Notification

×

Iklan

Iklan

Urgensi Pancasila Sebagai Upaya Preventif Krisis Moralitas Generasi Muda

Selasa, 26 Maret 2024 | Maret 26, 2024 WIB | 0 Views Last Updated 2024-03-26T05:09:45Z
abati parfum | Parfum Arab Terbaik

Foto : ILUSTRASI

TULISAN ini berawal dari keresahan penulis ketika melihat dan membaca berita mengenai penyimpangan yang tidak jarang melibatkan generasi muda. Seolah-olah tindakan negatif yang dilakukan berulang dianggap normal terjadi, padahal munculnya penyimpangan dapat disebabkan oleh krisis moralitas pada generasi muda.


Saat ini kita telah memasuki abad ke-21 yang ditandai sebagai abad keterbukaan atau abad globalisasi. Kehidupan di masa sekarang mengalami perubahan fundamental yang pastinya berbeda dengan tata kehidupan dari abad sebelumnya. Dalam abad globalisasi, para generasi muda dituntut untuk turut serta bertransormasi dalam beberapa hal yang berdampak positif. Namun, tidak menutup kemungkinan secara langsung ataupun tidak langsung dampak negatif juga ikut mengiringinya. Karakter bangsa yang semakin menurun dari waktu ke waktu telah menjadi pembicaraan serius, mulai dari kalangan rakyat biasa, pejabat, dan kepala negara. Karakter bangsa juga tidak hanya menjadi isu lokal dan nasional, tetapi juga telah menjadi isu global (Suryadi, 2017). Indonesia yang dianggap kental dengan kesopanan dan keramah-tamahannya oleh bangsa lain, kini harus menerima fakta bahwa bangsa kita sedang tidak baik-baik saja, bangsa kita sedang dilanda krisis etika yang cenderung terjadi pada generasi muda.


Pembentukan karakter menjadi hal yang sangat penting saat ini karena banyak perilaku bangsa yang dipertanyakan keabsahannya sebagai karakter bangsa terlebih adanya pergeseran zaman menuju arus globalisasi (mustika, 2013). Generasi muda tidak jarang terbawa arus globalisasi dan gaya hidup yang bertolak belakang dengan karakter bangsa. Secara tidak sadar mereka mulai mengabaikan nilai dan norma masyarakat. Akibatnya, karakter asli Bangsa Indonesia mengalami kemunduran karena terjadi pengikisan nilai-nilai Pancasila dalam kepribadian mereka. Terdapat beberapa faktor yang menyebabkan krisis moral antara lain, kurang harmonisnya keluarga yang mengganggu kesejahteraan mental dan psikologi anak, peraturan sekolah yang lemah dan bimbingan konseling yang tidak berjalan dengan baik, spiritualitas pribadi yang lemah, budaya buruk di lingkungan sekitar, serta penyalahgunaan teknologi.


Krisis moralitas yang tak kunjung diatasi dapat mengakibatkan penyimpangan negatif, timbulnya penyimpangan negatif dapat terjadi karena beberapa masalah, antara lain maraknya tingkat kekerasan di kalangan pemuda, adanya kecenderungan sikap ketidakjujuran yang makin membudaya, berkembangnya rasa tidak hormat kepada orang tua, guru, dan orang-orang sekitar, sikap kebencian antar pemuda, penggunaan bahasa Indonesia yang kian memburuk, kecenderungan mengadopsi budaya asing, melemahnya nasionalisme dan patriotisme, mengendapnya semangat kebangsaan, meningkatnya sikap pragmatisme dan hedonisme, serta kaburnya pedoman ajaran agama.


Sudah menjadi suatu kewajiban bagi generasi muda untuk menjaga moralitas demi transformasi ke arah yang lebih baik bagi Bangsa Indonesia. Pancasila sebagai Way of Life dapat dijadikan pedoman generasi muda dalam beretika dan mencegah degradasi moral terutama dalam menjalankan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, serta bernegara. Setiap sila mempunyai kandungan nilai yang menjadi tolak ukur baik buruknya, keabsahan bertindak, dan berperilaku sesuai tuntunan. Nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan, dan keadilan, harus terus melekat dalam jati diri generasi muda. Oleh karena itu, penulis mengajak para generasi muda melalui tulisan ini untuk perlahan-lahan menjunjung moral dan etika ke arah yang lebih baik sesuai dengan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila.[]


Pengirim :

Erma Nur Malasari, Mahasiswa Departemen Pendidikan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial, Hukum, dan Ilmu Politik, Universitas Negeri Yogyakarta, email : ermanur.2023@student.uny.ac.id

×
Berita Terbaru Update