TamiangNews.com, ACEH TAMIANG - Sejumlah persoalan masih mendera warga pedalaman wilayah hulu Aceh Tamiang. Berbagai kondisi jadi pemandangan miris, yang sudah harus segera diperhatikan guna menjauhkan masyarakat dari imej termarjinalkkan.
Selain persoalan pendidikan, ekonomi masyarakat yang kian terpuruk diperparah lagi dengan belum adanya sentuhan pembangunan dari pemerintah.
Seperti yang dituturkan Wakil Ketua DPRK Aceh Tamiang Nora Idah Nita, Senin (18/4) kepada MedanBisnis, sepanjang perjalanannya melaksanakan reses di dua kampung yakni Baling Karang dan Suka Makmur, Kecamatan Sekerak, melihat raut wajah warga di sana seakan-akan menyimpan harapan akan sentuhan pembangunan infrastruktur, sebagai penopang pertumbuhan ekonomi di sana.
"Warga pedalaman wilayah hulu Tamiang yang berbatasan dengan Aceh Timur itu masih mengalami beragam permasalahan. Jalan yang digunakan warga dalam mengeluarkan hasil kebun dan pertaniannya, sangat memprihatinkan," tutur Nora.
Dari hasil penjaringan aspirasi lewat reses itu, menurut Nora, pihaknya akan berkoordinasi dengan Pemkab Aceh Tamiang.
Berbagai fakta dan temuan serta masukan dari warga akan dijadikan bahan dan pedoman dalam menyusun program pembangunan di tahun mendatang.
Nora memaparkan lagi, dari hasil pertemuannya dengan masyarakat beberapa kampung yang berada di ujung wilayah Aceh Tamiang, juga mendapati potret buram, bahwa taraf hidup warga masih di bawah garis kemiskinan.
Hal tersebut disebabkan lemahnya ekonomi masyarakat, untuk kebutuhan hidup sehari-hari saja masih mengandalkan hasil kebun dan pertanian yang terbatas. Begitu juga lemahnya sumber daya masyarakat, dikarenakan kurangnya tenaga pengajar (guru) serta sarana dan prasarana sekolah.
"Permasalahan sektor pendidikan akan dikomunikasikan dengan Dinas Pendidikan, agar SDN Kampung Baling Karang dapat memperoleh NPSN (Nomor Peserta Sekolah Nasional) dan NITP (Nomor Induk Tenaga Pengajar)," ujar Nora, sembari mengatakan sepanjang reses banyak melalui berbagai tantangan dan rintangan, seperti harus menggunakan transportasi air berupa boat untuk melewati jalur sungai menuju kawasan permukiman.
Dalam pertemuan itu juga, diusulan cetak sawah baru dengan potensi luas lahan sawah sekitar 50 hektare. Hal ini juga akan segera dikoordinasikan dengan Dandim 0104Aceh Timur serta Dishutbun Aceh Tamiang.
Sementara di wilayah Rantau dan Karang Baru, Nora melihat ada banyak potensi usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) berupa produk kerajinan seperti anyaman tepas, anyaman lidi, tas, sepatu, batik lukis dan batik cap, bordir, kue dan budidaya ikan lele.
Terhadap potensi tersebut, Nora menyatakan, perlu sokongan pemerintah melalui program pemberdayaan. Bila memungkinan ini akan diperjuangkan pada APBKP untuk kegiatan seperti pelatihan, pengadaan alat dan bahan, sehingga mampu meningkatkan kualiatas dan kuantitas usaha.
"Kami berkeinginan lahirnya konsep one village one product (satu kampung satu produk unggulan). Membentuk destinasi wisata produk kerajinan UMKM dengan mengajak seluruh instansi, lembaga vertikal dan seluruh masyarakat lokal agar mau membeli serta menggunakan produk UMKM daerah sendiri.
Dengan menanamkan rasa cinta menggunakan produk UMKM lokal, otomatis promosi pun berjalan. Ini harus dimulai dari kita lebih dahulu sebagai masyarakat Aceh Tamiang," demikian Nora. (indra/medanbisnis)
Selain persoalan pendidikan, ekonomi masyarakat yang kian terpuruk diperparah lagi dengan belum adanya sentuhan pembangunan dari pemerintah.
Seperti yang dituturkan Wakil Ketua DPRK Aceh Tamiang Nora Idah Nita, Senin (18/4) kepada MedanBisnis, sepanjang perjalanannya melaksanakan reses di dua kampung yakni Baling Karang dan Suka Makmur, Kecamatan Sekerak, melihat raut wajah warga di sana seakan-akan menyimpan harapan akan sentuhan pembangunan infrastruktur, sebagai penopang pertumbuhan ekonomi di sana.
"Warga pedalaman wilayah hulu Tamiang yang berbatasan dengan Aceh Timur itu masih mengalami beragam permasalahan. Jalan yang digunakan warga dalam mengeluarkan hasil kebun dan pertaniannya, sangat memprihatinkan," tutur Nora.
Dari hasil penjaringan aspirasi lewat reses itu, menurut Nora, pihaknya akan berkoordinasi dengan Pemkab Aceh Tamiang.
Berbagai fakta dan temuan serta masukan dari warga akan dijadikan bahan dan pedoman dalam menyusun program pembangunan di tahun mendatang.
Nora memaparkan lagi, dari hasil pertemuannya dengan masyarakat beberapa kampung yang berada di ujung wilayah Aceh Tamiang, juga mendapati potret buram, bahwa taraf hidup warga masih di bawah garis kemiskinan.
Hal tersebut disebabkan lemahnya ekonomi masyarakat, untuk kebutuhan hidup sehari-hari saja masih mengandalkan hasil kebun dan pertanian yang terbatas. Begitu juga lemahnya sumber daya masyarakat, dikarenakan kurangnya tenaga pengajar (guru) serta sarana dan prasarana sekolah.
"Permasalahan sektor pendidikan akan dikomunikasikan dengan Dinas Pendidikan, agar SDN Kampung Baling Karang dapat memperoleh NPSN (Nomor Peserta Sekolah Nasional) dan NITP (Nomor Induk Tenaga Pengajar)," ujar Nora, sembari mengatakan sepanjang reses banyak melalui berbagai tantangan dan rintangan, seperti harus menggunakan transportasi air berupa boat untuk melewati jalur sungai menuju kawasan permukiman.
Dalam pertemuan itu juga, diusulan cetak sawah baru dengan potensi luas lahan sawah sekitar 50 hektare. Hal ini juga akan segera dikoordinasikan dengan Dandim 0104Aceh Timur serta Dishutbun Aceh Tamiang.
Sementara di wilayah Rantau dan Karang Baru, Nora melihat ada banyak potensi usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) berupa produk kerajinan seperti anyaman tepas, anyaman lidi, tas, sepatu, batik lukis dan batik cap, bordir, kue dan budidaya ikan lele.
Terhadap potensi tersebut, Nora menyatakan, perlu sokongan pemerintah melalui program pemberdayaan. Bila memungkinan ini akan diperjuangkan pada APBKP untuk kegiatan seperti pelatihan, pengadaan alat dan bahan, sehingga mampu meningkatkan kualiatas dan kuantitas usaha.
"Kami berkeinginan lahirnya konsep one village one product (satu kampung satu produk unggulan). Membentuk destinasi wisata produk kerajinan UMKM dengan mengajak seluruh instansi, lembaga vertikal dan seluruh masyarakat lokal agar mau membeli serta menggunakan produk UMKM daerah sendiri.
Dengan menanamkan rasa cinta menggunakan produk UMKM lokal, otomatis promosi pun berjalan. Ini harus dimulai dari kita lebih dahulu sebagai masyarakat Aceh Tamiang," demikian Nora. (indra/medanbisnis)

