TamiangNews.com | ACEH TAMIANG – Harga gula pasir terus
melambung sejak awal tahun, yakni dari Rp 12.500 per kg pada 2 Januari 2020
menjadi Rp 15.800 per kg pada 2 Februari dan pada Selasa kemarin 24 Maret 2020
harganya menjadi Rp.20.000 hingga Rp.24.000/kg. Kenaikan ini terjadi karena
jumlah pasokan yang menipis, padahal permintaan masyarakat tinggi.
Informasi yang dihimpun Media ini menyebutkan meroketnya harga gula pasir di
sejumlah pasar tradisional khusus di Aceh Tamiang, karena sulitnya mendapatkan
pasokan gula pasir dari Sumatera Utara (Sumut), Polda setempat melarang kuota
gula pasir mereka disuplai atau dijual ke luar provinsi tersebut termasuk Aceh.
Akibatnya, harga gula pada tingkat pedagang eceran di Opak dan sekitarnya
melonjak mencapai Rp.20.000 s/d Rp.24.000 per Kilogram (Kg) atau dari Rp 15.800
per Kg pada bulan lalu, Selasa (24/3).
Menurut pedagang Harga per zaknya mencapai Rp. 830.000,00,- Rp.
880.000,00,- pembelian pedagang kepada Distributor, malahan barangnya langka di
Pasaran. Akibatnya pedagang dan masyarakat keluhkan kondisi ini.
Salah seorang warga Kampung Binjai Seruway Sayed Jafar (50) kepada awak
media diwarungnya mengatakan "kami selaku pedagang kecil merasa kewalahan
dengan kondisi ini, masih mending kalau barangnya ada di pasaran, masih bisa
diupayakan membeli biarpun dalam jumlah sedikit. Ini barangnya langka di
pasaran," katanya.
"Kondisi ini ditambah lagi situasi merebaknya isu Virus Covid-19,
menyebabkan semakin memperparah kondisi perdagangan. Melonjaknya harga gula dalam dua pekan terakhir ini karena ada informasi
Polda Sumut melarang gula jatah provinsi itu tidak boleh dijual ke daerah
lain," ungkapnya.
Dia juga mengatakan, harga gula tinggi karena stoknya sudah menispis pada
penyalur di Medan. Untuk mengatasi keresahan masyarakat akibat terus menipisnya
stok gula, Polda Sumut melarang stok gula pasir yang ada di provinsi itu dijual
ke luar Sumut. Dampak larangan itu, sambungnya, pengiriman gula dari
pedagang grosir di Medan ke Aceh menjadi macet.
“Perusahaan angkutan barang trayek Medan-Aceh, sekarang tak berani
mengangkut gula dari Medan ke Aceh, karena takut ditangkap polisi di wilayah
perbatasan,” ungkapnya.
Sementara Pedagang kios barang sembako di Kecamatan Rantau Sunardi (45)
juga berhasil dimintai keterangannya oleh awak media ini mengeluhkan keadaan
ini, bahkan ia harus menjual gula pasir hingga Rp.
21.000,00,-/kilogramnya.
"Kami yang jualan saja susah mendapatkan gula pasir di Toko - toko
grosir,” ungkapnya.
Toko Grosir Samsul Pekan Seruway berhasil dikonfirmasi awak media ini
mengatakan, sulit untuk mendapatkan gula pasir saat ini, hari ini saya hanya
dapat 3 zak saja dari Distributor, biasanya dapat 10 - 15 zak. Kami dalam
menjual jadi serba salah, harga saya ambil dari Distributor Rp.880.000,00,-/zak
hari ini,” paparnya.
Informasi dari pedagang makanan keliling Infan (34) saat ditanyai awak
media mengatakan di Kampung Sidodadi Seruway malahan harga gula pasir Rp.
24.000,00,-/kilogram gula pasir.
Masyarakat sangat berharap kondisi ini agar segera berakhir, terutama agar
lebih cepat proses antisipasi penyebaran dan pencegahan Covid-19 ini. Jika
kondisi ini terus belanjut masyarakat sangat terjepit terutama pemenuhan
kebutuhan hidup sehari - hari.[]TN-W007

