TamiangNews.com, JAKARTA -- Kejadian El Nino (kekeringan) yang panjang pada kuartal I tahun 2016 memukul setiap komoditas pertanian, tak terkecuali dengan kebun kelapa sawit.
"Produksi Tandan Buah Segar (TBS) sangat dipengaruhi kondisi iklim. Kondisi El Nino (kemarau) yang terasa hingga kuartal I tahun 2016, membuat produktivitas TBS anjlok," ungkap Ketua Forum Kerjasama Produsen Benih Kelapa Sawit Indonesia (FKPB-KS), Dwi Asmono yang dihubungi Sinar Tani.
Menurut Peneliti dari Pusat Penelitian Kelapa Sawit, Nuzul Hijri Darlan, El Nino berpengaruh pada penurunan produksi TBS karena banyak munculnya bunga jantan, cadangan bunga dan buah sedikit bahkan kosong, muncul lebih dari 3 daun tombak hingga terjadi malforasi tandan. "Ini terjadi di semua umur sawit. Semakin parah jika terjadi di sawit produktif (di bawah 20 tahun)," ungkapnya.
Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) kelapa mencatat akibat El-nino telah menurunkan produktivitas sawit sekitar 5-15%. Sementara kelapa sawit Malaysia telah mencatat penurunan produktivitas pada bulan Desember sebanyak 15%.
Terlepas dari El Nino, menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) fenomena La Nina akan berlangsung pada bulan Juli hingga September 2016. Secara umum, fenomena La Nina berkebalikan dengan El Nino, yakni curah hujan akan semakin bertambah.
"Kalau El Nino, curah hujan akan berkurang, sedangkan La Nina sebaliknya. Curah hujan akan makin bertambah apalagi jika terjadi pada bulan akhir tahun yang sudah memasuki musim hujan," kata Kepala BMKG, Andi Eka Sakya dalam keterangan rilisnya.
Khusus untuk sawit, Nuzul menjelaskan dampak musim hujan ekstrim terhadap kelapa sawit diantaranya terbentuk bunga betina lebih banyak sehingga berakibat positif terhadap produksi tanaman kelapa sawit.
Curah hujan ekstrim yang terlalu tinggi (>3000 mm/th, >450 mm/bln, ataupun >150 mm/10 hari) akan cukup memenuhi kebutuhan air tanaman kelapa sawit, bahkan berlebih sehingga dapat berimplikasi positif bagi tanaman.
"Namun bila musim hujan ekstrim utamanya kalau hujan yang turun banyak pada siang hari maka akan mengurangi penyinaran efektif (effective sunshine), sehingga berakibat negatif terhadap produksi karena fotosintesis terganggu. Curah hujan ekstrim dengan intensitas yang terlalu tinggi juga diperkirakan mengakibatkan gangguan dan cekaman terhadap perkembangan bunga-bunga kelapa sawit," tuturnya. [] tabloidsinartani.com
"Produksi Tandan Buah Segar (TBS) sangat dipengaruhi kondisi iklim. Kondisi El Nino (kemarau) yang terasa hingga kuartal I tahun 2016, membuat produktivitas TBS anjlok," ungkap Ketua Forum Kerjasama Produsen Benih Kelapa Sawit Indonesia (FKPB-KS), Dwi Asmono yang dihubungi Sinar Tani.
Menurut Peneliti dari Pusat Penelitian Kelapa Sawit, Nuzul Hijri Darlan, El Nino berpengaruh pada penurunan produksi TBS karena banyak munculnya bunga jantan, cadangan bunga dan buah sedikit bahkan kosong, muncul lebih dari 3 daun tombak hingga terjadi malforasi tandan. "Ini terjadi di semua umur sawit. Semakin parah jika terjadi di sawit produktif (di bawah 20 tahun)," ungkapnya.
Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) kelapa mencatat akibat El-nino telah menurunkan produktivitas sawit sekitar 5-15%. Sementara kelapa sawit Malaysia telah mencatat penurunan produktivitas pada bulan Desember sebanyak 15%.
Terlepas dari El Nino, menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) fenomena La Nina akan berlangsung pada bulan Juli hingga September 2016. Secara umum, fenomena La Nina berkebalikan dengan El Nino, yakni curah hujan akan semakin bertambah.
"Kalau El Nino, curah hujan akan berkurang, sedangkan La Nina sebaliknya. Curah hujan akan makin bertambah apalagi jika terjadi pada bulan akhir tahun yang sudah memasuki musim hujan," kata Kepala BMKG, Andi Eka Sakya dalam keterangan rilisnya.
Khusus untuk sawit, Nuzul menjelaskan dampak musim hujan ekstrim terhadap kelapa sawit diantaranya terbentuk bunga betina lebih banyak sehingga berakibat positif terhadap produksi tanaman kelapa sawit.
Curah hujan ekstrim yang terlalu tinggi (>3000 mm/th, >450 mm/bln, ataupun >150 mm/10 hari) akan cukup memenuhi kebutuhan air tanaman kelapa sawit, bahkan berlebih sehingga dapat berimplikasi positif bagi tanaman.
"Namun bila musim hujan ekstrim utamanya kalau hujan yang turun banyak pada siang hari maka akan mengurangi penyinaran efektif (effective sunshine), sehingga berakibat negatif terhadap produksi karena fotosintesis terganggu. Curah hujan ekstrim dengan intensitas yang terlalu tinggi juga diperkirakan mengakibatkan gangguan dan cekaman terhadap perkembangan bunga-bunga kelapa sawit," tuturnya. [] tabloidsinartani.com

