Notification

×

Iklan

Iklan

Bahasa Cinta dari Tangan Kecil

Selasa, 26 Agustus 2025 | Agustus 26, 2025 WIB | 0 Views Last Updated 2025-08-25T23:02:29Z
abati parfum | Parfum Arab Terbaik


Setiap orang punya cara sendiri buat menunjukkan cinta. Ada yang lewat kata-kata, ada yang lewat hadiah, dan ada pula yang lewat pelukan. Tapi semenjak menjadi ayah, mengenal satu bentuk cinta paling jujur yang tidak banyak orang sadari ternyata dari Bahasa cinta dari tangan kecil.

 

Tangannya mungil, hangat, dan belum terlalu kuat untuk menggenggam. Tapi saat dia memeluk leherku dengan dua lengannya yang masih pendek, rasanya seperti dunia berhenti sebentar. Segala lelah, segala tekanan, semua rasa capek yang menumpuk, seolah cair begitu saja. Tidak ada kata-kata, cuma genggaman kecil yang penuh rasa.

 

Dia belum bisa banyak bicara. Kadang ucapannya masih susah dimengerti, kadang nadanya terlalu tinggi, atau terlalu pelan. Tapi dia selalu tahu kapan harus memegang tanganku. Saat aku terlihat murung, dia datang dan menggenggam jemariku. Saat aku rebahan karena lelah, dia naik ke atas badanku, menepuk-nepuk pipiku pelan sambil bilang, “Ayah bangun…”

 

Dan entah kenapa, semua itu lebih menyembuhkan daripada ribuan kalimat motivasi. Bahasa cintanya tidak pakai teori. Sederhana, tulus, dan datang dari naluri. Seperti waktu dia jatuh, lalu dengan tangan kecilnya malah dia berusaha bangun sendiri, dan setelah itu datang dan menyerahkan telapak tangannya, seolah berkata, “Gak apa-apa, aku kuat.”

 

Atau saat aku harus pergi kerja, dan dia menahan pintu sambil berdiri di ambang, dengan wajah bingung tapi tetap tersenyum. Dia melambaikan tangan, kadang cuma sebentar, kadang agak lama, tapi di setiap lambaian itu ada satu pesan yang selalu sama.

 

Aku tidak pernah mengajarinya semua itu. Tapi dia seperti tahu, bahwa sentuhan bisa lebih dalam daripada ucapan. Dan jujur, sejak punya dia, aku lebih percaya pada bahasa tubuh dar ipada janji-janji kosong dari orang dewasa.

 

Setiap kali dia memelukku dari belakang, meski pelukannya belum bisa melingkar penuh, aku merasa dilindungi. Padahal aku yang seharusnya melindunginya. Tapi mungkin itulah keajaiban jadi orang tua kadang anak yang paling kecil, justru yang membuatmu merasa paling utuh.

 

Tangannya yang sekarang masih suka mencoret dinding, mencabik tisu, atau mengaduk makanan tanpa alasan, suatu hari akan tumbuh. Genggamannya akan berubah. Mungkin nanti dia akan lebih sibuk dengan dunia luar, dan pelukannya tak akan sesering dulu.

 

Tapi saat itu tiba, aku ingin tetap ingat… bahwa dulu, ada tangan kecil yang mengajarkanku arti cinta yang paling murni. Cinta tanpa syarat, tanpa alasan, tanpa pamrih.

 

Dan saat dunia nanti mulai memisahkan waktu kami, aku ingin dia tahu satu hal bahwa setiap kali dia menggenggam tanganku dulu, dia sebenarnya sedang menyelamatkanku. Dari stres, dari beban pikiran, dari rasa lelah yang tak terlihat.

 

Anak ini mungkin belum bisa menjelaskan apa itu cinta, tapi dia menunjukkannya setiap hari dengan sentuhan, dengan genggaman, dengan cara dia datang memeluk tanpa diminta.

 

Bahasa cintanya sederhana. Tapi justru dari tangan kecil itu, aku merasa benar-benar dicintai.[]

 

Penulis :

Anjaz Saputra, Mahasiswa Ekonomi Syariah Universitas Pamulang

×
Berita Terbaru Update