Notification

×

Iklan

Iklan

Qana’ah dan Zuhud Dalam Islam

Minggu, 10 Desember 2023 | Desember 10, 2023 WIB | 0 Views Last Updated 2023-12-09T17:15:40Z
abati parfum | Parfum Arab Terbaik

Foto : ILUSTRASI

Dunia ibarat sebongkah batu es yang diletakkan di bawah terik matahari. Ia akan terus meleleh sampai akhirnya hilang tak berbekas. Sedangkan akhirat bagaikan batu permata yang tak tak akan hilang ditelan masa. Oleh karenanya jangan sampai seorang muslim menjadikan dunia tujuannya, akan tetapi hendaknya akhirat adalah tujuannya. Dan hal tersebut bisa kita raih dengan adanya sifat qana’ah  dan zuhud pada jiwa seorang muslim.


Qana’ah dan zuhud merupakan akhlak terpuji dalam Islam. Qana’ah dan zuhud sebagai bagian dari akhlak terpuji karena mempunyai pengertian sebagai sikap yang kurang mementingkan persoalan keduniawian atau tidak mau terikat dengan dunia.


Orang yang qana’ah dan zuhud maksudnya dia  mampu mengendalikan kehidupannya dari pengaruh dan kepentingan dunia dengan mengutamakan kepentingan akhiratnya untuk bekal hidup masa selanjutnya. Ia akan sibuk diliputi oleh perbuatan-perbuatan yang cenderung mengarahkan dirinya semakin dekat dengan kehidupan dan kebahagiaan akhirat.


Banyak sekali sahabat-sahabat yang berlaku zuhud dalam kehidupannya. Sebagai contoh misalnya Umar bin Khattab radhiyallahu’anhu yang sangat konsisten membedakan mana kepentingan dunia dan akhirat, sehingga ia hidup dalam kesederhanaan dalam urusan dunia dan giat meningkatkan ibadah yang berkaitan dengan masa depan akhiratnya.


Pengertian Qana’ah dan Zuhud


Qana'ah  ialah merasa cukup. Orang yang mempunyai sifat qana'ah adalah orang yang menerima apa saja yang telah di anugerahi oleh Allah ta’ala kepadanya. Ia tidak akan tergiur oleh kemewahan atau kekayaan yang dimiliki orang lain, karena dirinya sudah merasa cukup. Sifat qana'ah membebaskan pelakunya dari cerkam kecemasan dan memberikan kenyamanan psikologis ketika menghadapi dunia.


Berdasarkan uraian diatas, qana'ah adalah merasa ridha atas ketentuan Allah, dapat menerima diri mereka sendiri, serta memiliki rasa ikhlas dalam menghadapi kenyataan maupun kondisi hidup mereka sebagaimana adanya baik menyenangkan maupun tidak menyenangkan. Individu yang memiliki sifat qana'ah tetap berikhtiar agar individu tetap bekerja serta berusaha semaksimal mungkin. Allah tetap menyuruh untuk kita percaya akan adanya kekuasaan yang melebihi kekuasaan kita.


Zuhud secara etimologis, berasal dari  kata zahada maknanya  raqab‘anshay’ wa tarakahu, artinya tidak tertarik pada sesuatu hal dan meninggalkannya. Zahada fi aldunya,  berarti  mengosongkan  diri  dari  dunia.  Orang  yang  melakukan  perbuatan    zuhud disebut zahid, zuhhad, atau zahidun, zahidah. Bentuk pluralnya zuhdan, yang bermakna kecil atau sedikit.


Pengertian  zuhud  secara  umum  ialah  sikap  menjauhkan  diri  dari  segala  sesuatu yang  berkaitan  dengan  dunia.  Seorang  yang  zuhud  seharusnya  hatinya  tidak  terbelenggu atau  hatinya  tidak  terikat  oleh  hal-hal  yang  bersifat  duniawi  dan  tidak  menjadikannya sebagai  tujuan.  Hanya  sarana  untuk  mencapai  derajat  ketakwaan  yang  merupakan  bekal untuk akhirat.


Dalil Berkaitan Qana'ah dan Zuhud


Terdapat beberapa dalil dari Al qur’an dan As-sunnah yang menjelaskan tentang qana’ah dan zuhud, diantaranya:


*  Dalam surat Ibrahim: 7

{وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِى لَشَدِيدٌ}


Artinya: Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih." (QS. Ibrahim:7)


Dalam ayat tersebut menjelaskan tentang pentingnya bersyukur dan betapa meruginya orang yang mengingkari nikmat-Nya. Oleh karena itu, qana’ah adalah karakter yang urgen sekali untuk diaplikasikan di tengah maraknya kehidupan zaman sekarang.


*  Dalam hadits disebutkan 


 حَدَّثَنَا هِشَامُ بْنُ عَمَّارٍ حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ وَاقِدٍ الْقُرَشِيُّ حَدَّثَنَا يُونُسُ بْنُ مَيْسَرَةَ بْنِ حَلْبَسٍ عَنْ أَبِي إِدْرِيسَ الْخَوْلَانِيِّ عَنْ أَبِي ذَرٍّ الْغِفَارِيِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيْسَ الزَّهَادَةُ فِي الدُّنْيَا بِتَحْرِيمِ الْحَلَالِ وَلَا فِي إِضَاعَةِ الْمَالِ وَلَكِنْ الزَّهَادَةُ فِي الدُّنْيَا أَنْ لَا تَكُونَ بِمَا فِي يَدَيْكَ أَوْثَقَ مِنْكَ بِمَا فِي يَدِ اللَّهِ وَأَنْ تَكُونَ فِي ثَوَابِ الْمُصِيبَةِ إِذَا أُصِبْتَ بِهَا أَرْغَبَ مِنْكَ فِيهَا لَوْ أَنَّهَا أُبْقِيَتْ لَكَ 


Artinya: (Ibn Majah berkata): Hisyam bin 'Ammar telah menceritakan kepada kami (katanya), 'Amru bin Waqid al-Qurasyi telah menceritakan kepada kami (katanya), Yunus bin Maisarah bin Halbas telah menceritakan kepada kami, dari Abi Idris al-Khaulani, dari Abi Zar al-Ghifari, ia berkata: Rasulullah sallallahu ‘alaihi wassalam bersabda: "Bukanlah dinamakan zuhud dengan mengharamkan yang halal, dan tidak pula dengan tidak memiliki harta. Akan tetapi zuhud di dunia itu adalah kamu tidak menjadikan apa yang menjadi milikmu lebih berharga daripada apa yang dimiliki Allah, serta balasan dari musibah yang menimpamu lebih kamu harapkan daripada musibah itu sendiri, walaupun musibah itu senantiasa menimpamu. (HR. Ibn Majah)


Seringkali disalahpahami bahwa    zuhud semata-mata dengan meninggalkan kenikmatan dunia sehingga harus melakukan   hidup   miskin,   fakir,   tidak   punya   apa-apa   dan seterusnya.  Hadis  di  atas  membatasi  seorang  Muslim  bahwa meninggalkan dunia maksudnya bukan tidak    mau lagi mencampuri  urusan  kehidupan  dunia,  namun  lebih  dipahami sebagai bentuk keterikatan hati yang dapat melupakan (melenakan) manusia dengan kenikmatan dunia yang sementara ini, sehingga lupa terhadap tujuan kebahagiaan akhirat yang ingin diraihnya. Hadis ini mengajarkan tata cara (praktik) melakukan zuhud yakni dengan sikap tidak terlalu berharap kepada dunia (tark al-raghabah   fīha).   Jadi   Zuhud  di  dunia   ini   bukanlah   dengan mengharamkan  diri  dari  hal-hal  yang  dihalalkan  seperti  makan tidak makan daging, atau memberikan seluruh harta yang dimiliki sehingga tidak ada lagi yang tersisa. Akan tetapi zuhud yang sebenarnya adalah sikap hati  yang  tidak  terlalu  bergantung  (berharap)  kepada  harta sehingga antara ada dan tidak adanya (misalnya hilang) itu sama saja.  Zuhud  itu  juga  senantiasa  mendambakan  balasan  dari musibah yang dialami, walaupun dalam kondisi selalu mendapat musibah.


Hadits  di  atas  mengisyaratkan  bahwa  bukan  harta  (dan dunia)  tidak  penting  dalam  kehidupan.  Tentu  saja  dunia  ini penting untuk menunjang kehidupan manusia, namun dunia (dan isinya)  tidak  membuat  manusia  bergantung  kepadanya.  Dunia hanya  dijadikan  sarana  untuk taat kepada Allah.  Dunia tidak  dikejar  dan  diburu-buru  sehingga  merasa  tidak  puas  atau merasa   sedih   karena   tidak   mendapatkannya.   Dunia   hanya jembatan bagi seorang untuk mencari keridhaan Allah.


Sikap Seorang Muslim Terhadap Qana'ah dan Zuhud


Berhias diri dengan sifat qana’ah adalah salah satu hal penting bagi penuntut ilmu, yaitu merasa puas dengan apa yang telah di berikan Allah kepadanya, tidak menuntut agar sama dengan orang orang kaya dan mewah, sehingga tidak memaksakan diri dengan untuk membiayai beban makanan, minuman, pakaian dan tempat tidur, lalu pundaknya dipenuhi dengan beban hutang, itu keliru. Yang benar adalah wajib atasmu bersikap qana’ah, karena ia adalah bekal seorang muslim.


Lalu, seorang muslim harus bersikap zuhud, karena sikap zuhud menyelamatkan manusia dari penyakit dan risiko dunia. Hendaknya dia tidak menginginkan dengan hatinya, kecuali sekedar yang di butuhkan tubuh saja. Dan sikap zuhud merupakan kedudukan tinggi.


Dengan sikap zuhud seorang muslim memandang dunia ini sebagai sarana ibadah untuk mendapatkan keridhaan Allah ta’ala. Bukan sebagai tujuan hidup. Dunia dipandang sebagai suatu yang fana. Cinta yang berlebih-lebihan terhadapnya akan melahirkan sifat- sifat mazmumah (tercela). Sikap zuhud seperti ini telah dicontohkan oleh Rasulullah sallallahu ‘alaihi wassalam dan para sahabatnya.


Hikman dari Qana'ah dan Zuhud


Hikmah menjadi qana’ah adalah  jiwa menjadi tentram dan tenang, mendatangkan etis kerja dan usaha, optimis, percaya diri dan tidak ragu, juga hidup secara sederhana.


Dengan zuhud, dunia tidak menjadi godaan, akhirat akan menjadi tujuan dan cita-cita tertinggi. Zuhud mampu melahirkan sifat tawadhu’tidak merasa bangga atas kemewahan dunia yang telah ada di tangan dan tidak merasa sedih hanya karena hilangnya kemewahan itu dan tangannya, la tetap bekerja dan berusaha, namun tidak pernah terlena dengan duniawi dan tidak pernah menguasai kecenderungan kalbunya apalagi ingkar kepada Allah.


Demikian pembahasan qana’ah dan zuhud semoga bermanfaat dan Allah jadikan kita seorang hamba yang berhias dengan dua sifat mulia ini.[]


Pengirim : 

Aski Fadhila Salsabilla, Khairunnisa Alya br Solin dan Nurul Fathonah (Mahasiswi STIT Madani Yogyakarta)

×
Berita Terbaru Update