![]() |
| Foto (Ilustrasi AI/TamiangNews) |
Komunikasi merupakan aktivitas yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia. Setiap hari, manusia berkomunikasi untuk menyampaikan ide, perasaan, maupun pendapat kepada orang lain. Namun, dalam praktiknya, komunikasi sering kali tidak berjalan sebagaimana mestinya. Banyak kesalahpahaman muncul bukan karena pesan yang disampaikan tidak jelas, melainkan karena komunikasi dilakukan tanpa mempertimbangkan perasaan pihak lain. Oleh sebab itu, komunikasi dengan hati menjadi pendekatan yang penting untuk dipahami dan diterapkan.
Teori komunikasi dengan hati menekankan bahwa komunikasi tidak cukup hanya mengandalkan logika dan kata-kata. Komunikasi yang efektif juga melibatkan emosi, empati, serta ketulusan dari pihak yang berkomunikasi. Dalam pendekatan ini, keberhasilan komunikasi tidak hanya diukur dari tersampaikannya pesan, tetapi dari sejauh mana pesan tersebut dapat diterima dan dipahami secara emosional oleh penerima.
Salah satu unsur utama dalam komunikasi dengan hati adalah empati. Empati memungkinkan seseorang memahami perasaan dan sudut pandang orang lain tanpa harus menghakimi. Ketika seseorang mampu berempati, ia akan lebih berhati-hati dalam memilih kata, nada bicara, serta sikap yang ditunjukkan. Hal ini membuat komunikasi terasa lebih hangat dan tidak menimbulkan jarak emosional antara kedua belah pihak.
Selain empati, kejujuran dan ketulusan juga memegang peranan penting. Komunikasi yang dilakukan dengan niat baik dan tanpa kepura-puraan cenderung lebih mudah diterima. Ketulusan dalam berbicara menciptakan rasa percaya, yang menjadi dasar terbentuknya hubungan komunikasi yang sehat. Tanpa adanya rasa percaya, komunikasi sering kali berubah menjadi formal, kaku, bahkan penuh prasangka.
Komunikasi dengan hati juga menuntut kemampuan mendengarkan secara aktif. Mendengarkan bukan hanya sekadar mendengar kata-kata, tetapi juga memahami makna dan perasaan di baliknya. Dengan mendengarkan secara sungguh-sungguh, seseorang menunjukkan penghargaan terhadap lawan bicaranya. Sikap ini dapat menciptakan suasana dialog yang lebih terbuka dan saling menghargai.
Dalam kehidupan sehari-hari, penerapan komunikasi dengan hati sangat relevan, baik dalam lingkungan keluarga, pertemanan, pendidikan, maupun dunia kerja. Pendekatan ini membantu mengurangi konflik, memperkuat hubungan sosial, serta menciptakan komunikasi yang lebih manusiawi. Dengan demikian, teori komunikasi dengan hati bukan hanya sebuah konsep teoretis, tetapi juga pedoman praktis untuk membangun hubungan yang harmonis dan bermakna.[]
Penulis :
Muhammad Dafa Nasyan, mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Pamulang


