TamiangNews.com, ACEH TAMIANG -- Direktur Jenderal (Dirjen) Perikanan Budidaya pada Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Slamet Soebijakto menegaskan, kejayaan Provinsi Aceh khususnya Kabupaten Aceh Tamiang yang terkenal sebagai sentra penghasil udang terbaik di Indonesia dan se Asia Tenggara pada tahun 1980-an, harus dibangkitkan kembali.
"Terutama di Aceh terkenal dengan induk udang windunya yang berkualitas dan kuat, serta potensi produksinya yang tinggi, saat ini harus dilakukan re-stocking guna menghindari kepunahan populasinya," ujar Slamet, Sabtu, (16/4) usai melakukan penebaran perdana tokolan udang windu dan benih udang galah, di perairan dan tambak Pusung Kapal, Kecamatan Seruway.
Slamet mengatakan, untuk kebangkitan dan mengembalikan kejayaan Aceh sebagai derah penghasil udang terbesar di Indonesia, pemerintah telah berkomitmen untuk memperkaya kembali populasi tersebut dengan menebar benih udang, sebanyak enam juta ekor di Aceh dimulai di Aceh Tamiang.
"Termasuk juga masyarakatnya akan diberikan program pelatihan untuk budidaya udang windu. Sehingga induk udang windu terhindar dari kepunahan," ucapnya.
Selain benih udang yang ditebarkan di perairan umum, kata Slamet, diharapkan induk udang dalam budidaya tambak juga dilakukan sesuai dengan ketentuan dan mekanisme pemeliharaan serta perawatannya.
"Kesadaran masyarakat untuk memelihara lingkungan dengan baik, dan pemerintah daerah harus membuat peraturan sehingga benih yang baru ditebar tidak mudah punah serta sia-sia," katanya lagi.
Dijelaskannya, pemerintah juga berkeinginan mengembangkan komunitas asli induk udang windu di Aceh yang pernah jaya di tahun 1984.
Mengingat faktanya saat dia bertugas di daerah Pare-Pare, Sulawesi Selatan berkisar tahun 1984, ada pihak yang berusaha memalsukan induk udang windu Aceh. Padahal induk tersebut berasal dari Jawa, dikirimkan dari sana ke Medan kemudian dikirim lagi ke Pare-Pare.
"Sebagai pengguna saat itu kami percaya saja. Ini pengalaman kami saat itu," kilas Slamet.
Yang terpenting, sambungnya, dilakukan penelitian dan persiapan program dalam rangka meningkatkan bibit unggul udang yang bebas penyakit. Karena udang di Indonesia diketahui tidak ada yang bebas penyakit, termasuk yang ada di Aceh.
"Sekarang ini pemerintah telah melakukan berbagai upaya dalam mengantisipasi terjangkitnya penyakit udang, terutama yang telah ditebarkan ini dan diberikan kepada masyarakat, sudah melalui pemeliharaan dan perawatan serta pengecekan laboratorium," papar Slamet.
Untuk menjaga budidaya udang bebas virus dan berkelanjutan, Dirjen berharap kelompok budiaya agar menjaga bio security di sekitar kawasan, termasuk menjaga air tetap baik, serta menentukan musim tebar induk dan musim panen sehingga tidak terjadi over produksi.
Dan pihaknya, kepada pembudidaya, juga akan memberikan bekal pelatihan untuk memelihara lingkungan, seperti membuat dan memlihara saluran air dan pengelolaan tambak.
"Tahun ini juga akan diberikan bantuan rutin untuk 80 hektare, ini komitmet pemerintah untuk mengembalikan kekayaan potensi perairan di Aceh.
Oleh sebab itu, dengan bantuan 20 induk per meter yang direncanakan berkelanjutan. Ini seiring perlindungan kawasan mangrove, yang jangan sampai dirusak, karena tempat berkumpulnya biota-biota renik," kara Slamet.
Pada kesempatan itu, Bupati Aceh Tamiang H Hamdan Sati mengataan, salah satu faktor menurunnya produksi udang windu dikarenakan rusaknya tambak akibat kurang penanganan dan perbaikan.
"Diharapkan Kementerian Perikanan dan Kelautan dapat memberikan bantuan escvavator untuk tiga daerah pesisir lain," katanya. (indra/medanbisnis)
"Terutama di Aceh terkenal dengan induk udang windunya yang berkualitas dan kuat, serta potensi produksinya yang tinggi, saat ini harus dilakukan re-stocking guna menghindari kepunahan populasinya," ujar Slamet, Sabtu, (16/4) usai melakukan penebaran perdana tokolan udang windu dan benih udang galah, di perairan dan tambak Pusung Kapal, Kecamatan Seruway.
Slamet mengatakan, untuk kebangkitan dan mengembalikan kejayaan Aceh sebagai derah penghasil udang terbesar di Indonesia, pemerintah telah berkomitmen untuk memperkaya kembali populasi tersebut dengan menebar benih udang, sebanyak enam juta ekor di Aceh dimulai di Aceh Tamiang.
"Termasuk juga masyarakatnya akan diberikan program pelatihan untuk budidaya udang windu. Sehingga induk udang windu terhindar dari kepunahan," ucapnya.
Selain benih udang yang ditebarkan di perairan umum, kata Slamet, diharapkan induk udang dalam budidaya tambak juga dilakukan sesuai dengan ketentuan dan mekanisme pemeliharaan serta perawatannya.
"Kesadaran masyarakat untuk memelihara lingkungan dengan baik, dan pemerintah daerah harus membuat peraturan sehingga benih yang baru ditebar tidak mudah punah serta sia-sia," katanya lagi.
Dijelaskannya, pemerintah juga berkeinginan mengembangkan komunitas asli induk udang windu di Aceh yang pernah jaya di tahun 1984.
Mengingat faktanya saat dia bertugas di daerah Pare-Pare, Sulawesi Selatan berkisar tahun 1984, ada pihak yang berusaha memalsukan induk udang windu Aceh. Padahal induk tersebut berasal dari Jawa, dikirimkan dari sana ke Medan kemudian dikirim lagi ke Pare-Pare.
"Sebagai pengguna saat itu kami percaya saja. Ini pengalaman kami saat itu," kilas Slamet.
Yang terpenting, sambungnya, dilakukan penelitian dan persiapan program dalam rangka meningkatkan bibit unggul udang yang bebas penyakit. Karena udang di Indonesia diketahui tidak ada yang bebas penyakit, termasuk yang ada di Aceh.
"Sekarang ini pemerintah telah melakukan berbagai upaya dalam mengantisipasi terjangkitnya penyakit udang, terutama yang telah ditebarkan ini dan diberikan kepada masyarakat, sudah melalui pemeliharaan dan perawatan serta pengecekan laboratorium," papar Slamet.
Untuk menjaga budidaya udang bebas virus dan berkelanjutan, Dirjen berharap kelompok budiaya agar menjaga bio security di sekitar kawasan, termasuk menjaga air tetap baik, serta menentukan musim tebar induk dan musim panen sehingga tidak terjadi over produksi.
Dan pihaknya, kepada pembudidaya, juga akan memberikan bekal pelatihan untuk memelihara lingkungan, seperti membuat dan memlihara saluran air dan pengelolaan tambak.
"Tahun ini juga akan diberikan bantuan rutin untuk 80 hektare, ini komitmet pemerintah untuk mengembalikan kekayaan potensi perairan di Aceh.
Oleh sebab itu, dengan bantuan 20 induk per meter yang direncanakan berkelanjutan. Ini seiring perlindungan kawasan mangrove, yang jangan sampai dirusak, karena tempat berkumpulnya biota-biota renik," kara Slamet.
Pada kesempatan itu, Bupati Aceh Tamiang H Hamdan Sati mengataan, salah satu faktor menurunnya produksi udang windu dikarenakan rusaknya tambak akibat kurang penanganan dan perbaikan.
"Diharapkan Kementerian Perikanan dan Kelautan dapat memberikan bantuan escvavator untuk tiga daerah pesisir lain," katanya. (indra/medanbisnis)

