Notification

×

Iklan

Iklan

Kesetaraan Gender dan Peran Wanita dalam Kehidupan Sosial

Selasa, 09 Juni 2020 | Juni 09, 2020 WIB | 0 Views Last Updated 2020-06-09T12:14:26Z
abati parfum | Parfum Arab Terbaik
Berbicara mengenai wanita merupakan satu hal yang menarik sekaligus unik. Ya, seperti yang kita ketahui wanita dikalangan sosial lebih terlihat mengikut arus ketimbang menyisir arus dalam kehidupan sosial. Wanita kerap menjadi sosok yang tak bisa diandalkan, selalu dipojokkan dan jarang suaranya didengar. 


Bukan karena wanita anti sosial hanya saja seperti ada pembedaan antara wanita dengan pria, yang seolah-olah pria lah penanggung jawab lebih atas segala hal dalam kehidupan sosial. Ini bukan lah persoalan agama, benar, dalam Surah Annisa Allah berfirman bahwa lelaki adalah pemimpin bagi wanita, bahkan tidak sedikit aktivis religi yang menggunakan ayat ini dalam hal kepemimpinan dikehidupan sosial. 

Nah disini kita bisa melihat bahwa banyak doktrin-doktrin yang seakan-akan menyatakan bahwa wanita lebih lemah bahkan dibawah naungan lelaki, secara tidak langsung menyatakan "wanita tidak bisa melakukan apapun.

"Nah, sebelum membuka mindset orang lain, mari kita membuka fikiran kita mengenai kedudukan wanita. Selama ini Laiki-laki diberi image sebagai sosok yang kuat, tidak cengeng, kokoh, handal, cerdas, dan sebagainya.

Di samping itu laki-laki juga dituntut untuk mampu menghadapi segala permasalan dan tantangan kehidupan sendiri. Sementara itu perempuan diberi image sebagai sosok yang manis, lemah-lembut, cengeng, ketergantungan dengan orang lain, sehingga tidak menutup kemungkinan perempuan tersebut akan mengharap bantuan orang lain dalam mengatasi segala masalah yang muncul dan dihadapi dalam kehidupan ini. 

Q.S An-nisa:34, Allah berfirman yang menyatakan "Arrijalu qawwamuna'alaannisa" yang berarti "Lelaki adalah pemimpin bagi wanita" secara tekstual kita bisa melihat bahwa jelas disini dikatakan wanita tidak bisa menjadi pemimpin selagi adanya lelaki. Kebanyakan ulama terdahulu juga mengatakan hal yang sama. Namun tidak sampai disitu, ayat ini membahas mengenai kekeluargaan sesuai dengan Asbabunnuzul nya Menurut At-Thobari asbabun nuzul surat An-Nisa ayat 34 menyebutkan peristiwa Sa’ad bin Ar-Robi’ dan isrinya Habibah binti Zaid bin Abi Zubair. 

Diriwayatkan bahwa Habibah nusyuz terhadap suaminya, lalu Sa’ad memukul Habibah. Ayat ini diturunkan dalam bentuk problem keluarga yang seorang isteri nusyuz terhadap suaminya. Maka jika kita membuka tafsiran yang lebih luas lagi seharusnya kata "laki-laki adalah pemimpin" bukan lah dalam konteks umum, tetapi dalam konteks khusus. ulama kontemporer ternama Yusuf Al-Qordhawi memiliki pandangan dan pendapat yang berbeda terhadap kepemimpinan wanita dalam berpolitik.

Qordhawi memperbolehkan wanita dalam berpolitik. Beliau menjelaskankan bahwa penafsiran terhadap surat an-nisa ayat 34 bahwa laki-laki adalah pemimpin bagi wanita adalah dalam lingkup keluarga atau rumah tangga. Meskipun ini menjadi khilafiah dalam kalangan ulama. Namun tetap saja tidak menutup kemungkinan wanita bisa menjadi tokoh publik dalam lingkup sosial, karena kepemimpinan bukan hanya diandalkan dengan tubuh yang kekar atau jiwa yang kebal. Allah juga tidak membeda-bedakan antar jenis kelamin, Allah menjelaskan hal ini dalam Q.S Alhujurat : 13, bahwa yang membedakan antara kamu bukan lah dilihat dari lelaki atau perempuan, melainkan dari ketaqwaan. 

Dalam konsep diatas, maka sebagai wanita ini menjadi peluang besar agar wanita menduduki posisi pria bukan dalam hal menandingi, tetapi membuktikan bahwa wanita bukan lah makhluk Close minded yang bisa dikucilkan bahkan didiskriminasi. 

Salah seorang pengajar di Universitas Islam Negeri Ar-Raniry pernah mengucap," The mind has no Gender" kalimat tersebut merupakan alur untuk membuka mindset bahwa dalam hal berfikir ataupun bertindak tidak ada batas gender didalamnya. Setiap orang memiliki kapasitas akal dan fikiran yang berbeda dengan daya nalar kualitas yang berbeda pula. 

Ada sebuah sejarah yang mungkin luput dari cermatan banyak orang saat ini, Kartini pahlawan perempuan di Indonesia melakukan negosiasi politik feminitas dalam salah satu cara perjuangannya. Dalam kultur tradisional, memasak, dikawinkan, dan dipingit adalah kegiatan yang melekat pada diri perempuan. Diungkapkan oleh Chuzaifah, Yuniyanti (Gatra, April 2010: 13), bahwa Kartini menggunakan peran domestik sebagai strategi accommodating protest, memasak dalam konteks Kartini bisa ditafsirkan sebagai upaya menyejajarkan egalitarianisme pribumi dengan kolonial melalui ranah domestik tradisi perempuan. Kecanggihan Kartini memasak aneka masakan lokal dan Eropa membuatnya dianggap berbudaya, beradab, dan pada saat yang sama masih memelihara kelaziman sebagai ide-ide progresifnya.

Dan banyak lagi peranan pahlawan wanita dalam kehidupan politik, yang dapat dijadikan ibrah dan patokan bahwa wanita bukan lah makhluk lemah yang tidak memiliki kekuatan dan tak berhak masuk dalam ranah sosial. Dalam agama maupun kehidup sosial pada dasarnya tidak ada perbedaan makhluk antar gender, semuanya berhak berkedudukan disatu tempat yang sama. 

Pengirim :
Nurul Husna 
Mahasiswa Fak. Syari'ah dan Hukum Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh.

×
Berita Terbaru Update