Notification

×

Iklan

Iklan

Lihat, Dengar dan Hubungkan

Senin, 10 Oktober 2016 | Oktober 10, 2016 WIB | 0 Views Last Updated 2017-10-29T09:20:27Z
abati parfum | Parfum Arab Terbaik
Oleh : Harri Santoso

Pada setiap 10 Oktober diperingati oleh masyarakat dunia sebagai hari kesehatan mental sedunia (HKMS) yang tujuannya adalah untuk meningkatkan kesadaran tentang permasalahan kesehatan mental dan upaya yang perlu dilakukan untuk meningkatkan taraf kesehatan mental.

Sebagai bangsa, penulis yakin bahwa pendiri bangsa ini sebenarnya telah menaruh perhatian terhadap pentingnya kesehatan mental, jauh sebelum dunia memberi perhatian terhadap ini.

Hal ini terbukti dalam satu lirik lagu kebangsaan Indonesia, founding fathers kita telah mengamanatkan, “bangunlah jiwanya bangunlah badannya untuk Indonesia Raya”.

Oleh karenanya peringatan masyarakat dunia pada HKMS adalah sebuah penguatan penting tentang kesehatan mental manusia.

Dalam sebuah laporannya, World Health Organization melaporkan dari 10 masalah kesehatan utama yang menyebabkan disabilitas, 5 diantaranya adalah masalah kesehatan jiwa yaitu: depresi, alkoholisme, gangguan bipolar, skizoprenia dan obsesif kompulsif. Adapun penyebab dari gangguan diatas sering disebabkan karena adanya tekanan psikologis baik dari dalam maupun dari luar individu itu sendiri.

Komunitas Psikologi melalui Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) telah mencanangkan gerakan serentak I-Care dengan semboyan “Lihat, Dengarkan dan Hubungkan”, sebuah gerakan yang mengajak masyarakat untuk mampu memberikan dukungan psikologis dan sosial kepada individu yang membutuhkan yang mengalami tanda-tanda gangguan mental dan penggunaan zat aditif. Dukungan sosial dan psikologis dari masyarakat dirasa sangat penting.

Friedman (1998) menyebutkan bahwa dukungan sosial dapat melemahkan dampak stress dan secara langsung memperkokoh kesehatan jiwa individu dan keluarga.

Dukungan sosial merupakan strategi koping penting untuk dimiliki keluarga saat mengalami stress. Dan dukungan keluarga merupakan bagian penting dalam dukungan sosial.

Pertolongan pertama

Dukungan yang terkait dengan fenomena kesehatan mental dapat disebut sebagai sebuah pertolongan pertama psikologi atau Psychology First Aid (PFA) yang bertujuan untuk menenangkan individu, mengurangi tekanan yang dirasakan, membuat individu merasa nyaman dan aman, mengidentifikasi dan memberikan bantuan yang dibutuhkan saat itu, menciptakan hubungan antarmanusia serta memfasilitasi dukungan sosial yang mungkin didapatkan.

Pelaksanaan PFA senantiasa mengikuti prinsip “Lihat” yaitu, memperhatikan orang-orang di sekitar kita yang menunjukan reaksi berbahaya atau membutuhkan bantuan, “Mendengarkan” yaitu mendengarkan dengan perhatian penuh serta beri bantuan dengan tenang.

Dan, “Hubungkan” yaitu tentunya jika kita tidak mampu mengatasi masalah yang dihadapi orang yang berada di depan kita maka bantulah dia untuk mendapatkan bantuan orang-orang yang lebih profesional seperti psikolog, dokter jiwa dan sebagainya.

Jika berbicara tentang kesehatan mental, agaknya kita perlu merujuk berita terkait dengan fenomena meningkatnya kasus bunuh diri beberapa hari dan bulan yang lalu.

Adanya kasus bunuh diri merupakan peringatan yang sangat keras tentang pentingnya menjaga kesehatan jiwa manusia.

Kondisi mental yang kurang baik tidak saja bisa berakhir dengan penyakit depresi, skizoprenia dan sebagainya, tetapi juga dapat berakhir dengan kematian atau melakukan pembunuhan terhadap diri sendiri.

Hal ini terlihat jelas dalam laporan khusus Serambi Indonesia yang pernah menurunkan edisi khusus berjudul bunuh diri (Senin, 5/9/2016).

Dalam laporannya disebutkan bahwa dalam sebulan terakhir terjadi lima kasus bunuh diri di Aceh yang terpantau oleh media massa. Jika dirata-ratakan berarti setiap 6 hari ada satu orang bunuh diri di Aceh.

Penyebab dan pelaku bunuh diri juga beragam mulai dari siswi SMA, mahasiswa, pria dewasa hingga ibu tiga anak dan penyebabnya mulai dari kesulitan ekonomi, hubungan keluarga, situasi sekolah dan sebagainya.

Hal tersebut tentu merupakan satu fakta yang sangat tidak wajar di tengah-tengah masyarakat yang mayoritas penduduknya beragama terutama Islam.

Pertanyaannya, apakah masyarakat tidak mengetahui akan pandangan Islam terkait dengan bunuh diri? Penulis yakin dan percaya semua kita pasti mengetahui, namun bagi masyarakat yang menghadapi hidup sering kali kehilangan pegangan dan keyakinan, sehingga bunuh diri sebuah pilihan.

Dapat dicegah

Oleh karenanya jika kita kembali kepada gerakan I-Care Lihat, Dengarkan dan Hubungkan, maka saya yakin kasus bunuh diri sebagai sebab dari ketidaksehatan jiwa masyarakat pasti dapat dicegah dengan kepedulian seluruh unsur masyarakat.

Sebagai contoh depresi dan frustrasi yang disebabkan keadaan ekonomi, seharusnya keberadaan lembaga seperti Baitul Mal dan LAZIS dapat memberikan bantuan dan tidak sama seperti lembaga keuangan lain yang kadang kala membutuhkan syarat terlalu administratif.

Baitul Mal dan LAZIS seharusnya mampu memiliki alat ukur dan orang-orang yang dapat memastikan, apakah orang yang bersangkutan benar-benar dalam keadaan sangat membutuhkan pertolongan, dikarenakan tidak memiliki uang sama sekali, sehingga tidak perlu membuat proposal hingga harus kehilangan nyawa mereka.

Selanjutnya, kasus depresi yang terjadi pada anak sekolah dan mahasiswa, seharusnya telah menjadi peringatan keras kepada pemangku jabatan di sekolah dan universitas bahwa lembaga-lembaga ini memerlukan pusat konseling dan psikologi profesional, yang tidak hanya melayani permintaan-permintaan perusahaan besar untuk melakukan assesment, tetapi hal yang paling dasar adalah mampu melayani kebutuhan-kebutuhan mahasiswa untuk bercerita dan berbagi.

Dengan demikian, terwujudnya masyarakat Indonesia khususnya Aceh yang sehat jiwa tidak saja tanggung jawab perawat jiwa, dokter jiwa, psikolog melainkan seluruh komponen bangsa seperti pemerintah dan masyarakat, sehingga kita menjadi bangsa yang sehat jiwa dan fisik bukan sehat fisik dan jiwa seperti amanah pendahulu kita Bangunlah Jiwanya Bangunlah Badannya. Dirgahayu Hari Kesehatan Mental Sedunia 2016!

* Harri Santoso, S.Psi., M.Ed., Dosen di Fakultas Psikologi UIN Ar Raniry dan Direktur Eksekutif Yayasan Rumah Disabilitas Indonesia. Email: harri_uma81@yahoo.com

Sumber : Serambinews
×
Berita Terbaru Update