keadaan seseorang ketika meninggal di dunia dan lain-lain semuanya sesuai dengan iradah Allah. Sementara apa yang kita lihat dan kita rasakan itu hanyalah dhahir yang kita tidak pernah tahu dan tidak pernah kita ketahui apa yang sebenarnya terjadi dan bagaimana akhir dari kehidupan manusia. 


Dan sebagai manusia dan berumat islam yang beriman dan bermoral tinggi maka kita harus menyakini dan bertawakkal terhadap apa yang telah terjadi pada diri kita sebagai iradah Allah serta senantiasa tidak memvonis terhadap peristwa apapun yang telah terjadi pada diri kita atau pada seseorang karena hanya Allah lah yang Maha Mengetahui dan Maha Menetapkan atas peristiwa itu. Maka dengan itu kita perlu adanya usaha dan doa dalam kehidupan sehari-hari sebagai aplikasi keimanan kita terhadap qodho dan qodar Allah atau takdir. 


Usaha menurut KBBI yakni kegiatan dengan mengerahkan tenaga,pikiran,atau badan untuk mencapai suatu maksud , cita-cita atau pekerjaan. Sedangkan doa ,menurut KBBI permohonan baik berupa harapan,permintaan, pujian kepada Allah. Dengan demikian manusia sebagai makhluk sosial dan beragama islam perlu adanya usaha dalam mengerahkan tenaga, pikiran atau badan untuk mencapai tujuan dan keinginan, senantiasa bersungguh-sungguh dalam berusaha dan beramal serta selalu dibarengi dengan doa kepada Allah sebagai permohonan yakni harapan, permintaaan kita agar tujuan tersebut tercapai sesuai yang kita inginkan. Dan Rosulullah telah mengisyaratkan kepada kita agar tidak berpasrah atau berputus asa begitu saja terhadap takdir karena manusia sendiri memiliki peran penting dan dipermudah dalam setiap amalan mereka baik untuk kebahagiaan dunia atau kebahagiaan akhirat dan manusia akan terhina bila terjerumus kedalam amalan-amalan yang tidak disukai oleh Allah. 


Akhir kata kita sebagai manusia makhluk sosial dan umat Islam serta umat Nabi Muhammad selalu berusaha sekuat tenaga dalam hal positif atau cita-cita dan berdoa sepenuhnya kepada Allah baik dalam hal dunia atau akhirat. *** 

×
Berita Terbaru Update