Di zaman sekarang, berkomunikasi terasa semakin mudah. Pesan bisa dikirim hanya dalam hitungan detik, panggilan dapat dilakukan tanpa harus bertatap muka, dan pendapat bisa disampaikan ke banyak orang lewat satu unggahan media sosial. Namun, semakin mudahnya komunikasi justru tidak selalu berbanding lurus dengan kualitasnya. Pesan memang sampai, tetapi sering kali perasaan tidak ikut tersampaikan.
Saya pernah berada di situasi ketika sudah membalas pesan seseorang dengan cepat, tetapi tetap dianggap cuek. Tidak ada kata kasar, tidak ada balasan yang diabaikan, namun hubungan terasa renggang. Dari pengalaman itu, saya menyadari bahwa komunikasi bukan hanya soal kecepatan membalas, melainkan soal bagaimana pesan tersebut disampaikan dan dirasakan.
Dalam konteks mahasiswa dan generasi muda, komunikasi yang melibatkan perasaan menjadi keterampilan yang semakin penting. Perbedaan pendapat di kampus merupakan hal yang wajar, namun tanpa empati, diskusi mudah berubah menjadi konflik. Hal ini sejalan dengan pernyataan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, Nadiem Makarim, yang menyebut bahwa “empati adalah kunci dalam membangun komunikasi dan kolaborasi yang sehat.” Kutipan tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan komunikasi tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan berpikir atau keberanian berbicara, tetapi juga oleh kemampuan memahami perasaan orang lain.
Sering kali kita merasa sudah mendengarkan, padahal sebenarnya hanya menunggu giliran berbicara. Dalam komunikasi yang melibatkan perasaan, mendengarkan berarti berusaha memahami, bukan sekadar menanggapi. Kita perlu menangkap emosi di balik kata-kata, nada yang digunakan, bahkan jeda dalam pembicaraan. Sikap seperti ini mengharuskan kita untuk tidak tergesa-gesa menyela atau langsung menghakimi.
Penerapannya bisa dimulai dari hal sederhana. Memberikan perhatian penuh saat seseorang bercerita tanpa sibuk dengan ponsel adalah bentuk penghargaan yang sering diremehkan. Begitu pula saat menyampaikan kritik. Kritik yang dibungkus dengan empati dan bahasa yang tepat akan lebih mudah diterima dibandingkan kata-kata keras yang justru melukai.
Tantangan komunikasi yang melibatkan perasaan semakin terasa di era digital. Pesan berbasis teks tidak mampu menyampaikan ekspresi wajah, intonasi suara, atau bahasa tubuh. Akibatnya, kalimat yang dimaksudkan biasa saja bisa terdengar dingin, bahkan menyakitkan. Di sinilah kehati-hatian dalam memilih kata menjadi sangat penting, terutama saat berkomunikasi melalui media sosial atau aplikasi pesan singkat.
Bagi mahasiswa dan generasi muda, kemampuan berkomunikasi yang melibatkan perasaan merupakan keterampilan yang krusial. Di lingkungan kampus, perbedaan pendapat adalah hal yang wajar. Namun, perbedaan tersebut akan lebih mudah dikelola jika disampaikan dengan sikap saling menghargai. Ketegasan tetap dibutuhkan, tetapi empati membuat komunikasi tidak berubah menjadi konflik.
Dalam rutinitas harian, terutama di kalangan mahasiswa dan generasi muda, komunikasi tanpa melibatkan perasaan sering terjadi tanpa disadari. Diskusi kelompok yang seharusnya menjadi ruang bertukar gagasan bisa berubah menjadi adu argumen. Pesan singkat yang tidak segera dibalas kerap dianggap sebagai sikap acuh, sementara candaan yang dimaksudkan ringan justru melukai perasaan. Situasi-situasi ini menunjukkan bahwa kecanggihan teknologi komunikasi belum tentu diiringi dengan kedewasaan emosional dalam berinteraksi.
Selain itu, tekanan akademik dan tuntutan sosial juga membuat banyak orang berkomunikasi dalam kondisi lelah secara mental. Saat emosi tidak stabil, kata-kata yang keluar sering kali lebih tajam dari yang dimaksudkan. Di sinilah pentingnya kesadaran diri dalam berkomunikasi. Menunda respons ketika emosi belum terkendali justru bisa menjadi bentuk komunikasi yang lebih bijak dibandingkan membalas dengan kata-kata yang berpotensi melukai.
Komunikasi yang melibatkan perasaan juga berperan besar dalam membangun kepercayaan. Ketika seseorang merasa dihargai dan dipahami, hubungan akan tumbuh lebih kuat. Sebaliknya, komunikasi yang dipenuhi emosi negatif justru menciptakan jarak. Kepercayaan tidak lahir dari kata-kata manis semata, melainkan dari sikap yang konsisten dalam berinteraksi.
Pada akhirnya, komunikasi yang melibatkan perasaan mengingatkan kita bahwa setiap kata memiliki dampak. Kata-kata bisa menjadi penguat, tetapi juga bisa melukai jika disampaikan tanpa empati. Di tengah dunia yang bergerak cepat dan penuh distraksi, komunikasi yang melibatkan perasaan adalah cara sederhana namun bermakna untuk menjaga kualitas hubungan antarmanusia.
Ketika perasaan hadir dalam setiap interaksi, komunikasi tidak lagi sekadar menyampaikan informasi, tetapi menjadi proses saling memahami. Di situlah komunikasi benar-benar menemukan maknanya.[]
Penulis :
Muhamad Davy Alfareza, mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi di Universitas Pamulang


