Notification

×

Iklan

Iklan

Tradisi Kritis Warisan Intelektual untuk Masyarakat yang Berdaya

Sabtu, 03 Januari 2026 | Januari 03, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-01-03T08:16:08Z
abati parfum | Parfum Arab Terbaik

Foto/ILUSTRASI

Di era ketika informasi mengalir tanpa henti dan perubahan terjadi begitu cepat, kemampuan berpikir secara kritis menjadi semakin penting. Namun, sikap kritis tidak muncul dengan sendirinya. Ia terbentuk melalui proses panjang yang melibatkan kebiasaan berpikir, nilai-nilai intelektual, serta praktik sosial yang terus dijaga. Oleh karena itu, tradisi kritis memiliki peran besar sebagai fondasi pembentuk masyarakat yang tidak mudah terpengaruh.


Tradisi kritis merupakan kebiasaan bersama untuk tidak langsung menerima suatu informasi atau gagasan tanpa pertimbangan. Di dalamnya terdapat proses bertanya, menganalisis, dan menilai secara rasional. Bersikap kritis bukan berarti selalu menolak atau bersikap negatif, melainkan berusaha memahami persoalan dari berbagai sudut pandang. Masyarakat yang menjunjung tradisi ini biasanya lebih terbuka terhadap perbedaan pendapat dan menjadikannya sebagai sarana pembelajaran.


Jika ditelusuri, masyarakat Indonesia sebenarnya memiliki akar tradisi kritis sejak lama. Praktik diskusi, musyawarah, serta dialog dalam kehidupan sosial menunjukkan adanya kebiasaan berpikir reflektif. Namun, perkembangan teknologi dan budaya instan membuat tradisi tersebut perlahan memudar. Banyak orang lebih memilih mengikuti arus opini umum dibandingkan melakukan penelusuran dan pemikiran mendalam.


Fenomena ini tampak jelas di media sosial. Informasi yang belum tentu benar dapat menyebar luas karena diterima tanpa sikap kritis. Kurangnya kebiasaan membaca secara menyeluruh dan memeriksa sumber membuat masyarakat rentan terhadap disinformasi dan konflik opini. Hal ini menegaskan bahwa tradisi kritis harus dibangun melalui praktik nyata, bukan sekadar wacana.


Peran dunia pendidikan menjadi sangat penting dalam hal ini. Lembaga pendidikan idealnya menjadi tempat yang mendorong kebebasan berpikir, dialog terbuka, dan keberanian menyampaikan pendapat dengan alasan yang jelas. Ketika proses belajar hanya berfokus pada menghafal dan mengikuti aturan tanpa ruang bertanya, kemampuan berpikir kritis akan terhambat.


Selain itu, tradisi kritis juga berkaitan erat dengan kehidupan demokratis. Masyarakat yang kritis cenderung lebih rasional dalam menilai isu politik dan kebijakan publik. Mereka tidak mudah terpengaruh oleh propaganda atau janji yang tidak realistis. Dengan sikap tersebut, kualitas demokrasi dapat terjaga karena keputusan diambil berdasarkan kesadaran dan kepentingan bersama.


Merawat tradisi kritis berarti menumbuhkan keberanian untuk berpikir secara mandiri dan bertanggung jawab. Upaya ini memerlukan komitmen bersama melalui budaya diskusi, peningkatan literasi, dan sikap saling menghargai perbedaan. Dengan begitu, tradisi kritis dapat terus berkembang dan menjadi kekuatan utama dalam menghadapi tantangan zaman.[] 


Penulis :

Lulu Fitria, Mahasiswi Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Pamulang

×
Berita Terbaru Update