TamiangNews.com, JAKARTA -- Direktur Eksekutif Indo Barometer, M Qodari mengakui ada kecenderungan pemilih perempuan yang memlih pasangan calon karena tampangnya.
Apalagi ada calon dengan wajah ganteng, terutama pada Pemilhan Kepala (Pilkada) DKI Jakarta. Namun menurutnya angka pemilih dengan kriteria seperti itu tidak signifikan, bahkan sangat sedikit.
“Memang ada pemilih seperti itu, tapi angkanya sangat kecil,” kata Qodari saat dihubungi melalui seluler, Kamis (29/9).
Meski tidak terlalu besar angkanya, tapi tetap memiliki pengaruh yang bisa menambah pundi-pundi suara. Dia menyebutan pemilih dengan kriteria seperti itu tidak tersegmentasi.
Apakah mereka masih lajang atau sudah berumah tangga. Saat ini Indobarometer sendiri belum melakukan survei kembali, sehingga belum dapat diketahui angka pemilih dengan kriteria tersebut.
Qodari berkaca pada Pemilihan Presiden (Pilpres) 2004, saat itu Susilo Bambang Yudhoyono dianggap calon presiden yang memilki wajah tampan.
Kendati demikian, kata Qodari meski saat itu SBY memenangi pertarungan di Pilpres 2004, tapi mayoritas tidak melihat dari ketampanan yang dimiliki oleh SBY, melainkan dari kewibawaannya.
“Sama juga studi kasusnya dengan Wali Kota Tangerang Selatan, Airin Rachmi. Meski cantik tapi pemilih lebih tertarik dengan kedekatannya pada masyarakat,” tambah Qodari.
Qodari melanjutkan pemilh sebelum menentukan pilihannya, pertama mereka akan melihat dari kedekatannya dengan masyarakat. Kemudian dilihat dari gagasan calon yang dikeluarkan saat masa kampanye. “Meski punya daya tarik, tapi untuk figur tampan atau cantik biasanya nomor sekian.” [] ROL
Apalagi ada calon dengan wajah ganteng, terutama pada Pemilhan Kepala (Pilkada) DKI Jakarta. Namun menurutnya angka pemilih dengan kriteria seperti itu tidak signifikan, bahkan sangat sedikit.
“Memang ada pemilih seperti itu, tapi angkanya sangat kecil,” kata Qodari saat dihubungi melalui seluler, Kamis (29/9).
Meski tidak terlalu besar angkanya, tapi tetap memiliki pengaruh yang bisa menambah pundi-pundi suara. Dia menyebutan pemilih dengan kriteria seperti itu tidak tersegmentasi.
Apakah mereka masih lajang atau sudah berumah tangga. Saat ini Indobarometer sendiri belum melakukan survei kembali, sehingga belum dapat diketahui angka pemilih dengan kriteria tersebut.
Qodari berkaca pada Pemilihan Presiden (Pilpres) 2004, saat itu Susilo Bambang Yudhoyono dianggap calon presiden yang memilki wajah tampan.
Kendati demikian, kata Qodari meski saat itu SBY memenangi pertarungan di Pilpres 2004, tapi mayoritas tidak melihat dari ketampanan yang dimiliki oleh SBY, melainkan dari kewibawaannya.
“Sama juga studi kasusnya dengan Wali Kota Tangerang Selatan, Airin Rachmi. Meski cantik tapi pemilih lebih tertarik dengan kedekatannya pada masyarakat,” tambah Qodari.
Qodari melanjutkan pemilh sebelum menentukan pilihannya, pertama mereka akan melihat dari kedekatannya dengan masyarakat. Kemudian dilihat dari gagasan calon yang dikeluarkan saat masa kampanye. “Meski punya daya tarik, tapi untuk figur tampan atau cantik biasanya nomor sekian.” [] ROL

