Foto/Ilustrasi
Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan besar dalam berbagai aspek kehidupan besar dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam dunia pendidikan. Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi, khususnya internet dan media sosial, memberikan pengaruh yang signifikan terhadap pola pikir, sikap, dan perilaku generasi muda. Di satu sisi, era digital membuka akses ilmu pengetahuan dan memperluas cakrawala pendidikan namun disisi lain, ia juga mengahdirkan tantangan serius terhadap pembentukan karakter peserta didik, terutama dalam hal kedisiplinan, etika, tanggung jawab, dan integritas.
Krisis moral di kalangan remaja dan siswa saat ini tidak dapat dipisahkan dari penggunaan teknologi teknologi digital yang tidak terkendali. Maraknya perilaku seperti cyberbullying, kecanduan media sosial, konsumsi konten negative, hingga menurunnya sopan santun dalam komunikasi sehari-hari menjadi indikator adanya degradasi nilai-nilai moral. Kondisi ini tentu menjadi perhatian serius, terutama bagi lembaga pendidikan Islam yang memikul tanggung jawab tidak hanya dalam mentransfer ilmu, tetapi juga membentuk kepribadian dan akhlak mulia para peserta didik.
Lembaga pendidikan islam baik dalam sekolah, madrasah, maupun pesantren memiliki peran penting sebagai benteng moralitas generasi muda. Melalui pendekatan holistik yang mengintegrasikan nilai-nilai keislaman dalam kurikulum, pembiasaan akhlak dalam kehidupan sehari-hari, dan keteladanan para pendidik, lembaga pendidikan islam dituntut untuk merespons tantangan era digital dengan strategi yang inovatif namun tetap berlandaskan pada prinsip-prinsip islam.
Namun dengan demikian, tidak semua lembaga pendidikan islam memiliki kapasitas dan strategi yang sama dalam menghadapi tantangan era digital. Ada yang berhasil mengembangkan pendekatan kreatif seperti pembelajaran berbasis teknologi islami, penggunaan media digital untuk dakwah, serta penguatan pera guru dan orang tua sebagai sebagai pendamping moral. Di sisi lain, masih banyak yang menghadapi kendala dalam mengelola dampak negatif dunia digital terhadap terhadap karakter siswa. Oleh karena itu, penting untuk mengkaji lebih jauh bagaimana strategi yang diterapkan oleh lembaga pendidikan Islam dalam membentuk karakter siswa di tengah derasnya arus digitalisasi.
Di era digital, pembentukan karakter tidak cukup hanya melalui ceramah, hafalan nilai, atau kegiatan rutin keagamaan. Diperlukan strategi yang adaptif, kreatif, dan kontekstual agar pendidikan akhlak tetap membumi dalam kehidupan digital siswa.
Berikut adalah beberapa strategi yang dapat diterapkan lembaga pendidikan Islam secara sinergis dan terstruktur.
1. Integrasi Pendidikan Digital Islam
Strategi pertama yang paling mendasar adalah mengintegrasikan nilai-nilai Islam kedalam kurikulum dan praktik pembelajaran digital. Pendidikan Islam di era ini tidak tidak boleh terjebak pada metode konvensional yang minim pendekatan teknologi. Sebaliknya nilai-nilai seperti kejujuran, amanah, toleransi, dan tanggung jawab harus dikontekstualisasikan dalam dunia digital.
Misalnya, materi adab bersosialisasi dalam islam dapat dikembangkan menjadi “Etika Bermedia Sosial dalam Islam”, dimana siswa diajarkan bagaimana menyampaikan pendapat secara santun di internet, menghindari hoaks, serta menjaga kehormatan diri dari orang lai di ruang digital. Guru-guru PAI juga bisa mengajarkan tefsir-tematik atau hadits tentang teknologi, kecanggihan ilmu pengetahuan, dan moralitas dalam komunikasi virtual.
2. Model Keteladanan dalam Era Digital
Tidak ada pendidikan karakter yang lebih kuat selain melalui keteladanan. Dalam islam, konsep uswah hasanah adalah fondasi penting dalam mendidik. Maka guru dan tenaga pendidik di lembaga islam harus mampu menampilkan perilaku yang mencerminkan karakter baik, tidak hanya dalam interaksi langsung, tapi juga dalam dunia maya.
Guru yang cakap dalam menggunakan media sosial secara bijak, tidak menyebar konten negatif serta aktif memposting hal-hal inspiratif dan Islami, secara tidak langsung akan menjadi rujukan siswa. Bahkan keteladanan guru dalam menyampaikan tugas-tugas digital, disiplin waktu, dan etika komunikasi daring juga menjadi ajang pembelajaran karakter yang nyata bagi peserta didik.
3. Penerapan Pendidikan Berbasis Teknologi
Strategi berikutnya adalah penerapan teknologi bukan sebagai pengalih perhatian, tetapi sebagai sarana efektif dalam penguatan karakter. Lembaga pendidikan Islam harus berani membuat lompatan untuk memanfaatkan Learning Management System (LMS), aplikasi pengawasan digital, dan konten multimedia yang mendidik
Contohnya sekolah dapat membuat portal pembelajaran yang tidak hanya menyimpan materi akademik, tetapi juga konten edukatif tentang etika Islam, kisah sahabat Nabi, atau refleksi moral. Siswa juga bisa diberikan tugas kreatif yang menggabungkan unsur tegnologi dan karakter, seperti membuat vlog dakwah, podcast kajian remaja, atau desain grafis bertema akhlak Islami.
4. Pemberdayaan Kegiatan Keagamaan Digital
Era digital tidak menghalangi pelaksanaan kegiatan keagamaan, bahkan bisa memperluas jangkauan dan partisipasi. Lembaga pendidikan Islam dapat memanfaatkan platform digital untuk memberdayakan kegiatan keagamaan yang membentuk karakter, seperti kajian daring, tadarus digital, atau kultum harian via podcast sekolah.
Lembaga pendidikan juga dapat membentuk komunitas keagamaan berbasis digital seperti grup diskusi Islami via Telegram, kelas online penguatan akhlak, hingga pelatihan konten Islami. Upaya ini memberikan ruang ekspresi sekaligus kontrol moral di dunia maya, yang sering kali sulit dijangkau oleh metode pembinaan tradisional.
5. Kontrol dan Pendampingan Orang Tua dan Guru
Pendidikan karakter tidak akan efektif jika hanya bertumpu pada sekolah. Senergi antara lembaga pendidikan dan keluarga sangat penting, terlebih dalam mengontrol penggunaan teknologi digital yang lebih banyak dilakukan dirumah. Oleh karena itu, strategi penting lainnya adalah memperkuat kontrol dan pendampingan orang tua dan guru secara bersamaan.
Sekolah dapat membuat program penting digital Islam, yakni pelatihan dan edukasi bagi orang tua tentang pentingnya membatasi waktu penggunaan gadget, memilih aplikasi Islami yang bermanfaat, hingga cara mendampingi anak saat menggunakan media sosial. Orang tua perlu didorong agar tidak hanya menjadi pengawas, tetapu juga menjadi teladan dalam penggunaan teknologi yang beretika dan Islami.
Di sisi lain, guru juga perlu terus diperkuat dalam kompetensi digital dan pendidikan karakter. Pelatihan guru tentang pedagigik digital, integrasi nilai dalam teknologi, hingga manajemen pembelajaran daring yang bernuansa Islami adalah hal yang mendesak. Dengan adanya guru yang professional, berwawasan teknologi, dan berakhlak mulia, siswa akan merasakan proses pembelajaran yang utuh secara ilmu dan karakter.[]
Penulis :
Kharisma Nur Faidah, mahasiswa STITMA Yogyakarta