Notification

×

Iklan

Iklan

Harmonisasi Antara Agama dan Filsafat

Selasa, 21 Desember 2021 | Desember 21, 2021 WIB | 0 Views Last Updated 2021-12-23T01:40:02Z
abati parfum | Parfum Arab Terbaik

Alya Qotrunnada Mahasiswa Semester 1 Fakultas Ushuludin dan Filsafat Universitas Islam Negeri Sunan Ampel  

TamiangNews.com --- Sebagaimana kita ketahui, filsafat dan agama adalah dua entitas yang distingtif. Agama mendasarkan diri pada wahyu yang kebenarannya absolut. Sedangkan, filsafat mendasarkan diri pada akal yang kebenarannya masih nisbi atau relatif. Oleh karena itu, tak heran banyak orang yang selalu mempertentangkan agama dan filsafat. Pada titik inilah, muncul sekelumit ide dalam pikiran saya: Bisakah agama dan filsafat diharmonisasi? Namun, sebelum itu, perlu kita menjelajahi watak dari agama dan filsafat itu.

Filsafat dalam K

Kerangka pertanyaaan-pertanyaannya sering kali bersumber dari keraguan terhadap sesuatu. Dalam belajar filsafat, keraguan merupakan syarat wajib. Orang yang tidak memiliki keraguan dan hanya ada keyakinan saja dalam dirinya, maka tidak cocok untuk belajar filsafat. 

Watak tersebut berbeda dengan agama yang meyakini segala sesuatu sejauh bernafaskan atau tidak bertentangan dengan wahyu Tuhan. Inilah yang kerap kali dijadikan landasan bahwa agama berseberangan dengan filsafat. Perbedaan ini yang menyebabkan adanya kecenderungan yang dikotomi dan tidak saling memahami antara keduanya dalam kehidupan berintelektual kita padahal, agama dan filsafat sesungguhnya memiliki kesamaan: mereka berperan untuk mencari kebenaran. 


Sebagaimana kita ketahui, akal pikiran manusia tidak ada yang sempurna. Ketidak kempurnaan ini menjadikan manusia harus memiliki banyak alat untuk mengupas kebenaran. Maka dari itu filsafat dan agama dapat harmonis dengan kekurangan masing-masing.

 Kritisme dalam filsafat digunakan untuk menganalisis lebih dalam dari sesuatu yang masih samar atau belum terjawab dalam agama. Agama juga bisa menggunakan filsafat untuk mempelajari, mengkaji, memahami, menafsir dan menakwil wahyu-wahyu yang dihidangkan oleh Tuhan. Hal ini karena wahyu Tuhan seringkali memilki dualitas makna yang tak jarang justru saling bertentangan. Oleh karena itu jika agama masih terus mengharamkan filsafat, maka besar kemungkinan agama justru menjadi pincang.

Itulah mengapa salah satu seorang filsuf yang berasal dari madzhab paripatetik, Ibnu Rusyd, menyatakan bahwa agama dan filsafat yang tidak seharusnya saling dipertentangkan. Ia leebih lanjut mengatakan bahwa tak ada gunanya juga mempertentangkan keduanya, akan tetapi harus diingat bahwa pembelaan Ibnu Rusyd bagi filsafat tidak bertujuan untuk menjauhkan masyarakat dari agama, melainkan untuk menyesuaikan, menggandeng, atau mensinergikan keduanya.  

Kegiatan berfilsafat menurut Ibnu Rusyd,tidak lain ialah memikirkan, mendalami dan merenungkan beraneka macam fenomena alam atau wujud serta isinya. Kegiatan tersebut bertujuan supaya seoarang manusia dapat lebih dekat pemahamannya tentang persepsi utuh tentang dengan Sang Pencipta. Dalam pengertian ini, agama secara tegas tidak bertentangan dengan filsafat bahkan, agama mendorong agar manusia mampu menggunakan akal dan pikirannya serta mempelajari segala fenomena alam yang terjadi di semesta ini. Jika filsafat diimplementasikan dalam konteks tersebut, maka berfilsafat justru dianjurkan. Dengan demikian kesimpulan yang dapat diambil yakni filsafat dan agama dapat saling merangkul untuk mencari kebenaran. ketegangan dalam agama serta filsafat hanya kerap muncul pada masyarakat yang miskin atau buta literasi.*** 

×
Berita Terbaru Update