Kadang saya terpikir, bagaimana bisa seorang pemain sepak bola—yang tugas utamanya cuma memasukkan bola ke gawang—bisa melakukan apa yang gagal dilakukan oleh ribuan kampanye politik atau iklan layanan masyarakat? Tapi itulah yang terjadi di Liverpool. Mohamed Salah bukan cuma sekadar striker tajam; dia semacam fenomena sosial yang berjalan di lapangan hijau.
Kalau kalian mampir ke stadion Anfield, ada satu nyanyian yang menurut saya sangat ikonik sekaligus agak "nyeleneh" kalau didengar telinga awam:
"If he’s good enough for you, he’s good enough for me. If he scores another few, then I’ll be Muslim too!"
Liriknya sederhana, bahkan cenderung bercanda khas suporter bola yang mabuk kemenangan. Tapi kalau kita bedah sedikit lebih dalam, ini adalah pernyataan besar. Di negara yang sempat tegang karena isu Islamofobia, ada ribuan warga Inggris yang tiba-tiba merasa bahwa menjadi Muslim itu "keren" atau setidaknya "baik-baik saja" hanya karena Mo Salah.
Menariknya, hal ini bukan sekadar klaim emosional fans Liverpool. Stanford University pernah bikin studi serius soal ini tahun 2019. Hasilnya cukup bikin kaget: kejahatan kebencian (hate crimes) terhadap Muslim di wilayah Merseyside turun drastis sampai 18,9% sejak Salah datang.
Kenapa bisa? Jawabannya bukan karena Salah ceramah di podium. Dia justru melakukan sebaliknya. Dia hanya menjadi dirinya sendiri. Dia sujud syukur setiap kali cetak gol, dia tidak malu menunjukkan identitasnya, dan dia tetap rendah hati. Hal-hal sederhana inilah yang "memanusiakan" pandangan orang Barat terhadap Islam. Orang tidak lagi melihat Islam lewat berita konflik di TV, tapi lewat senyum Salah setelah ia menjebol gawang Manchester United.
Kalau bicara soal mualaf, kisah yang paling sering diangkat adalah Ben Bird. Dia ini tipikal suporter garis keras yang awalnya punya prasangka buruk banget sama Islam. Tapi Salah mengubah itu semua.
Ben pernah bilang di sebuah wawancara kalau Salah adalah orang pertama yang bikin dia merasa "nyambung" sama gaya hidup Muslim. Dia melihat Salah teguh pada prinsipnya tapi tetap dicintai semua orang. Akhirnya, rasa penasaran itu membawa Ben belajar Al-Qur'an dan masuk Islam. Ini gila, kan? Perubahan ideologi sedalam itu bermula dari seorang penyerang sayap.
Kenapa Pengaruhnya Begitu Kuat?
Mungkin karena di Inggris, sepak bola itu sudah kayak agama kedua. Saat seseorang memberi kamu kebahagiaan luar biasa lewat gol-golnya, kamu cenderung akan mencintai segala hal tentang orang itu—termasuk apa yang dia sembah.
Ada beberapa poin yang saya rasa jadi kunci: 1) Dia Konsisten: Salah nggak berubah jadi "Barat" demi disukai. Dia tetap Mo Salah yang berjenggot dan sujud di lapangan; 2) Prestasi Tanpa Debat: Susah buat membenci orang yang baru saja memenangkan Liga Inggris dan Liga Champions buat klubmu. Prestasi itu membungkam prasangka; dan 3) Akhlaknya : Kita sering dengar dia nyumbang ambulans, bangun sekolah di Mesir, atau membantu tunawisma di Liverpool. Itu dakwah paling nyata tanpa perlu buka mulut.
Bahkan Jurgen Klopp pernah bilang kalau sangat luar biasa melihat bagaimana Mo bisa menyatukan orang-orang di tengah dunia yang makin terkotak-kotak. Warga lokal Liverpool sekarang bahkan merasa masjid bukan lagi tempat yang asing atau menakutkan, tapi "rumahnya orang-orang seperti Mo Salah."
Moral Yang Dapat Diambil
Pada akhirnya, apa yang dilakukan Salah menunjukkan satu hal: perilaku yang baik (akhlaq) itu jauh lebih berisik daripada kata-kata. Dia tidak memaksa orang jadi mualaf, tapi dia membuat orang ingin mengenal agamanya. Bagi warga Inggris, Salah adalah bukti hidup bahwa kamu bisa jadi Muslim yang taat sekaligus menjadi pahlawan bagi jutaan orang di tanah Britania.
Sepertinya, kita butuh lebih banyak "Mo Salah" di bidang-bidang lain, bukan cuma di sepak bola.[]
Penulis :
Al Jihad Rifatul Imani, mahasiswa Manajemen Bisnis Syariah Universitas Tazkia



