![]() |
| Foto/ILUSTRASI |
Kalau kita perhatikan, hampir semua hal di sekitar kita hari ini tidak lepas dari media. Bangun tidur membuka ponsel, lihat notifikasi, menonton video singkat, membaca berita, lalu tanpa sadar ikut membicarakan isu yang sama dengan banyak orang. Aktivitas seperti itu sebenarnya adalah bagian dari komunikasi massa: pesan disampaikan lewat media, diterima banyak orang sekaligus, lalu membentuk percakapan publik.
Karena pengaruhnya besar, komunikasi massa tidak cukup dipahami hanya sebagai “media menyampaikan informasi”. Ada proses produksi, ada pilihan isu, ada cara pengemasan, dan ada dampak yang muncul pada pikiran maupun perilaku masyarakat. Maka dari itu, teori komunikasi massa penting dipelajari supaya kita bisa membaca media dengan lebih kritis, bukan sekadar menjadi penonton atau pembaca pasif.
Secara sederhana, komunikasi massa adalah proses penyampaian pesan melalui media massa (seperti surat kabar, radio, televisi, film, dan platform digital) kepada khalayak yang luas. Kata kuncinya ada pada “media” dan “khalayak luas”. Pesan yang sama dapat diterima banyak orang, tetapi responsnya bisa berbeda-beda tergantung latar belakang, pengalaman, dan kebutuhan masing-masing.
Ruang lingkup komunikasi massa juga tidak hanya berhenti pada penyebaran pesan. Kajian komunikasi massa biasanya mencakup bagaimana pesan itu dibuat (siapa yang menulis, siapa yang mengedit, kebijakan redaksi), bagaimana pesan disalurkan melalui teknologi, bagaimana audiens memaknai pesan, sampai efek yang ditimbulkan. Jadi, komunikasi massa itu proses yang panjang dan berlapis.
Ada beberapa ciri komunikasi massa yang sering dibahas. Pertama, komunikatornya bersifat melembaga. Artinya, yang “bicara” bukan individu biasa, tetapi institusi media dengan struktur organisasi yang jelas. Kedua, audiensnya heterogen dan tersebar. Media menyasar orang banyak yang tidak saling mengenal, sehingga pesannya biasanya dibuat cukup umum agar bisa diterima oleh berbagai kelompok.
Ketiga, komunikasi massa cenderung satu arah. Pada media konvensional, umpan baliknya lambat (misalnya lewat surat pembaca). Namun di media digital, umpan balik bisa jauh lebih cepat melalui komentar atau share, walaupun tetap tidak sepenuhnya setara seperti komunikasi tatap muka. Keempat, komunikasi massa bergantung pada teknologi (kamera, studio, pemancar, internet). Tanpa perangkat teknis, pesan tidak akan sampai ke audiens secara luas.
Terakhir, ada peran gatekeeper orang atau tim yang menyaring informasi sebelum dipublikasikan. Gatekeeper menentukan mana yang layak diberitakan, mana yang harus disunting, dan bagaimana cara menyajikannya. Di sinilah kita bisa melihat bahwa media tidak pernah benar-benar “netral”, karena selalu ada proses seleksi.
Untuk menjelaskan proses komunikasi massa, salah satu rumus paling klasik adalah formula Lasswell: “who says what in which channel to whom with what effect” . Rumus ini sederhana, tapi membantu kita memetakan alur komunikasi: siapa yang berbicara (media), apa pesannya (konten), melalui saluran apa (televisi, radio, internet), kepada siapa (audiens), dan apa dampaknya (efek). Selain gatekeeper di dalam media, ada juga regulator di luar media—lembaga yang mengawasi isi media agar tidak melanggar aturan atau membahayakan publik. Dalam praktiknya, media selalu berada dalam tarik-menarik antara kepentingan bisnis, kebebasan berekspresi, dan tanggung jawab sosial. Ketiga hal ini sering jadi sumber debat, apalagi ketika isu yang dibahas sensitif.
Pembahasan komunikasi massa biasanya membedakan media lama (old media) dan media baru (new media). Old media mencakup koran, majalah, radio, televisi, dan film. Produksinya relatif terpusat dan membutuhkan organisasi yang besar. Sedangkan new media berbasis internet: website berita, YouTube, podcast, media sosial, dan sebagainya. Di sini produksi pesan lebih mudah, lebih cepat, dan bisa dilakukan individu.
New media punya ciri yang khas: interaktif, tidak terikat ruang-waktu, formatnya bisa campuran (teks, gambar, audio, video), dan pesan bisa disebarkan ulang oleh pengguna. Ini mengubah posisi audiens. Kalau dulu audiens lebih banyak menerima, sekarang audiens juga bisa “memproduksi” pesan, misalnya lewat unggahan, komentar, atau konten buatan sendiri. Namun, kita juga harus ingat bahwa media baru tetap punya kekuasaan lewat algoritma: apa yang muncul di timeline kita tidak murni pilihan kita, melainkan hasil seleksi sistem platform.
Komunikasi massa punya banyak fungsi dalam masyarakat. Fungsi yang paling jelas tentu fungsi informasi: memberikan kabar tentang peristiwa, kebijakan, atau kondisi sosial. Selain itu ada fungsi hiburan, yang sering kali justru paling dominan dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari acara TV sampai konten viral. Di luar itu, ada fungsi persuasi (mempengaruhi sikap dan tindakan), fungsi transmisi budaya (mewariskan nilai dan memperkenalkan perubahan), serta fungsi pengawasan sosial. Media juga dapat berperan sebagai alat kontrol kekuasaan, misalnya dengan mengungkap skandal atau menyuarakan isu yang diabaikan. Namun, fungsi-fungsi ini bisa berjalan positif atau negatif. Media bisa membantu edukasi publik, tapi bisa juga memicu kepanikan dan polarisasi kalau informasi disajikan secara sensasional.
Dalam teori komunikasi massa, ada beberapa pendekatan yang sering dipakai untuk menjelaskan hubungan media dan audiens. Teori jarum hipodermik (atau teori peluru) adalah teori awal yang menganggap media sangat kuat dan mampu “menyuntikkan” pesan langsung ke audiens yang pasif. Teori ini sekarang banyak dikritik, tetapi tetap berguna untuk membaca fenomena propaganda atau disinformasi yang dibuat emosional dan diulang-ulang. Teori kultivasi menjelaskan pengaruh jangka panjang media, terutama televisi. Intinya, semakin sering seseorang terpapar konten tertentu, semakin besar kemungkinan ia menganggap konten itu sebagai cerminan realitas. Contoh yang sering dibahas adalah gambaran dunia sebagai tempat yang penuh kekerasan jika seseorang terlalu sering menonton tontonan kekerasan.
Teori spiral of silence menjelaskan mengapa orang bisa memilih diam ketika merasa pendapatnya berbeda dari mayoritas. Mereka takut dikucilkan. Media dapat memperkuat situasi ini ketika hanya menonjolkan suara tertentu, sehingga kelompok lain merasa tidak aman untuk bicara.
Selain itu, ada uses and gratifications yang melihat audiens sebagai pihak aktif. Orang memilih media sesuai kebutuhan: mencari informasi, hiburan, identitas, atau sekadar merasa terhubung dengan orang lain. Ada juga agenda setting yang menjelaskan bahwa media tidak selalu menentukan apa yang harus kita pikirkan, tetapi sangat berpengaruh dalam menentukan isu apa yang kita anggap penting. Dalam praktiknya, isu yang sering muncul di media biasanya ikut membentuk topik yang ramai di masyarakat. Efek komunikasi massa bisa dilihat dari perubahan pengetahuan (kognitif), perasaan (afektif), sampai tindakan (behavioral). Dalam banyak kasus, efek media tidak terjadi secara instan. Ada efek primer seperti perhatian dan pemahaman, lalu ada efek sekunder yang lebih jauh seperti perubahan sikap dan perilaku.
Karena dampaknya luas, etika komunikasi massa menjadi penting. Media idealnya menjaga akurasi, objektivitas, dan tanggung jawab sosial. Tanpa etika, media bisa berubah menjadi alat kepentingan sempit, misalnya menyebarkan framing yang menyesatkan atau mengorbankan kepentingan publik demi rating dan klik. Di era digital, tantangannya makin besar karena tekanan viral dan algoritma membuat konten provokatif lebih mudah naik daripada konten yang tenang tetapi informatif.
Teori komunikasi massa membantu kita memahami media sebagai institusi sosial yang bekerja melalui proses produksi pesan, seleksi informasi, dan penyebaran teknologi, lalu memunculkan dampak pada audiens. Dengan memahami ciri, fungsi, dan teori-teori komunikasi massa, kita bisa lebih peka melihat bagaimana isu dibentuk, bagaimana opini publik berkembang, dan bagaimana media memengaruhi cara kita memandang dunia.
Pada akhirnya, mempelajari komunikasi massa bukan hanya soal teori, tetapi juga soal sikap. Jika masyarakat punya literasi media yang baik, media bisa menjadi ruang informasi dan kebudayaan yang sehat. Tetapi jika publik tidak kritis, media justru mudah menjadi alat polarisasi dan manipulasi.[]
Penulis :
Zelda Ramadhani, mahasiswa Universitas Pamulang


