![]() |
| Foto (https://share.google/hJ5JOhiK9jh7ideq6) |
Pernikahan campuran antara suku Jawa dan Sunda ering kali dianggap sebagai hal yang biasa di Indonesia. Namun, jika ditelisik melalui kacamata Etnografi Komunikasi, Persatuan Dua Etnis Budaya Ini sebenarnya adalah sebuah laboratorium komunikasi yang sangat kompleks. Di balik kemiripan geografisnya, terdapat perbedaan mendalam pada “pola rasa” dan tata cara dinamika unik dalam rumah tangga.
1. Pertemuan Dua Budaya Konteks Tinggi (High Context Culture)
Secara teoretis, merujuk pada pemikiran Edward T. Hall , baik Budaya Jawa maupun sudah termasuk dalam High Context Culture. Artinya, pesan tidak selalu disampaikan secara verbal(lisan), melainkan tersirat melalui bahasa tubuh, intonasi, dan situasi.
Dalam pernikhan Jawa-Sunda, konflik sering kali bukan lahir dari kata-kata kasar, melankan dari “salah baca” terhadap isyarat non-verbal. Orang Jawa kental dengan konsep sungkan dan ngemong bertemu dengan orang Sunda yang menjunjung tinggi nilai someah (ramah) dan silih asah, silih asuh.
Tantanganya muncul ketika standar “kehalusan” keduanya berbenturan apa yang dianggap sopan oleh pihk Sunda, mungkin dianggap kurang formal oleh pihak Jawa, dan sebaliknya.
2. Dinamika Unggah-Ungguh dan Undak-usuk
Etnografi komunikasi menaruh perhatian besar pada pilihan kata. Dalam Budaya Jawa, kita mengenal Unggah-ungguh bahasa, sementara dalam Sunda terdapat Undah-usuk basa. Meski keduanya memiliki tingkatan bahasa (halus,sedang.kasar), rasa yang dihasilkan berbeda.
Dalam perkawinan campuran, sering terjadi fenomena “akomodasi komunikasi”. Misalnya, seseorang menantu asal Sunda yang mencoba berbicara bahasa Jawa halus kepada mertuanya agar dianggap nurut, atau suami asal Jawa yang belajar intonasi Sunda agar tidak terdengar terlalu “kaku”. Disini, bahasa bukan lagi sekedar alat tukar informasi, melainkan alat negoisasi identitas untuk menjaga harmoni keluarga besar.
3. Komunikasi Non-verbal Antara “Meneng dan Ngariung”
Salah satu studi menarik dalam etnografi komunikasi adalah bagaimana ruang dan keheningan dimaikani. Budaya Jawa sering kali maknai keheningan (meneng) sebagai bentuk kontrol diri atau upaya menghindari konflik. Budaya Sunda Cenderung lebih ekspresif dalam kebersamaan (ngariung) dan humor.
Ketidaksamaan dalam memaknai ekspresi ini bisa menimbulkan persepsi salah. Pasangan asal Sunda mugkin menggangap pasanganya yang jaea terlalu tertutup atau sulit dibaca, sementara pasangan Jawa mungkin merasa pasanganya yang Sunda terlalu blak-blakan atau kurang Priyayi.
4. Melampaui Mitos Sejarah Melalui Komunikasi Sehari-hari
Opini publik sering kali masih mengaitkan relasi Jawa-Sunda dengan mitos sejarah masa lalu. Namun, studi Etnografi dalan rumah tangga menunjukan bahwa komunikasi antarpribadi yang intens mampu meruntuhkan tembok stereotip tersebut. Pernikahan campuran ini menciptakan “ budaya ketiga” sebuah hibriditas dimana nilai-nilai Jawa dan Sunda disaring dan diambil intisarunya.
Pola asuh anak dalam keluarga Jawa-Sunda biasanya menjadi titik temu terbaik. Anak-anak dibesarkan dengan dualitas nilai: ketenangan dan keteguhan Jawa, serta keramahan dan keceriaan Sunda.
Kesimpulan
Perkawinan campuran jawa-Sunda adalah bukti bahwa perbedaan budaya bukanlah penghalang, melainkan pengaya, keberhasilan komunikasi dalam pasangan ini tidak bergantung pada kefasihan bahasa daerah masing-masing, melainkan pada empati komunikastif kemampuan untuk memahami “bahasa rasa” dibalik kata-kata. Pada akhirnya, harmoni tercipta bukan karena kedua budaya menjadi sama, tetapi karena keduanya berhasil membangun kode komunkasi baru yaang berbasis pada rasa saling menghormati.[]
Penulis :
Arzilna Indi Nafisa, mahasiswi Ilmu Komunikasi Universitas Pamulang


