Notification

×

Iklan

Iklan

Menyulap Sachet Bekas Minuman Jadi Tas Cantik

Senin, 22 Agustus 2016 | Agustus 22, 2016 WIB | 0 Views Last Updated 2017-10-29T09:20:23Z
abati parfum | Parfum Arab Terbaik
TamiangNews.com, KARANG BARU - Setiap ada kemauan pasti ada jalan, untuk mendapatkan sesuatu yang bernilai ekonomi. Hal itu juga tidak terlepas dari upaya menumbuhkan semangat, terutama pada diri sendiri untuk terus berusaha sesuai dengan kemampuan yang dimiliki melalui karya dan kreativitas.

Mengasah kreativitas dengan memanfaatkan sisa sampah sachet plastik bekas bungkus minuman yang memiliki nilai jual, salah satunya untuk didaur ulang menjadi berbagai kerajinan menarik, juga merupakan salah satu upaya yang bias memberikan nilai tambah.

"Salah satunya bias dijadikan tas cantik dan menarik dengan harga murah," tutur Dicka Apriani, yang sudah merintis usaha pribadinya sejak satu tahun belakangan ini.

Dari sejumlah hasil karyanya itu, setiap hari bisa menghasilkan satu atau dua buah tas menarik dan sederhana yang dihargai Rp 50.000/buah.

"Sedikitnya dalam satu bulan bisa memproduksi 35 buah. Pengerjaan dilakukan dengan santai tanpa harus mengejar target," ujar Dicka yang masih berstatus mahasiswi Fakultas Ekonomi Manajemen Universitas Yayasan Pendidikan Prabumuli, Palembang, Sumatera Selatan.

Dicka menuturkan, untuk mendapatkan sachet tersebut sangatlah mudah. Dari usaha warung kopi milik orangtuanya, setiap hari dikumpulkan. "Ya, jadi modalnya cuma sedikit, makanya tiap tas bisa dijual dengan harga murah," jelas Dicka.

Tas berbahan daur ulang tersebut dibalut dengan bahan kain berbagai corak dan warna. Kemudian dipasangi kancing dan resleting sebagai penutup.

Variasi bahan menentukan harga, makin cantik harganya juga lebih mahal, bias mencapai Rp 100.000 atau Rp 150.000/buah.

"Ssetelah jadi bisa juga digunakan untuk menghadiri acara undangan atau resepsi," imbuh Dicka, seraya mengatakan tas tersebut juga cukup kuat, bisa menampung beban hingga 10 kg.

Dalam hal pemasaran, Dicka mengaku tidak mengalami kesulitan. Dari tempat usaha milik orangtuanya, Warkop One Love di Karang Baru, Aceh Tamiang, tas tersebut dipajang.

"Bagi pengunjung yang datang makan dan minum dapat melihatnya. Bagi yang berminta langsung negosiasi harga," ujarnya sambil senyum.

Dari hasil kerajinan tangan ini, Dicka mengaku sudah banyak mendapatkan pundi rupiah untuk membantu biaya kuliah.

"Alhamdulillah belajar untuk mengurangi beban orangtua dan menambah jajan kuliah," ujarnya seraya bierharap produk kerajinannya itu bisa menjadi cinderamata khas Aceh Tamiang. [] Medanbisnis
×
Berita Terbaru Update