TamiangNews.com, - SELAIN Sadiq Khan yang merupakan wali kota muslim pertama di London, di negara Eropa lainnya yaitu Belanda, seorang pemimpin Islam juga menjabat sebagai wali kota. Pada tahun 2009, Ahmed Aboutaleb terpilih menjadi wali kota untuk Rotterdam.
Pada polling opini Maurice de Hond, Aboutaleb memperoleh suara lebih tinggi dibandingkan Perdana Menteri Mark Rutte, seperti yang dilansir oleh harian Dutchnews.nl. Para pemilih merupakan pendukung kelompok sayap kanan Partai Kebebasan (PVV).
Meskipun kelompok tersebut cenderung anti-Islam, Aboutaleb berhasil memperoleh tujuh suara lebih tinggi, terkait siapa yang lebih mereka pilih sebagai perdana menteri. Wali kota tersebut juga lebih populer dibandingkan Alexander Pechtold dan Syubrand Buma.
Ahmed Aboutaleb memang terkenal dengan kelantangannya menentang Islam radikal. Menurutnya, silakan saja jika ada warga Belanda yang ingin bergabung dengan ISIS. Namun, mereka tentu harus dilarang pulang ke Belanda.
Disebutkan pada citiscope.org, Aboutaleb menyampaikan bahwa keberadaan ISIS telah mengancam identitas jutaan umat Islam di Eropa.
Ia ingin menunjukkan bahwa muslim dapat memiliki posisi yang sama di tengah-tengah masyarakat Eropa, khususnya di Rotterdam yang merupakan kota dengan 170 kewarganegaraan.
Ahmed Aboutaleb merupakan seorang imigran dari Maroko.
Ia lahir pada 29 Agustus 1961 di Beni Sidel, sebuah desa yang terletak di kota kecil di jalur pegunungan Rif, utara Maroko. Ia tinggal di wilayah yang masuk ke dalam Privinsi Nador tersebut bersama keluarganya hingga usia 15 tahun.
Aboutaleb pindah ke Belanda pada 1976 menyusul ayahnya. Ia menetap di negeri Kincir Angin tersebut hingga akhirnya bergabung dengan Partai Buruh Belanda.
Rotterdam merupakan kota yang menurut The New York Times sebagai a must-see city karena keindahannya. Masyarakat di dalamnya juga sangat majemuk. Sebagai wali kota, Aboutaleb sangat memahami kondisi tersebut, apalagi ia sendiri merupakan keturunan Maroko.
Baginya bekerja sebagai wali kota berarti ia adalah milik seluruh lapisan masyarakat, mulai dari para pengusaha Belanda sampai anak Suriname yang sedang belajar untuk mencari nafkah.
Sumber : Inilah.com
Pada polling opini Maurice de Hond, Aboutaleb memperoleh suara lebih tinggi dibandingkan Perdana Menteri Mark Rutte, seperti yang dilansir oleh harian Dutchnews.nl. Para pemilih merupakan pendukung kelompok sayap kanan Partai Kebebasan (PVV).
Meskipun kelompok tersebut cenderung anti-Islam, Aboutaleb berhasil memperoleh tujuh suara lebih tinggi, terkait siapa yang lebih mereka pilih sebagai perdana menteri. Wali kota tersebut juga lebih populer dibandingkan Alexander Pechtold dan Syubrand Buma.
Ahmed Aboutaleb memang terkenal dengan kelantangannya menentang Islam radikal. Menurutnya, silakan saja jika ada warga Belanda yang ingin bergabung dengan ISIS. Namun, mereka tentu harus dilarang pulang ke Belanda.
Disebutkan pada citiscope.org, Aboutaleb menyampaikan bahwa keberadaan ISIS telah mengancam identitas jutaan umat Islam di Eropa.
Ia ingin menunjukkan bahwa muslim dapat memiliki posisi yang sama di tengah-tengah masyarakat Eropa, khususnya di Rotterdam yang merupakan kota dengan 170 kewarganegaraan.
Ahmed Aboutaleb merupakan seorang imigran dari Maroko.
Ia lahir pada 29 Agustus 1961 di Beni Sidel, sebuah desa yang terletak di kota kecil di jalur pegunungan Rif, utara Maroko. Ia tinggal di wilayah yang masuk ke dalam Privinsi Nador tersebut bersama keluarganya hingga usia 15 tahun.
Aboutaleb pindah ke Belanda pada 1976 menyusul ayahnya. Ia menetap di negeri Kincir Angin tersebut hingga akhirnya bergabung dengan Partai Buruh Belanda.
Rotterdam merupakan kota yang menurut The New York Times sebagai a must-see city karena keindahannya. Masyarakat di dalamnya juga sangat majemuk. Sebagai wali kota, Aboutaleb sangat memahami kondisi tersebut, apalagi ia sendiri merupakan keturunan Maroko.
Baginya bekerja sebagai wali kota berarti ia adalah milik seluruh lapisan masyarakat, mulai dari para pengusaha Belanda sampai anak Suriname yang sedang belajar untuk mencari nafkah.
Sumber : Inilah.com

