
Foto/ILUSTRASI
Dahulu status sosial seseorang mudah dibaca
lewat logo-logo besar yang terpampang dari apa yang kita pakai. Tapi kini kita
mengenal quiet luxury, sebuah
estetika "kekayaan yang senyap". Tidak ada logo mencolok, hanya
potongan pakaian minimalis, warna-warna bumi (earth tone) dan material yang terlihat berkualitas tinggi.
Quiet
luxury sejatinya adalah tentang kualitas dan keawetan
(durability). Namun, ketika ia
diadopsi secara massal oleh industri fast
fashion, esensinya hilang. Yang tersisa hanyalah tren musiman yang memaksa
pekerja bergaji kecil untuk terus membeli barang baru agar tetap terlihat
"relevan".
Masalahnya, ketika estetika kaum old money ini turun ke layar ponsel
kelas pekerja bergaji Upah Minimum Regional (UMR), ia tidak lagi menjadi simbol
kelas melainkan jerat finansial baru. Media sosial terutama TikTok dan
Instagram, telah merekonstruksi kemewahan secara semu. Algoritma menyuguhkan konten tentang
bagaimana tampil
"mahal" tanpa harus terlihat seperti papan iklan berjalan.
Bagi generasi muda yang tumbuh di tengah
gempuran visual, quiet luxury dianggap
sebagai standar baru kesopanan dan profesionalisme. Sayangnya, ada jurang lebar
antara citra yang diinginkan dan isi dompet yang tersedia.
Pemerintah melalui Kementerian Ketenagakerjaan
telah menetapkan kenaikan rata- rata Upah Minimum Provinsi (UMP) 2025 sebesar 6,5%.
Meskipun terlihat naik,
angka ini nyatanya hanya cukup
untuk menambal inflasi kebutuhan pokok. Jakarta dengan UMR 2026 yang berada di
kisaran Rp5,7 juta - Rp5,9 juta, margin untuk "belanja estetika"
sangatlah tipis.
Laporan Badan
Pusat Statistik (BPS) mengenai struktur pengeluaran rumah tangga, porsi
pendapatan kelas menengah bawah semakin tersedot oleh inflasi biaya tempat
tinggal dan pangan. Mengejar gaya quiet
luxury yang aslinya mengedepankan kualitas material mahal seperti cashmere atau
sutra di tengah stagnasi upah adalah sebuah paradoks. Untuk mendapatkan satu
set pakaian yang terlihat mahal, seorang pekerja mungkin harus merelakan jatah
transportasi atau nutrisinya selama berminggu-minggu.
Sosiolog Alain de Botton dalam bukunya Status Anxiety menjelaskan bahwa
kecemasan akan status muncul ketika kita merasa gagal memenuhi standar sukses
yang ditetapkan masyarakat. Di era digital, standar itu adalah estetika. Tampil
dengan gaya "berantakan" atau "murahan" dianggap sebagai kegagalan
sosial. Jembatan antara gaji yang pas-pasan dan keinginan tampil mewah ini akhirnya dibangun
oleh utang.
Data Otoritas
Jasa Keuangan (OJK) per Oktober 2025 mencatat angka outstanding pinjol menembus Rp92,9 triliun. Survei internal
industri menunjukkan bahwa hampir 42%
Gen Z menggunakan fitur paylater khusus
untuk kategori Fashion dan Kecantikan.
Hal ini membuktikan bahwa jerat quiet
luxury bukan sekadar kiasan, melainkan angka nyata yang mengancam
stabilitas finansial anak muda demi validasi visual.
Pada akhirnya, terjebak dalam arus quiet luxury dengan kondisi finansial
yang rapuh hanya akan memperpanjang rantai kemiskinan struktural. Kelas sosial
tidak akan pernah bisa benar-benar dibeli hanya dengan selembar kemeja linen
polos jika di baliknya ada cicilan yang mencekik. Kemewahan
yang paling "senyap" dan nyata bagi mereka yang bergaji pas-
pasan bukanlah pakaian mahal, melainkan saldo
tabungan yang cukup dan kesehatan mental yang tidak terganggu oleh angka likes di Instagram.[]
Penulis :
Qonna’atu Mulhimma, mahasiswa Universitas Tazkia
Bogor

