Notification

×

Iklan

Iklan

Gitar Buatan Indonesia Diburu Donald Trump Hingga Gun N’ Roses

Rabu, 24 Agustus 2016 | Agustus 24, 2016 WIB | 0 Views Last Updated 2017-10-29T09:20:24Z
abati parfum | Parfum Arab Terbaik
TamiangNews.com, JAKARTA - Pernahkan melihat gambar sejumlah gitaris beken dunia semisal Neil Zaza, Michael Antony atau Stave Vai sedang memegang miniatur gitar? Jangan kaget, jika miniatur-miniatur guitar itu merupakan produk buatan warga Indonesia, yakni kakak beradik Deni Yulianto (24 tahun) dan Pramono (42 tahun).

Warga Manjungan, Klaten, Jawa Tengah itu sudah belasan tahun menekuni usaha kerajinan tangan pembuatan miniatur gitar. Setelah menimba pengalaman membuat kerajinan serupa dari para pengrajin di Yogyakarta, pada 1997 keduanya memutuskan untuk membuka usahanya sendiri.

Meski usahanya sempat terseok-seok lantaran sulitnya meraih pasar dalam negeri tapi Deni dan Pramono tak menyerah. Perlahan-lahan usahanya itu berkembang. Bahkan miniatur gitar buatan mereka itu kini telah merambah negeri Paman Sam. Ini terjadi setelah sebuah perusahaan aksesoris gitar ternama di Amerika mau menjalin kerja sama.

Pada Selasa (23/8) siang, Republika berkesempatan mengunjungi kediaman kakak beradik itu di Manjungan, sebuah kelurahan kecil di Kecamatan Ngawen, sebelah utara dari pusat kota Kabupaten Klaten. Di rumah bercat merah itu, ratusan gitar mini dibuat setiap harinya.

Mengenakan kaos biru dan ceana jeans pendek dengan santai Deni menceritakan kisah perjuangannya menjalankan usaha kerajinan miniatur gitar. Pria yang bercita-cita ingin menjadi tentara itu sempat putus asa lantaran produknya itu tak laku di pasar dalam negeri.

Ia pun sempat menawarkan contoh gitar mininya itu pada sejumlah penyanyi dan gitaris Indonesia. Termasuk musisi kondang Ahmad Dani. Namun tak membuahkan hasil.

“Saya tawarkan miniatur gitar saya dengan harga sekitar 5 dolar AS, tapi dibilang terlalu mahal. Saya tidak masalah,” tutur Deni sambil menunjukan sejumlah gambar mini gitar hasil buatanya mulai dari mini gitar klasik hingga mini gitar elektrik versi Ibanez.

Berbeda dengan perajin mini gitar yang ada disejumlah wilayah seperti Bandung dan Indramayu. Dengan penuh keyakinan, Deni mengatakan mini gitar buatannya itu mempunyai keunikan dan ciri khas tersendiri. Selain itu kualitasnya pun diklaim lebih bagus. Sebab itu pula ia tak mau menjual produknya itu secara eceran pada pedagang.

Deni memilih untuk mencari konsumen dari kalangan musisi hingga pengusaha yang bersedia untuk membeli produknya itu dengan jumlah banyak. Sekitar tahun 2000-an, ia dan kakaknya mencoba untuk menawarkan kerajinannya itu pada perusahaan aksesoris alat musik di Amerika Serikat.

“Kami kirim gambarnya lewat email dan dibalas, tapi mereka minta contohnya langsung dikirim kesana. Karena suka dengan motif dan kualitasnya lalu mereka pesan,” ungkapnya.

Saat ini ia dan perusahaan tersebut telah menjalin kerja sama dalam bentuk kontrak. Kendati demikian Deni enggan memberi tahu berapa lama kerja sama itu berlangsung. Sebab itu pula dirinya tak mau untuk menawarkan lagi produknya itu pada pihak lainnya.

Belum lama ini pengusaha asal Jepang pernah menawarinya kontrak untuk dibuatkan mini gitar serupa. Namun Deni dan kakanya menolak. “Kami ingin menjaga kepercayaan. Kalau sudah satu, ya sudah, sehingga disini pabriknya disana perusahaannya,” katanya.

Dari perusahaan itulah sejumlah musisi dan gitaris dunia mempunyai koleksi mini gitar. Bahkan kata dia pernah membuat khusus pesanan mini gitar untuk souvenir dari grub band rock dunia seperti Deep Purple, Van Hallen, dan Gun n’ Roses.

Teranyar ia baru saja menyelesaikan 15 ribu buah mini gitar pesanan politikus AS, Donald Trump. “Yang pesanan itu (Donal Trump) sudah selesai, sekarang lagi proses pesanan yang baru,” tuturnya.

Selain gitar, Deni juga pernah membuat gitar khas timur tengah dan beberapa gitar dimana bagian tubuhnya berbentuk wajah tokoh kartun.

Untuk urusan harga, Deni membandrol produk kerajinannya beragam. Tergantung kesulitan dan motif mini gitar yang dipesan. Paling murah ia menjual seharga 7 dolar AS atau setara Rp 92 ribu per buah. Sedang paling tinggai, Deni pernah menjual dengan harga 30 dolar AS atau Rp 395 ribu per buah.

Sejak terjalinnya kerja sama dengan perusahaan tersebut, usahanya itu selalu kebanjiran order. Kendati ia tak mau mengungkapkan omset yang didapat per bulannya, namun kata dia setiap harinya puluhan pengrajin yang bekerja padanya itu mampu memproduksi sekitar 280 mini gitar.

Saat ini terdapat 60 perajin yang bekerja padanya. Kebanyakan merupakan lulusan SMP dan SMA yang pada awalnya kesulitan mencari kerja. Ia mengatakan melalui usahanya itu juga ingin membantu warga Klaten agar tidak ada yang menganggur selepas tamat sekolah.

“Ada beberapa orang yang memang dasarnya perajin, ada warga sini juga yang menganggur dan saya ajak. Memang membutuhkan kesabaran untuk melatih mereka,” tuturnya. [] Republika.co.id
×
Berita Terbaru Update