Notification

×

Iklan

Iklan

Bijaksananya Aparatur Kampung dan Kepala Desaku

Kamis, 18 Juni 2020 | Juni 18, 2020 WIB | 0 Views Last Updated 2020-06-18T07:09:17Z
abati parfum | Parfum Arab Terbaik
Desa Dedingin, Kecamatan Kute Panang, Kabupaten Aceh Tengah Takengon. Desa kami terletak ditengah-tengah dibawah desa Wihnongkal Uken dan diatas desa Wihnongkal Toa. Dulunya dari Wih Nongkal Uken sampai Wih Nongkal Toa kami satu kampung yaitu Wih Nongkal. 

Foto : Sawalina Fitri
Seiring bertambahnya penduduk dan perkembangan jaman akhirnya desa ini terbagi menjadi dua. Wih Nongkal dan Dedingin, namun hanya bertahan dua tahun lamanya kemudian pecah desa lagi menjadi dua, dan akhirnya desa kami menjadi tiga kampung. Namun walau pecah desa kami tetap satu masjid untuk selalu brkumpul bersama di majlis yang baik.

Hanya sanya satu keluhan yang kami rasakan ketika hendak masuk dan keluar dari desa kami ini. Desa Wih Nongkal Uken yang berada diatas desa Dedingin jalan keluar masuk Desa dedingin, sudah bukan lagi rusak ringan namun rusak parah, dulunya sudah ada bantuan namun sayang bantuannya tidak mencukupi, hanya setengah nya saja yang selesai dan sebagiannya lagi masih rusak. 

Bebatuan nya membuat jalan rusak, dulunya sisa-sisa pekerjaan rambat beton milik kampung dedingin sudah di gotong royongkan ke desa tersebut, namun hanya satu titik saja yang diperbaiki, sedangkan titik yang lain masih rusak.

Sedang dalam proses namun seolah tak dihiraukan, sehingga sudah beberapa tahun masih dengan keadaan yang sama saja, tetap rusak. Bukan lagi memakan korban tentunya sudah ada korban, termasuk saya sendiri yang menjadi korban jalan bebatuan itu.

Ini opini tentang desa dedingin, dengan kepala desa yang bijak sana, setiap tahun dari hasil dana desa ia dan aparat kampung selalu menyisihkan uang keuntungannya untuk membeli seekor kerbau atau sapi untuk di sembelih diwaktu lebaran.

Tahun ini ditengah pandemi walaupun harus membantu dan mengelola uang dari berbagai sumber. Dari uang pandemic dan juga dana desa. aparatur kampung masih bisa mengelola uang dengan baik dan benar, mereka bisa menyisihkan uang untuk bantuan covid 19, dan juga masih bisa membeli sapi seperti tahun-tahun sebelumnya.

Bukan hanya itu masker dan bantuan sembako pun ikut meluncur, sampai ketangan masyarakat. Tidak ada pilih-pilih baik yang berada maupun yang kurang mampu tetap diberikan, sebab ditengah pandemic semua masyarakat merasa kesulitan.

Aparatur kampung mengajari kami pemuda dan pemudi, untuk tetap bersama, kompak, dalam melestarikan desa kami ini, dan tetap bersama untuk menyejahterakan desa kami.

Pada tahun-tahun sebelum pandemic tiga desa yaitu desa dedingin, wih nongkal toa, dan kala nongkal, oleh kesepakatan aparatur kampung tiga desa ini selalu melaksanakan shalat isul fitri dan idul adhha bersama-sama, namun karna dilarangnya berkerumun dan membuat kerumunan akan didenda, tahun ini menjadi tahun pertama dimana shalat id dipisah. Walau tetap melaksamakan shalat id berjama’ah namun antara desa sudah tidak lagi bersama.

Orang cerdas tapi polos dapat diibaratkan bak keledai memanggul kitab. Ia memiliki dan atau membawa banyak ilmu pengetahuan, tetapi tak tau harus dimanfaatkan untuk apa. Sedangkan si licik yang lihai dengan menghalalkan berbagai cara ibarat hewan yang pandai bicara, hewan cerdas tapi tak berguna. 

Orang cerdas tapi polos tak layak dijadikan pemimpin ataupun juru runding tetapi cukup menjadi penasehat saja. Sedangkan orang licik tak layak pula dijadikan pemimpin karena akan menjatuhkan kredibilitas dan mendatangkan kenistaan, yakni kejayaan tapi tanpa kebanggaan. Sebaik-baik pemimpin adalah yang cerdik apalah lagi lihai, cerdas sekaligus berpikir strategis tapi tetap berpegang pada integritas moral agama dan etika sosial. Begitulah kepala desa kami cerdik dan juga lihai mahir dan juga pandai.

Pada saat pandemic beberapa minggu setelah lock down ada seorang masyarakat yang menjelek-jelekan aparatur kampung dengan mengatakan bahwa aparatur kampung memakan uang pandemic sedangkan uang tersebut adalah gaji mereka yang tertahan beberapa bulan tidak keluar sebab pandemic. Ia memosting hal tersebut dimedia sosial, Namun kebijaksanaan aparatur kampung tidak melaporkan kejadian tersebut kebadan berwajib melainkan memberi nasehat kepada orang tersebut.

Dalam mengarungi kehidupan, setiap manusia tak terhindar pernah dihadapkan pada kemungkaran atau bahkan ksewenang-wenangan. Kesewenangan itu mungkin terjadi pada orang lain, namun kadang pula menimpa diri. Lantas yang dilakukan bukan lah menyerah, menerima nasib, atau pasrah, namun kita harus berusaha untuk meperbaiki diri. Melawan penjajah merupakan hal yang baik, melawan orang yang berbuat aniaya adalah perbuatan yang mulia.

Sikap melawan kemungkaran termasuk kesewenang-wenangan bukan hanya wajib ketika diri kita yang teraniaya. Ketika orang lain dizhalimi ada pula sebuah kewajiban. Setidaknya kita dapat berbuat baik terhadapnya menolong mereka. 

Dengan cara apabila kita mampu melawan dengan tindakan maka kita harus melakukannya, bila kita hanya mampu melakukan dengan ucapan atau tulisan maka lakukanlah dengan sesuai kemampuan, apabila kita tidak dapat melakukan keduanya maka cukup diam, menghindari, namun dalam hati mengutuk dan membenci.

Pengirim :
Sawalina Fitri
×
Berita Terbaru Update