Notification

×

Iklan

Iklan

Jerat Quiet Luxury: Saat Gaji UMR Dipaksa Mengejar Estetika Kelas Atas

Rabu, 11 Maret 2026 | Maret 11, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-03-11T03:18:27Z
abati parfum | Parfum Arab Terbaik

Foto/ILUSTRASI

Dahulu status sosial seseorang mudah dibaca lewat logo-logo besar yang terpampang dari apa yang kita pakai. Tapi kini kita mengenal quiet luxury, sebuah estetika "kekayaan yang senyap". Tidak ada logo mencolok, hanya potongan pakaian minimalis, warna-warna bumi (earth tone) dan material yang terlihat berkualitas tinggi.

 

Quiet luxury sejatinya adalah tentang kualitas dan keawetan (durability). Namun, ketika ia diadopsi secara massal oleh industri fast fashion, esensinya hilang. Yang tersisa hanyalah tren musiman yang memaksa pekerja bergaji kecil untuk terus membeli barang baru agar tetap terlihat "relevan".

 

Masalahnya, ketika estetika kaum old money ini turun ke layar ponsel kelas pekerja bergaji Upah Minimum Regional (UMR), ia tidak lagi menjadi simbol kelas melainkan jerat finansial baru. Media sosial terutama TikTok dan Instagram, telah merekonstruksi kemewahan secara semu. Algoritma menyuguhkan konten tentang bagaimana tampil "mahal" tanpa harus terlihat seperti papan iklan berjalan.

 

Bagi generasi muda yang tumbuh di tengah gempuran visual, quiet luxury dianggap sebagai standar baru kesopanan dan profesionalisme. Sayangnya, ada jurang lebar antara citra yang diinginkan dan isi dompet yang tersedia.

 

Pemerintah melalui Kementerian Ketenagakerjaan telah menetapkan kenaikan rata- rata Upah Minimum Provinsi (UMP) 2025 sebesar 6,5%. Meskipun terlihat naik, angka ini nyatanya hanya cukup untuk menambal inflasi kebutuhan pokok. Jakarta dengan UMR 2026 yang berada di kisaran Rp5,7 juta - Rp5,9 juta, margin untuk "belanja estetika" sangatlah tipis.

 

Laporan Badan Pusat Statistik (BPS) mengenai struktur pengeluaran rumah tangga, porsi pendapatan kelas menengah bawah semakin tersedot oleh inflasi biaya tempat tinggal dan pangan. Mengejar gaya quiet luxury yang aslinya mengedepankan kualitas material mahal seperti cashmere atau sutra di tengah stagnasi upah adalah sebuah paradoks. Untuk mendapatkan satu set pakaian yang terlihat mahal, seorang pekerja mungkin harus merelakan jatah transportasi atau nutrisinya selama berminggu-minggu.

 

Sosiolog Alain de Botton dalam bukunya Status Anxiety menjelaskan bahwa kecemasan akan status muncul ketika kita merasa gagal memenuhi standar sukses yang ditetapkan masyarakat. Di era digital, standar itu adalah estetika. Tampil dengan gaya "berantakan" atau "murahan" dianggap sebagai kegagalan sosial. Jembatan antara gaji yang pas-pasan dan keinginan tampil mewah ini akhirnya dibangun oleh utang.

 

Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per Oktober 2025 mencatat angka outstanding pinjol menembus Rp92,9 triliun. Survei internal industri menunjukkan bahwa hampir 42% Gen Z menggunakan fitur paylater khusus untuk kategori Fashion dan Kecantikan. Hal ini membuktikan bahwa jerat quiet luxury bukan sekadar kiasan, melainkan angka nyata yang mengancam stabilitas finansial anak muda demi validasi visual.

 

Pada akhirnya, terjebak dalam arus quiet luxury dengan kondisi finansial yang rapuh hanya akan memperpanjang rantai kemiskinan struktural. Kelas sosial tidak akan pernah bisa benar-benar dibeli hanya dengan selembar kemeja linen polos jika di baliknya ada cicilan yang mencekik. Kemewahan yang paling "senyap" dan nyata bagi mereka yang bergaji pas-


pasan bukanlah pakaian mahal, melainkan saldo tabungan yang cukup dan kesehatan mental yang tidak terganggu oleh angka likes di Instagram.[]

 

Penulis :

Qonna’atu Mulhimma, mahasiswa Universitas Tazkia Bogor

×
Berita Terbaru Update