Notification

×

Iklan

Iklan

Gagasan Kota Tua Kualasimpang Jadi Kawasan Heritage Dirintis Sejak 2025

Senin, 10 Agustus 2026 | Agustus 10, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-08-17T11:34:41Z
abati parfum | Parfum Arab Terbaik

 

Ketua Yayasan Nata Budaya Nusantara, Kabupaten Aceh Tamiang, Nuriza Auliatami
(Dok TN_10/08/26)


Tamiang-News.com | ACEH TAMIANG – Gagasan menjadikan Kota Tua Kualasimpang sebagai kawasan heritage atau warisan budaya ternyata telah dirintis sejak Oktober 2025. Rencana tersebut sempat dibahas antara Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang dan Yayasan Nata Budaya Nusantara sebelum tertunda akibat bencana banjir.


Ketua Yayasan Nata Budaya Nusantara, Nuriza Auliatami, mengatakan inisiatif pengembangan kawasan tersebut bermula dari komunikasi dengan Bupati Aceh Tamiang saat itu, Irjen Pol (Purn) Drs. Armia Pahmi, M.H.


"Pada 20 Oktober 2025 sore, Bupati Armia Pahmi menghubungi saya untuk berdiskusi mengenai niat beliau mengembangkan Kota Tua Kualasimpang menjadi kawasan heritage yang dapat dimanfaatkan untuk pariwisata sejarah daerah," ujar Nuriza.


Menurut Nuriza, konsep yang dibahas tidak sebatas mempertahankan bangunan-bangunan tua. Pemerintah daerah juga mendorong agar pengembangan kawasan dapat memberikan dampak terhadap perekonomian masyarakat.


Salah satu gagasan yang dibahas adalah penataan pedagang kaki lima dengan memusatkan aktivitas perdagangan di sekitar kawasan Kota Tua Kualasimpang. Pedagang nantinya diharapkan menggunakan desain gerobak yang seragam sehingga membentuk identitas visual kawasan wisata sejarah.


Selain itu, penataan awal kawasan juga diarahkan melalui langkah sederhana, seperti pembaruan warna fasad bangunan-bangunan lama yang masih bertahan.


Survei 118 Pertokoan Lama


Tiga hari setelah komunikasi awal tersebut, tepatnya 23 Oktober 2025, Nuriza bersama tim Yayasan Nata Budaya Nusantara melakukan survei lapangan di kawasan Kota Tua Kualasimpang.


Survei tersebut didampingi Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Aceh Tamiang, Mustafa Kamal atau yang dikenal dengan nama Mustang Zevelin, bersama sejumlah staf bidang kebudayaan.


Tim melakukan pendataan terhadap bangunan dan pertokoan lama yang masih tersisa di kawasan tersebut. Hasil pendataan kemudian dipaparkan kepada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Aceh Tamiang hingga sore hari.


Pada malam harinya, Bupati Armia Pahmi kembali mendatangi Kantor Sekretariat Daerah Aceh Tamiang setelah menyelesaikan agenda kedinasan untuk mendengarkan langsung hasil survei.


Pertemuan berlangsung di ruang Sekretaris Daerah karena ruang kerja bupati ketika itu sedang dalam proses renovasi.


Dalam pemaparan tersebut, tim Yayasan Nata Budaya Nusantara mencatat terdapat 118 unit pertokoan lama yang dinilai masih memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai bagian dari kawasan heritage Kota Tua Kualasimpang.


"Sebanyak 118 ruas toko lama masih potensial untuk dijadikan objek penting dalam pengembangan Kota Tua Kualasimpang. Sementara bangunan lainnya telah mengalami perubahan besar dan tidak lagi mempertahankan bentuk aslinya," kata Nuriza.


Selain pendataan bangunan, pembahasan juga mencakup sejumlah potensi pendukung, termasuk konsep wisata sejarah yang dapat diintegrasikan dengan aktivitas ekonomi masyarakat setempat.


Terkendala Bencana Banjir


Namun, rencana tersebut belum dapat dilanjutkan sesuai agenda yang telah disusun. Sekitar satu bulan setelah survei dilakukan, Aceh Tamiang dilanda bencana banjir yang berdampak terhadap berbagai agenda pembangunan dan pengembangan daerah.


Menurut Nuriza, sebelum bencana terjadi, pemerintah daerah juga tengah menyusun agenda pertemuan antara Bupati Aceh Tamiang dan Menteri Kebudayaan Republik Indonesia di Jakarta.


Pertemuan tersebut direncanakan untuk membahas langkah lanjutan terkait pengembangan Kota Tua Kualasimpang.


Kini, ketika wacana penataan dan pelestarian kawasan Kota Tua Kualasimpang kembali mengemuka, hasil survei yang dilakukan pada Oktober 2025 menjadi salah satu catatan penting dalam perjalanan rencana pengembangan kawasan tersebut.


Nuriza berharap dokumentasi dan hasil pendataan itu dapat menjadi bahan bagi pemerintah dan masyarakat untuk memahami potensi sejarah Kota Tua Kualasimpang sekaligus mendorong upaya pelestarian kawasan yang dinilai memiliki nilai sejarah dan menjadi bagian dari identitas Aceh Tamiang.[]TN_W001

×
Berita Terbaru Update