Notification

×

Iklan

Iklan

Rahasia Besar yang Telah Terbongkar

Minggu, 21 Agustus 2016 | Agustus 21, 2016 WIB | 0 Views Last Updated 2017-10-29T09:20:23Z
abati parfum | Parfum Arab Terbaik
Cerpen Karangan: Lutfi Kurniawati

”Apa? Papa mau pergi ke New York?!”, ujarku kaget mendengar kabar bahwa Papaku akan pergi ke New York. Maklumlah, beliau memang pebisnis yang memiliki benyak perusahaan, baik di Indonesia maupun di luar negeri. Papa memang pekerja keras. Tapi aku tidak suka kalau orangtuaku sering ke luar negeri karena aku akan jadi KUPER nanti alias kurang perhatian.

Oh ya, namaku Shavira Aulia Putri. Biasa dipanggil Vira. Aku seorang anak semata wayang dari pasangan Rasya Aditya dan Restha Shavira. Papaku adalah pengusaha terkenal di Indonesia. Sedangkan Mamaku sudah meninggal sejak melahirkanku, kata Papa. Papaku terlalu sibuk dengan pekerjaannya. Sampai-sampai beliau jarang meluangkan waktunya untuk buah hatinya ini. Terkadang aku merasa sangat kesepian. Tak ada tempat untuk mencurahkan isi hatiku.
Aku seorang siswa kelas 8 SMP, di sebuah sekolah bernama Raffles Junior High School. Sekolah termahal di Bandung. Aku anak orang kaya. Apa yang kuinginkan selalu terpenuhi. Tapi masalah kasih sayang keluarga, aku kurang mendapatkannya. Aku termasuk siswa berprestasi di sekolah. Banyak guru yang sayang kepadaku lantaran banyaknya prestasi yang telah kuraih.

Kreeek. Terdengar suara seseorang yang sedang membuka gorden kamarku. Tak lain lagi, Ia adalah Bi Sumi. Pembantu setia keluargaku. Sorot sinar mentari yang masuk ke kamarku hingga menyilaukan mata.

“Non, ayo bangun. Ini sudah siang. Nanti Non terlambat lho…,” kata Bi Sumi membangunkan aku. Kulirik jam dinding. Jarum jam menunjukkan pukul 6 tepat.
“Hah.., sudah siang…!!! Aku terlambat…!!!” teriakku sembari bergegas untuk mandi. Aku berusaha mendi secepat mungkin agar tidak terlambat masuk sekolah.

“Non… sarapannya sudah siap di meja makan…,!” seru Bi Sumi.
“Iya Bi, sebentar lagi selesai…,” sahutku.
Aku segera menyantap sepotong sandwich isi telur mata sapi dan sayur dengan ditemani segelas susu hangat. Itu sudah cukup mengganjal perutku untuk memulai aktivitas. Di depan, sopir pribadiku sudah siap mengantarku. Aku jarang sekali diantar oleh Papa. Itu karena beliau sangat sibuk dengan bisnisnya. Banyak temanku yang ingin hidup sepertiku. Itu menurut pandangan mereka. Tapi menurutku, meskipun semua kebutuhanku terpenuhi, tapi tidak akan membuatku sangat bahagia.

Hari ini hari pertamaku memasuki kelas 9 setelah mengalami libur panjang. Aku melihat di papan majalah dinding sekolah. Ternyata namaku termasuk di kelas 9 A, kelas paling istimewa. Kelas ini disebut kelas bilingual. Kelas dimana para guru yang mengajar di sini menggunakan dua bahasa, yaitu bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Aku merasa senang sekali bisa masuk di kelas ini. Tanpa berpikir panjang, aku segera menuju kelas baruku.

Kupandangi sekeliling kelas ini. Tak kutemukan satu pun teman yang pernah satu kelas denganku. Baik kelas 7 atau kelas 8 dulu. Aku berpikir tidak akan menemukan teman-teman yang baik seperti mereka. Sesekali aku menoleh ke belakang. Tampaknya ada sebuah bengku kosong di sebelah seorang siswa perempuan yang berambut hitam lebat. Aku mencoba menghampirinya.

“Permisi, bolehkah ku duduk di sampingmu?” tanyaku dengan lemah lembut. Anak itu menoleh sembari tersenyum senang kepadaku.
“Vira!, silahkan duduk. Tak kusangka bisa bertemu lagi denganmu,” ujar anak itu kepadaku.
Ternyata ia adalah Yesline Angelina Dae. Anak dari sahabat karib papaku, Om Fergie Budiyanto Dae. Sebelumnya, aku tak pernah tahu kalau ia juga sekolah di sini karena memang kita tak pernah satu kelas. Papa juga tak pernah bilang kepadaku kalau ia juga bersekolah di sini.
“Yesline, kan? Sudah lama kita tidak bertemu. Terakhir kita bertemu waktu aku kelas 5, saat kau bermain ke rumahku,” tanyaku girang.

“Ya, benar. Aku Yesline. Senang sekali bisa satu kelas denganmu, Vira,” jawab Yesline sembari tersenyum lebar.
“Tadinya, aku mengira bahwa aku tidak punya teman dekat disini. Eh, takdir mempertemukan kita!” balasku pada Yesline.
Aku senang sekali bisa satu kelas dengannya. Ia adalah seorang gadis cantik dan jenius. Papanya juga seorang pengusaha terkenal seperti papaku.

Di sekolah, aku mengikuti ekstrakurikular voli yang sudah ku jalani mulai kelas 7. Awalnya, aku tidak terlalu niat mengikuti ekstra ini. Aku mengikutinya semata-mata hanya untuk mengisi waktu luang karena di rumah aku selalu kesepian. Tapi, aku mencoba menekuninya ketika kelas 8. Melihat teman-temanku yang sukses mengikuti lomba kejuaraan voli antar sekolah, membuatku termotivasi untuk lebih serius dalam menjalani ekstra voli ini. Aku ingin bisa memiliki prestasi di bidang olahraga. Selama ini, aku tidak pernah memiliki prestasi di bidang olahraga. Hanya prestasi akademik saja yang aku punya, seperti memenangkan lomba OSN 2012, lomba olimpiade sains antar sekolah, lomba cerdas cermat, dan lain. Yaah, setidaknya sekali atau dua kali dalam hidupku memiliki prestasi di bidang olahraga, hehehe.

Teet… teet… teet.. bel pulang sekolah berdering memekakan telinga. Doa segera dibacakan dari ruang operator. Setelah itu, aku bergegas mengganti seragam dengan pakaian latihan voli dan menuju ke lapangan voli sekolah. Di tengah lapangan sudah ada pak ihsan rupanya, guru olahraga sekaligus pelatih voliku.
“Selamat siang, pak. Sudah lama menunggu pak?”
“Siang Vira. Tidak, bapak baru saja tiba di lapangan. Kebetulan, bapak butuh bantuan kamu nih.”
“Dengan senang hati pak. Bantu apa ya?”
“Seperti biasa, bantu bapak mengabsen teman-teman ya. Setelah itu, kamu langsung pemanasan sama teman-teman.”
Mengabsen teman-teman itu sudah menjadi kebiasaanku setiap latihan voli. Meski begitu, tidak membuatku bosan. Justru aku senang dengan aktivitas ini.

Tak terasa hari demi hari, detik demi detik telah berlalu. Detik-detik ujian nasional semakin dekat. Itu artinya aku harus giat belajar untuk menembus ujian nasional dengan baik. Karena jika hasil ujianku bagus, Papa pasti senang. Aku ingin sekali membahagiakan orangtuaku. Yaa, karena itu sudah menjadi kewajiban seorang anak.

Seperti biasa, pukul 4 sore. Aku selalu pergi belajar di suatu lembaga bimbingan belajar. Di sana aku belajar untuk lebih mamatangkan pelajaran ujian nasional, yaitu Bahasa Indonesia, Matematika, IPA, dan Bahasa Inggris. Dua jam telah berlalu. Aku segera pulang ke rumah dengan diantar Pak Giman, sopir pribadiku. Beliau sudah 10 tahun menjadi sopir pribadiku. Tak heran jika Papa sangat mempercayainya.

Di tengah perjalanan pulang, Ding Ding Dong… Ding Ding Dong…, dering ponselku berbunyi. Kulihat, rupanya Papa yang menelponku.
“Halo, apa?! Papa kecelakaan?!!,” ujarku kaget. Ternyata yang menelponku itu bukan Papa. Tapi dari pihak kepolisian yang melaporkan bahwa Papaku mengalami kecelakaan di jalan Cendrawasih. Sekarang beliau sedang ada di UGD.

Aku segera pergi menyusul Papa di UGD. Karena ini ruangan UGD, jadi aku dilarang masuk dulu. Tak lama kemudian, laki-laki tinggi berambut lurus dengan jas putih keluar dari ruangan UGD. Ya, itu dokter yang menangani Papaku. Aku segera menanyakan keadaan Papa padanya. Dokter bilang, karena kecelakaan yang dialami Papa itu cukup parah, maka kaki beliau mengalami kelumpuhan yang bersifat sementara. Mendengar ucapan dokter itu, mataku mulai berkaca-kaca hingga meneteskan air mata di pipiku.
“Yaa Allah… mengapa hal ini harus terjadi pada beliau, Ya Allah…,” rintihku seolah tak sanggup menerima kenyataan ini.

Papa sudah dipindah ruangan oleh dokter. Jadi, aku boleh menemaninya di dalam ruangan tersebut. Hingga detik ini pun Papa belum juga siuman. Aku semakin takut bila kehilangannya. Tanpa sadar, aku tertidur di samping Papa sembari memegang erat tangan beliau.
“Vira, maafkan papa ya, Nak. Selama ini Papa kurang memperhatikanmu, bahkan tak pernah meluangkan waktu untukmu,“ ujar Papa sembari membelai rambut indahku
Seketika itu, aku terbangun dari tidurku. Melihat papa telah siuman, aku senang sekali dan memeluk erat tubuh papa yang masih lemah. Papa meneteskan air mata di pipinya dengan segaris senyum tipis di bibirnya.

Satu bulan telah berlalu. Papa telah sembuh dari lumpuh akibat kejadian kecelakaan waktu itu. Ujian nasional pun telah usai dilaksanakan. Hari ini merupakan pengumuman hasil ujian nasional. Tak sabar rasanya ingin segera mengetahui hasil ujianku. Akankah hasilnya bagus, atau jelek. Itu yang membuatku semakin deg-degan.

Hangatnya sinar mentari dengan butiran embun yang menempel pada dedaunan serta sejuknya udara Bandung di pagi hari, menemani perjalananku berangkat ke sekolah. Tak seperti biasanya, aku berangkat diantar dengan mobil. Kali ini aku memilih untuk berangkat pagi dengan berjalan kaki. Setidaknya melemaskan otot kaki sambil menghirup udara segar dan mengurangi polusi tentunya. Andai saja di Bandung ini masyarakatnya mau mengurangi penggunaan kendaraan pribadinya. Pasti kesegaran dan keasrian kota Bandung akan tetap terjaga. Perjalanan dari rumah menuju sekolah tidak jauh. Butuh waktu 20 menit untuk berjalan kaki.

Teeet… Teet… Teet. Bel masuk telah berbunyi. Aku datang tepat waktu ke sekolah. Yaa walaupun mepet sih sama bel, hehehe. Aku segera masuk ke kelas dan menempati bangkuku. Doa segera dibacakan dari ruang operator. Kami berdoa sesuai keyakinan masing-masing. Seusai berdoa, Klotak.. Klotak.. Klotak, suara sepatu Bu. Hesty, wali kelasku. Seluruh siswa dalam kelas ini tak berani memandangnya sedikit pun.
“Anak-anak, hari ini hasil ujian nasional kalian telah keluar. Sekarang Ibu akan membacakan hasilnya satu per satu,” kata Bu Hesty memberi informasi.
Mulai nomer absen 1 sampai 35 telah dibacakan hasilnya. Kini tiba giliranku. Aku semakin deg-degan. “Shavira Aulia Putri. Bahasa Indonesia : 9,60, Matematika: 10,00, IPA: 9,50, Bahasa Inggris: 10.00. Total: 39,10,” ujar Bu Hesty.
Mendengar semua informasi dari Bu Hesty aku merasa sangat senang sekali. Tak sabar ingin segera memberitahukan ini pada Papa. Semenjak kejadian kecelakaan dulu, sikap Papa berubah drastis. Beliau lebih sering meluangkan waktunya untukku. Aku juga heran, apa penyebabnya?.

Teet… Teet.. Teet… bel pulang berbuyi memekakan telinga. Seusai berdoa pulang aku segera keluar dari kelas. Karena tadi aku berangkat jalan kaki, jadi pulang pun demikian. Saat perjalanan pulang, aku merasa ada seseorang yang membuntutiku dari belakang. Seketika aku menoleh ke belakang. Tak ada orang sama sekali. Ah, mungkin itu hanya perasaanku saja. Aku melanjutkan langkahku untuk pulang. Di tengah perjalanan, nasib buruk menimpaku. Dua orang laki-laki merampok tasku yang berisi buku dompet, laptop, dan ponsel. Aku mencoba menarik tasku kembali. Tapi tak berhasil. Akhirnya aku terpaksa berteriak.
“Toloong.. toloong… ada rampook..!!,” teriakku meminta tolong.
Jalan yang kulewati ini memang sepi. Tapi, ini jalan terdekat menuju rumah. Dan aku juga tak meyangka akan mengalami ini. Tiba-tiba seorang gadis berambut hitam sebahu datang menyelamatkanku. Dengan lincahnya ia mengejar perampok itu. Salah seorang dari perampok itu berhasil kabur. Sedangkan yang membawa tasku berhasil ia tangkap.
“Heei, kembalikan tas itu..!!. kalau tidak, akan kuhajar kau,” kata gadis itu mngancam si perampok.
Tak ada cara lain selain menghajar perampok itu. Gadis itu menghajar si perampok habis-habisan hingga bertekuk lutut padanya. Akhirnya tasku kembali ke tanganku.

“Terima kasih banyak, yaa. Jika tak ada kamu mungkin tasku sudah hilang,” kataku berterima kasih pada gadis itu.
“sama-sama. Itu sudah menjadi kewajiban kita, menolong sesama manusia,” balas gadis itu.
Aku mencoba berkenalan dengannya. Ternyata ia bernama Adelia Restha Putri. Ia gadis yang baik, cantik, pemberani, dan sedikit tomboi. Ia tinggal bersama ibunya. Ibunya bekerja sebagai penjahit di rumah. Katanya ayahnya telah meninggal sejak ia masih bayi. Nasibnya berkebalikan denganku.

Sebagai rasa terima kasihku padanya, aku mengajaknya pulang ke rumahku dan memberinya sesuatu. Setibanya di rumah, aku mengenalkan Adel kepada Papa dan menceritakan semua kejadian yang kualami tadi. Saat melihat Adel, pandangan Papa sedikit aneh dan selalu tertuju pada tanda lahir yang ada di punggung tangan Adel. Entah apa yang terlintas di pikiran papa. Tapi, Papa berusaha menyembunyikannya dariku.

Hari telah sore. Ini saatnya Adel untuk pulang. Aku ingin sekali mengantarnya pulang. Yaa, siapa tahu kapan-kapan aku bisa bermain ke rumahnya. Awalnya Adel menolak untuk kuantar pulang. Tapi karena aku merayunya, akhirnya ia menerima tawaranku. Aku mengantarnya pulang. Kini kami telah sampai. Ternyata rumahnya tak begitu jauh dari sekolahku. Adel mempersilahkanku untuk masuk ke rumahnya. Ibunya menyambut baik kedatanganku. Tapi, aku merasa ibunya memandangku sedikit aneh. Hampir sama seperti Papa saat memandang Adel tadi. Ah, entahlah itu hanya perasaanku saja. Setelah berbincang-bincang, kini tiba saatnya aku pulang. Saat berpamitan dengan ibunya Adel, tiba-tiba beliau memelukku seperti memeluk anaknya sendiri. Aku tak tahu ada apa sebenarnya di balik semua ini.

Siang itu, ada seorang investor yang datang menemui Papa di rumah. Mereka membicarakan tentang saham perusahaan yang dimiliki Papa. Saat itu, aku sedang duduk menonton televisi sambil menikmati camilan kesukaanku di ruang keluarga yang letaknya dekat dengan ruang tamu. Jadi, aku mendengar semua perbincangan mereka. Mendengar semua penjelasan investor itu, aku merasa tak yakin dengan semua tawaran yang ia sodorkan pada Papaku. Sepertinya ada yang tidak beres nanti jika Papa menerima tawaran investor itu.
Aku mendengar jawaban Papa. Beliau bilang akan memikirkan dulu semua tawarannya. Aku merasa lega karena Papa tidak memutuskannya secara langsung. Ketika investor iu sudah pergi, aku ingin berbicara dengan papa mengenai investor tadi dan semua tawarannya.

“Pa, maaf sebelumnya. Bukannya Vira mau ikut campur urusan Papa. Tapi ini penting. Tadi Vira duduk di ruang keluarga, jadi Vira mendengar perbincangan Papa dengan investor itu. Vira merasa tidak percaya atas semua tawaran yang ia berikan. Vira takut, jangan-jangan investor itu penipuan, Pa,” ujarku meyakinkan Papa agar tidak menerima tawaran dari investor itu.
“Ah, itu perasaan kamu saja, Nak. Tapi saat ini perusahaan Papa yang ada di Indonesia telah mengalami banyak kerugian karena produk yang kami keluarkan kurang laku di pasaran. Jadi, Papa butuh investor untuk menutup segala kerugian yang kami alami,” jelas Papa panjang lebar.
“Tapi, investor lain, kan juga bisa Pa?,” rayuku pada Papa.
“Iya, tapi, jarang sekali investor yang memberi tawaran sebesar itu, Vira. Sepertinya Papa akan menerima tawaran itu. Maafkan Papa,” kata Papa sembari meyampaikan keputusannya.
Ah, aku tak bisa berbuat apa-apa. Papa tetap bersikeras menerima tawaran itu. Tapi, aku takut. Jika apa yang kutakutkan itu menjadi kenyataan. Ya Allah semoga ketakutan ini tak menjadi kenyataan.

Aku memandang ke luar jendela kamar. Matahari mulai menampakkan ekor mentarinya. Ah, sungguh indah lukisan Tuhan pagi ini. Rasanya aku ingin ke luar rumah. Tapi, tak tahu kemana. Setelah lama berpikir, akhirnya aku memutuskan untuk bermain ke rumah Adel. Entah kenapa semenjak bertemu dengannya dan ibunya dulu, aku merasa nyaman dengan mereka. Seperti punya keluarga kedua.

Sesampainya di rumah Adel. Aku mengetuk pintu kayu rumahnya yang terlihat agak lapuk karena serangan rayap. Dinding rumahnya yang lembab karena meresap air hujan. Aku melihat kondisi rumahnya yang berbeda, berbeda tak seperti yang kulihat sebelumnya. Aku berpikir, bagaimana bisa keluarga ini merenovasi rumahnya. Sedangkan ibunya hanya seorang penjahit yang penghasilannya hanya cukup untuk makan dan keperluan sehari-hari. Dari sini timbul ide untuk memberikan sebagian tabunganku untuk merenovasi rumah Adel.

“Eh, Nak Vira. Silahkan masuk. Maaf, rumahnya berantakan,” sambut ibunya Adel sembari mempersilahkan aku untuk masuk. Saat ku datang, rupanya Adel tak ada di rumah. Entah kemana. Aku terlibat obrolan hangat dengan ibunya.
Di tengah obrolan kami, Adel membawa sekantong plastik besar. Sepertinya ia dari berbelanja. Tak lama kemudian ia ikut bergabung dengan kami. Baru sekitar 10 menit aku mengobrol dengannya, dering ponselku menghentikan obrolan kami. Aku tak mengenal nomor yang menghubungiku. Saat kutempelkan ponsel kesayanganku ke telinga, terdengar suara laki-laki dewasa yang memberitahuku bahwa Papa terkena serangan jantung di kantornya. Mendengar kabar itu, jantungku serasa berhenti berdetak. Aliran darah serasa berhenti mengalir. Yaa Allah, cobaan apa lagi ini.

Ibunya Adel terlihat menyembunyikan suatu perasaan saat mengetahui kabar buruk ini. Aku bisa melihat dari sorot matanya. Wanita setengah baya yang hampir seumuran dengan Papaku ini terlihat sangat sedih. Aku semakin bingung dengan semua ini. Tanpa berlama-lama, aku bergegas pergi menyusul Papa di rumah sakit.
Kupandangi tubuh Papa yang kini kian merentah dengan jarum dan selang infus yang tertancap di tangannya. Beliau terbaring di ranjang rumah sakit. Aku tak bisa menahan deru air mata kesedihan ini. Papa terkena serangan jantung akibat kaget karena perusahaan yang ada di Indonesia gulung tikar karena kasus penipuan. Dugaanku benar. Ketakutanku menjadi kenyataan. Investor yang waktu itu mendatangi Papa adalah pelaku penipuan ini.

Dikala cahaya rembulan menyelimuti kesedihanku. Di saat para insan terlelap dalam tidurnya. Aku terbangun. Ku paparkan sajadah di atas lantai putih yang bersih. Aku melaksanakan sholat tahajjud, memohon kepada Tuhan agar memberikan kesembuhan untuk Papa. Malam itu, kuadukan semua keluhanku kepada sang Khaliq yang telah menciptakanku. Sekarang ini, mungkin aku tengah diuji seberapa besar kesabaran, ketaqwaan, dan ketabahanku dalam menghadapi semua ini. Mungkin rencana-Nya lebih indah dari yang aku pikirkan.

Uhuk! Aku tersedak saat meminum segelas jus jeruk karena mendengar kata-kata Papa bahwa sebenarnya aku memiliki saudara dan Mamaku juga tak meninggal. Papa menceraikannya lantaran orang tua Papa tak suka punya menantu dari kalangan orang yang miskin. Aku merasa sangat kecewa mendengar kabar ini. Tega-teganya seorang ayah menyembunyikan rahasia sebesar ini dari anaknya. Aku rasa Papa orang yang hebat, bisa menyembunyikan rahasia ini selama belasan tahun dariku. Mengapa beliau membiarkanku kesepian selama bertahun-tahun. Membiarkan buah hatinya yang tak bisa mengenyam kasih sayang seorang ibu. Hidup dengan kasih sayang seorang ibu lebih penting dari pada hidup mewah bergelimang harta.

Seharusnya aku tak pernah marah padanya. Hubungan kami telah harmonis semenjak kecelakaan yang menimpa beliau. Tapi, kini justru beliau sendiri yang merusak keharmonisan itu. Aku tak percaya lagi padanya. Aku tak percaya bahwa beliau benar-benar sayang padaku.

Esok harinya, Papa mengajakku pergi ke suatu tempat. Tempat yang kami tuju adalah rumah Adel. Aku bertanya-tanya, untuk apa Papa mengajakku kemari. Beliau mengetuk pintu Adel dengan sopan. Ya, ibunya Adel yang membuka pintu itu. Melihatnya, Papa langsung bertekuk lutut sembari menggenggam tangan wanita itu erat-erat. Papa meminta maaf atas semua kesalahan yang ia lakukan pada wanita itu. Ibunya Adel adalah wanita yang baik. Beliau mau memaafkan semua kesalahan Papaku. Papa mengaku sangat menyesal telah bersandiwara padaku selama belasan tahun. Aku pun memaafkan beliau. Ternyata wanita yang bernama Restha Shavira adalah ibunya Adel yang juga merupakan Mamaku. Sedangkan Adel adalah saudara kembarku yang telah terpisah selama belasan tahun. Pantas saja, saat Papa bertemu dengannya memiliki pandangan yang sangat aneh. Sedangkan ibunya Adel saat memelukku, aku merasa sangat nyaman sekali dengan beliau. Tuhan menjawab semua doa-doaku walau melalui cara sepahit ini. Kini rahasia besar itu telah terbongkar.

SELESAI

Cerpen Karangan: Lutfi Kurniawati
Facebook: Lutfi Kurniawati
Nama: Lutfi Kurniawati
Tempat, tanggal lahir: Surabaya, 16 September 2001
Asal kota: Surabaya
Email: lutfikurnia88@gmail.com
Facebook: Lutfi Kurniawati

Sumber : Cerpenmu.com
×
Berita Terbaru Update