Notification

×

Iklan

Iklan

Ditengah Isu Corona, Tren Harga Gula Pasir Naik Tajam

Rabu, 25 Maret 2020 | Maret 25, 2020 WIB | 0 Views Last Updated 2020-03-25T02:28:38Z
abati parfum | Parfum Arab Terbaik

TamiangNews.com | ACEH TAMIANG – Harga gula pasir terus melambung sejak awal tahun, yakni dari Rp 12.500 per kg pada 2 Januari 2020 menjadi Rp 15.800 per kg pada 2 Februari dan pada Selasa kemarin 24 Maret 2020 harganya menjadi Rp.20.000 hingga Rp.24.000/kg. Kenaikan ini terjadi karena jumlah pasokan yang menipis, padahal permintaan masyarakat tinggi.


Informasi yang dihimpun Media ini menyebutkan meroketnya harga gula pasir di sejumlah pasar tradisional khusus di Aceh Tamiang, karena sulitnya mendapatkan pasokan gula pasir dari Sumatera Utara (Sumut), Polda setempat melarang kuota gula pasir mereka disuplai atau dijual ke luar provinsi tersebut termasuk Aceh. Akibatnya, harga gula pada tingkat pedagang eceran di Opak dan sekitarnya melonjak mencapai Rp.20.000 s/d Rp.24.000 per Kilogram (Kg) atau dari Rp 15.800 per Kg pada bulan lalu, Selasa (24/3).

Menurut pedagang Harga per zaknya mencapai Rp. 830.000,00,- Rp. 880.000,00,- pembelian pedagang kepada Distributor, malahan barangnya langka di Pasaran. Akibatnya pedagang dan masyarakat keluhkan kondisi ini.

Salah seorang warga Kampung Binjai Seruway Sayed Jafar (50) kepada awak media diwarungnya mengatakan "kami selaku pedagang kecil merasa kewalahan dengan kondisi ini, masih mending kalau barangnya ada di pasaran, masih bisa diupayakan membeli biarpun dalam jumlah sedikit. Ini barangnya langka di pasaran," katanya.

"Kondisi ini ditambah lagi situasi merebaknya isu Virus Covid-19, menyebabkan semakin memperparah kondisi perdagangan. Melonjaknya harga gula dalam dua pekan terakhir ini karena ada informasi Polda Sumut melarang gula jatah provinsi itu tidak boleh dijual ke daerah lain," ungkapnya.

Dia juga mengatakan, harga gula tinggi karena stoknya sudah menispis pada penyalur di Medan. Untuk mengatasi keresahan masyarakat akibat terus menipisnya stok gula, Polda Sumut melarang stok gula pasir yang ada di provinsi itu dijual ke  luar Sumut. Dampak larangan itu, sambungnya, pengiriman gula dari pedagang grosir di Medan ke Aceh menjadi macet. 

“Perusahaan angkutan barang trayek Medan-Aceh, sekarang tak berani mengangkut gula dari Medan ke Aceh, karena takut ditangkap polisi di wilayah perbatasan,” ungkapnya.

Sementara Pedagang kios barang sembako di Kecamatan Rantau Sunardi (45) juga berhasil dimintai keterangannya oleh awak media ini mengeluhkan keadaan ini, bahkan ia harus menjual gula pasir hingga Rp. 21.000,00,-/kilogramnya. 

"Kami yang jualan saja susah mendapatkan gula pasir di Toko - toko grosir,” ungkapnya.

Toko Grosir Samsul Pekan Seruway berhasil dikonfirmasi awak media ini mengatakan, sulit untuk mendapatkan gula pasir saat ini, hari ini saya hanya dapat 3 zak saja dari Distributor, biasanya dapat 10 - 15 zak. Kami dalam menjual jadi serba salah, harga saya ambil dari Distributor Rp.880.000,00,-/zak hari ini,” paparnya.

Informasi dari pedagang makanan keliling Infan (34) saat ditanyai awak media mengatakan di Kampung Sidodadi Seruway malahan harga gula pasir Rp. 24.000,00,-/kilogram gula pasir.

Masyarakat sangat berharap kondisi ini agar segera berakhir, terutama agar lebih cepat proses antisipasi penyebaran dan pencegahan Covid-19 ini. Jika kondisi ini terus belanjut masyarakat sangat terjepit terutama pemenuhan kebutuhan hidup sehari - hari.[]TN-W007

×
Berita Terbaru Update