
Foto : ILUSTRASI
Pendidikan dalam
Gempuran Konten Singkat
Saat ini, dunia
pendidikan menghadapi tantangan besar yang dikenal sebagai "ekonomi
perhatian. " Generasi Z, yang tumbuh dengan kehadiran media sosial, sudah
terbiasa dengan informasi yang cepat dan singkat ini yang kita sebut sebagai
era scroll. Untuk menanggapi hal ini, pendekatan pendidikan perlu
disesuaikan agar tetap relevan bagi para pelajar.
Strategi Adaptasi Pembelajaran
Agar proses
belajar menarik bagi Gen Z, para pendidik harus menerapkan pendekatan yang
dapat bersaing dengan daya tarik konten digital: 1) Mereka
mampu berpindah dari satu informasi ke informasi lainnya dengan cepat, tetapi
sering kali kesulitan untuk berkonsentrasi dalam waktu lama (deep work); 2) Mereka lebih memilih mencari
informasi sendiri melalui mesin pencari atau kecerdasan buatan ketimbang
menunggu instruksi dari orang lain; dan 3) Daya tangkap mereka terhadap
informasi dalam bentuk visual jauh lebih baik dibandingkan dengan teks yang
panjang dan padat.
Kelebihan dan Kekurangan Strategi Digital
Kelebihan Strategi Digital : 1) Siswa
menjadi lebih handal dalam menyaring informasi dengan cepat; 2) Pembelajaran
menjadi sangat fleksibel dan menarik; dan 3) Akses ke referensi global sangat
mudah hanya dengan satu klik.
Selain kelebihan strategi digital ini
juda di nilai memiliki Kekurangan sebagai berikut : 1) Ada risiko
information overload yang menyebabkan kebingungan akibat terlalu banyak
data; 2) Kemampuan siswa dalam membaca teks panjang dan mendalam dapat
berkurang; dan 3) Ketergantungan yang tinggi pada teknologi dan algoritma.
Kesimpulan
Menghadapi Gen Z di era scroll bukan berarti kita harus mengabaikan teknologi, melainkan bagaimana kita mengelolanya agar menjadi alat penghubung pengetahuan. Pendidikan harus dapat bertransformasi menjadi lebih dinamis agar konsentrasi belajar siswa tetap terjaga di tengah banyaknya distraksi digital.
Refleksi
Sebagai bagian dari generasi yang
tumbuh dalam masa transisi ini, saya merasa bahwa "era scroll"
menghadirkan dua sisi. Di satu pihak, kita memiliki akses informasi yang amat
mudah. Namun, di sisi lain, ada ancaman kehilangan kedalaman berpikir jika kita
hanya terpaku pada informasi yang tersaji sekilas di layar.
Menurut saya, strategi yang tepat
adalah tetap memanfaatkan teknologi sembari tidak meninggalkan sisi
kemanusiaan. Pendidikan bukan hanya mengenai transfer data secepat internet,
tapi juga tentang menanamkan kebijaksanaan dalam pemrosesan data tersebut. Kita
perlu belajar untuk "berhenti sejenak" di tengah arus konten agar
konsentrasi kita tidak terserap sepenuhnya oleh algoritma.[]
Penulis :
Unaisah, mahasiswi semester 2 STITMA
Yogyakarta, Email: unaisahunaisah84@gmail.com

