Notification

×

Iklan

Iklan

Blok Andaman Jadi Magnet Investasi, Korporasi Nasional dan Asing Berebut Masuk KEK Arun

Senin, 13 Juli 2026 | Juli 13, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-07-13T14:38:23Z
abati parfum | Parfum Arab Terbaik


Tamiang-News.com, |BANDA ACEH – Potensi cadangan gas raksasa di Blok Andaman terus menarik perhatian investor nasional maupun internasional. Meski proyek pengembangan migas di kawasan lepas pantai Aceh tersebut masih dalam tahap proses, sejumlah korporasi, termasuk badan usaha milik negara (BUMN), mulai menjajaki peluang investasi hilirisasi migas di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Arun Lhokseumawe.


Gubernur Aceh, Muzakir Manaf atau yang akrab disapa Mualem, menyambut positif minat investasi tersebut. Melalui Juru Bicara Pemerintah Aceh, Nurlis Effendi, Mualem menegaskan bahwa Pemerintah Aceh membuka peluang seluas-luasnya bagi investor yang ingin berinvestasi di KEK Arun.


“Semoga membawa kebaikan dan kemakmuran bagi Aceh,” ujar Mualem, Senin (13/7/2026).


Menurut Nurlis, hilirisasi migas dari Blok Andaman merupakan salah satu agenda strategis Pemerintah Aceh dalam mendorong pertumbuhan ekonomi daerah. Karena itu, Gubernur meminta seluruh pihak terkait, terutama jajaran Pemerintah Aceh, mempersiapkan diri untuk menyambut masuknya investasi di sektor tersebut.


“Hilirisasi migas dari Blok Andaman memang menjadi agenda utama Gubernur Mualem. Karena itu, seluruh pihak harus mulai mempersiapkan diri, terutama Pemerintah Aceh,” kata Nurlis.


Sejumlah perusahaan asing dan nasional diketahui telah melakukan penjajakan untuk terlibat dalam pengembangan industri hilir berbasis gas di KEK Arun. Salah satunya adalah PT Indoasia Oiltank Terminal yang bergerak di sektor infrastruktur energi dan petrokimia.


Perusahaan tersebut melakukan pertemuan dengan Pemerintah Aceh di Kantor Gubernur Aceh pada Senin (13/7/2026). Rombongan diterima langsung oleh Sekretaris Daerah Aceh, M. Nasir Syamaun. Salah satu pemegang saham perusahaan itu adalah Mohamad Bawazeer, pimpinan Indrillco Group sekaligus Ketua Komite Bilateral Arab Saudi Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia.


Dalam pertemuan tersebut, PT Indoasia Oiltank Terminal turut menggandeng Fakultas Teknik Kimia Universitas Syiah Kuala (USK) Banda Aceh dengan melibatkan tiga profesor teknik kimia sebagai mitra akademis.


Sekda Aceh M. Nasir Syamaun menyatakan apresiasinya terhadap minat investasi yang masuk ke Aceh, khususnya yang berpotensi menciptakan lapangan kerja dan mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.


“Kami menyambut baik setiap calon investor yang ingin berkontribusi dalam mendorong pertumbuhan ekonomi dan membuka lapangan kerja di Aceh,” ujar Nasir.


Ia juga mengapresiasi langkah perusahaan yang melibatkan perguruan tinggi lokal dalam rencana pengembangan industri hilir di KEK Arun.


“Ini menjadi pertanda niat baik perusahaan sekaligus membawa dampak positif bagi perguruan tinggi di Aceh,” tambahnya.


Selain PT Indoasia Oiltank Terminal, minat investasi juga datang dari PT Pupuk Indonesia (Persero). Dalam rapat kerja bersama Komisi IV DPR RI di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, pada 7 April 2026, Direktur Utama PT Pupuk Indonesia, Rahmad Pribadi, menyampaikan rencana pembangunan dua pabrik metanol di Aceh dan Kalimantan Timur guna memenuhi kebutuhan biodiesel nasional.


Pabrik metanol yang direncanakan di Aceh akan dibangun di kawasan KEK Arun Lhokseumawe dengan memanfaatkan potensi pasokan gas alam yang tersedia.


Ketertarikan terhadap sektor hilirisasi migas Aceh juga datang dari perusahaan berbasis di Dubai, Uni Emirat Arab, yang bergerak di bidang perdagangan energi dan pengembangan proyek minyak dan gas. Melalui surat yang dikirimkan kepada Gubernur Aceh pada 26 April 2026, perusahaan tersebut menyatakan minat untuk membangun pabrik metanol berbasis gas alam di Aceh.


Perusahaan tersebut berencana memanfaatkan pasokan gas dari Blok Tangkulo maupun sumber gas lain yang dikembangkan oleh Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) di wilayah Aceh.


Tidak hanya itu, pada 8 Juli 2026, Pemerintah Aceh juga menerima surat minat investasi dari perusahaan yang berbasis di Jiangsu, China. Bekerja sama dengan perusahaan nasional di Jakarta, mereka berencana mengembangkan proyek likuefaksi LNG di KEK Arun.


Tingginya minat investasi tersebut tidak terlepas dari besarnya potensi migas di kawasan Andaman yang mencakup enam wilayah kerja utama, yaitu Andaman I, Andaman II, Andaman III, Central Andaman, South Andaman, dan South West Andaman.


Tahap awal pengembangan akan dimulai melalui Lapangan Gas Tangkulo yang berada di Wilayah Kerja South Andaman dan dikelola oleh Mubadala Energy.


“Proyek inilah yang akan menjadi pintu masuk dimulainya hilirisasi migas di Aceh,” kata Nurlis.


Pemerintah Aceh menargetkan seluruh aktivitas hilirisasi migas tersebut berpusat di KEK Arun Lhokseumawe. Langkah ini sejalan dengan Proyek Strategis Nasional dalam RPJMN 2025–2029 yang menetapkan pengembangan KEK Arun sebagai salah satu program prioritas, sekaligus mendukung arah pembangunan dalam RPJMA Aceh 2025–2029.


Nurlis menjelaskan, Lapangan Gas Tangkulo diproyeksikan mampu memproduksi sekitar 300 juta kaki kubik gas per hari (MMSCFD). Dari jumlah tersebut, sekitar 160 MMSCFD telah memiliki komitmen penjualan melalui Gas Sale Agreement (GSA) kepada PLN.


Sisa kapasitas produksi tersebut dinilai membuka peluang besar bagi tumbuhnya berbagai industri hilir berbasis gas di Aceh.


“Potensinya masih sangat besar untuk mendukung pertumbuhan industri di Aceh,” ujarnya.


Gas alam dari Blok Andaman dapat diolah menjadi berbagai produk bernilai tambah tinggi seperti metanol dan hidrogen. Selain gas, Lapangan South Andaman juga diperkirakan menghasilkan sekitar 7.500 barel kondensat per hari yang dapat diolah menjadi nafta, kerosin, dan gasoline sebagai bahan baku industri petrokimia, cat, maupun bahan bakar minyak.


Dengan besarnya cadangan energi yang dimiliki, Blok Andaman dinilai berpotensi menjadi motor baru pertumbuhan ekonomi Aceh melalui pengembangan industri hilir yang terintegrasi di KEK Arun Lhokseumawe.[]TN_W001

×
Berita Terbaru Update