![]() |
| Foto/ILUSTRASI |
Komunikasi interpersonal merupakan salah satu aspek penting dalam kehidupan manusia. Hampir setiap aktivitas sehari-hari membutuhkan kemampuan untuk berinteraksi secara efektif dengan orang lain—baik dalam konteks keluarga, pertemanan, pendidikan, hingga organisasi. Untuk memahami bagaimana proses komunikasi bekerja, para ahli mengembangkan berbagai teori yang menjelaskan dinamika, faktor, dan pola dalam komunikasi antarindividu.
Artikel ini membahas definisi, prinsip-prinsip utama, serta teori-teori komunikasi interpersonal yang paling sering digunakan dalam kajian ilmu komunikasi.
Apa Itu Komunikasi Interpersonal?
Komunikasi interpersonal adalah proses pertukaran pesan antara dua orang atau lebih yang terjadi secara langsung, baik secara verbal maupun nonverbal, dengan tujuan membangun pemahaman bersama.
Komunikasi interpersonal melibatkan feedback cepat, hubungan emosional, serta konteks sosial yang memengaruhi makna pesan.
Prinsip-Prinsip Komunikasi Interpersonal
1. Komunikasi Bersifat Transaksional
Komunikasi terjadi secara simultan. Saat satu pihak berbicara, pihak lain tidak hanya mendengarkan tetapi juga memberikan respon nonverbal.
2. Komunikasi Tidak Bisa Tidak Berkomunikasi (You Cannot Not Communicate)
Setiap perilaku adalah pesan—bahkan diam pun mengandung makna.
3. Komunikasi Bersifat Irreversible
Pesan yang sudah terucap tidak bisa ditarik kembali, sehingga kontrol diri penting.
4. Komunikasi Dipengaruhi Konteks
Termasuk budaya, situasi sosial, hubungan, dan lingkungan fisik.
5. Mengandung Makna yang Diciptakan Bersama (Shared Meaning)
Efektivitas komunikasi terjadi ketika kedua pihak mencapai kesepahaman.
Teori-Teori Komunikasi Interpersonal
Berikut teori yang paling relevan dalam kajian komunikasi interpersonal:
1. Social Penetration Theory (Teori Penetrasi Sosial)
Dikembangkan oleh Altman dan Taylor. Teori ini menjelaskan bahwa kedekatan hubungan berkembang melalui proses pengungkapan diri (self-disclosure) yang bertahap, yaitu : 1) Hubungan berkembang dari permukaan (superfisial) ke inti (intimate); 2) Ada dua dimensi pengungkapan diri: breadth (luasnya topik) dan depth (kedalaman informasi).
Contoh:
Ketika mengenal orang baru, seseorang awalnya membicarakan hal umum, lalu semakin lama mulai membahas hal pribadi.
2. Uncertainty Reduction Theory (URT)
Dikembangkan oleh Charles Berger. Teori ini menjelaskan bahwa ketika bertemu orang baru, manusia cenderung berusaha mengurangi ketidakpastian tentang orang tersebut. Terdapat tiga strategi: 1) Passive: Mengamati tanpa interaksi langsung; 2) Active: Mencari informasi lewat pihak lain; dan 3) Interactive: Berkomunikasi langsung untuk memperjelas informasi.
3. Relational Dialectics Theory (RDT)
Dikembangkan oleh Baxter & Montgomery. Teori ini memandang hubungan interpersonal sebagai rangkaian tarik-ulur (tensions) yang berlawanan, misalnya: 1) Kebebasan ↔ Keterikatan; 2) Kejujuran ↔ Privasi; dan 3) Stabilitas ↔ Perubahan. Hubungan harmonis bukan berarti tanpa konflik, tetapi bagaimana pasangan mengelola kontradiksi tersebut.
4. Attribution Theory
Dikembangkan oleh Heider dan Kelley. Teori ini menjelaskan bagaimana seseorang menafsirkan perilaku orang lain, apakah disebabkan faktor internal (kepribadian) atau eksternal (situasi). Contoh: Jika teman terlambat, apakah kita mengira ia malas (internal) atau macet (eksternal)?
5. Johari Window Model
Dikembangkan oleh Joseph Luft & Harry Ingham. Model ini menjelaskan bagaimana self-disclosure dan feedback memengaruhi hubungan interpersonal. Area dalam Johari Window: 1) Open Area – diketahui diri dan orang lain; 2) Blind Area – diketahui orang lain tapi tidak oleh diri sendiri; 3) Hidden Area – informasi pribadi yang disembunyikan; dan 4) Unknown Area – tidak diketahui diri maupun orang lain. Tujuannya memperbesar open area untuk hubungan yang lebih sehat.
6. Expectancy Violations Theory (EVT)
Dikembangkan oleh Judee Burgoon. Teori ini membahas bagaimana pelanggaran ekspektasi dalam interaksi memengaruhi persepsi kita. Contoh: Ketika seseorang tiba-tiba mendekat terlalu dekat dalam percakapan, reaksi kita bisa positif atau negatif bergantung pada siapa yang melakukannya.
7. Social Exchange Theory
Dikembangkan oleh Thibaut & Kelley. Teori ini menyatakan bahwa hubungan interpersonal adalah hasil pertimbangan untung rugi (cost–benefit). Orang akan melanjutkan hubungan jika keuntungannya dirasa lebih besar daripada biayanya.
Kesimpulan
Teori komunikasi interpersonal membantu kita memahami bagaimana hubungan dibangun, dipertahankan, dan terkadang mengalami konflik. Dengan memahami konsep seperti pengungkapan diri, pengurangan ketidakpastian, persepsi, hingga negosiasi kebutuhan, kita dapat berkomunikasi lebih efektif dalam berbagai konteks kehidupan.[]
Penulis :
Febryan Priyo Nugroho, alamat domisili Jln. Pepaya V 45 Cilincing, Jakarta Utara, email : febryan535@gmail.com



