![]() |
| Ahmad Farid Baihaqi (Foto/dok. pribadi) |
Belakangan ini, ekonomi syariah makin sering dibicarakan. Mulai dari bank syariah, koperasi syariah, sampai produk halal, semua makin menjamur. Tapi yang menjadi pertanyaannya: apakah cukup ekonomi syariah berkembang Cuma karena ada aturan pemerintah atau dukungan lembaga keuangan? Jawabannya: nggak. Karena yang paling penting justru datang dari kita warga negara yang sadar peran dan tanggung jawabnya.
Berbicara soal hak dan kewajiban sebagai warga negara, kadang kita terlalu fokus menuntut hak. Misalnya, ingin layanan publik yang adil, ingin akses ke ekonomi yang bersih dan bebas riba. Tapi, pernah nggak kita tanya ke diri sendiri: sudah sejauh mana kita menjalankan kewajiban kita dalam mendukung ekonomi yang sesuai nilai Islam?
Ekonomi syariah itu bukan Cuma soal transaksi yang halal atau bebas bunga. Lebih dari itu, sistem ini dibangun atas dasar keadilan, kejujuran, dan tanggung jawab sosial. Artinya, kalau kita mau ekonomi syariah berkembang, kita sebagai warga juga harus ikut menjaga etika nggak korupsi, nggak curang, dan nggak egois.
Contohnya sederhana. Bayar zakat dan infaq itu bukan Cuma urusan ibadah pribadi, tapi juga bentuk nyata kita ikut membangun keseimbangan ekonomi. Kita bantu sesama, dan ikut menggerakkan roda ekonomi umat. Begitu juga dengan berdagang jujur, nggak menipu, dan berbisnis dengan niat baik semua itu bagian dari ekonomi syariah juga.
Yang sering dilupakan adalah “ekonomi syariah itu butuh partisipasi”. Butuh warga negara yang nggak cuek. Kita perlu aktif mengawasi kebijakan publik, dukung program ekonomi Islam, dan pilih pemimpin yang amanah. Jangan hanya jadi penonton pasif di pinggir lapangan.
Penting juga buat kita mulai mengenalkan nilai-nilai ini ke generasi muda. Anak-anak muda sekarang harus ngerti kalau jadi warga negara itu bukan Cuma soal punya KTP, tapi juga soal punya rasa tanggung jawab. Mulai dari hal kecil kayak belanja produk halal, bayar pajak dengan jujur, sampai ikut kegiatan sosial semuanya bisa jadi kontribusi nyata buat ekonomi syariah.
Selain itu, peran komunitas lokal juga nggak bisa diabaikan. Banyak gerakan ekonomi kerakyatan yang bisa dikembangkan secara syariah, seperti koperasi berbasis masjid, pasar tradisional halal, hingga UMKM yang menjunjung kejujuran dan transparansi. Di sinilah pentingnya gotong royong dan saling dukung antar warga. Karena membangun ekonomi syariah itu bukan kerja satu-dua orang, tapi usaha bareng-bareng.
Kita juga perlu berhenti berpikir bahwa ekonomi syariah itu urusan ulama, atau pemerintah saja. Warga biasa kayak kita pun bisa ambil peran. Misalnya, dengan milih produk dari usaha yang jujur dan syariah, kasih dukungan buat bisnis kecil yang patuh aturan, atau aktif di komunitas yang peduli keadilan ekonomi.
Tugas negara memang bantu dari sisi regulasi dan fasilitas. Tapi sebesar apa pun dukungan dari atas, kalau dari bawah nggak ada kesadaran, ya ekonomi syariah bakal jalan di tempat. Karena sistem ini butuh fondasi yang kuat: warga yang melek nilai dan siap terlibat.
Untuk memajukan ekonomi syariah sebagai solusi bagi bangsa, kita tidak hanya perlu mengandalkan seminar atau peraturan. Yang lebih penting adalah kesadaran individu untuk memahami bahwa kita memiliki tanggung jawab bersama untuk membangun masyarakat yang lebih baik. Langkah kecil seperti menerapkan kejujuran, keadilan, dan niat baik dalam setiap tindakan dapat menjadi fondasi yang kuat. Dengan demikian, kita dapat menciptakan lingkungan yang mendukung pertumbuhan ekonomi syariah yang berkelanjutan dan berdampak positif bagi semua.[]
Penulis :
Ahmad Farid Baihaqi, mahasiswa Ekonomi Syariah S1, Universitas Pamulang


