Notification

×

Iklan

Iklan

Saat Layar Lebih Memikat: Krisis Minat Baca Generasi Milenial

Minggu, 06 Juli 2025 | Juli 06, 2025 WIB | 0 Views Last Updated 2025-07-06T05:51:16Z
abati parfum | Parfum Arab Terbaik

Mukzitun Husnah (Foto/dok. pribadi)

Di era digital, layar gadget telah menjadi sahabat setia generasi milenial. Informasi, hiburan, bahkan pendidikan kini tersedia dalam satu genggaman. Sayangnya, kemudahan ini membawa dampak pada menurunnya minat baca buku, terutama buku fisik. Survei Nasional Literasi 2022 menunjukkan waktu membaca buku cetak hanya sekitar 30 menit per minggu, sementara konsumsi media sosial dan video streaming bisa mencapai lebih dari tiga jam per hari.

 

Fenomena ini bukan sekadar pergeseran kebiasaan, melainkan gejala perubahan budaya berpikir. Anak muda kini terbiasa mengonsumsi informasi cepat dan instan, yang sering kali dangkal. Konten visual yang ringan dan menghibur lebih dipilih dibandingkan menyelami bacaan yang menuntut konsentrasi dan refleksi. Akibatnya, kemampuan berpikir kritis dan mendalam perlahan memudar.

 

Namun, kita tak bisa menyalahkan teknologi sepenuhnya. Perubahan gaya hidup, sistem pendidikan, dan kurangnya lingkungan literat juga ikut berperan. Banyak keluarga dan sekolah belum menjadikan membaca sebagai kegiatan yang menyenangkan. Di daerah terpencil, perpustakaan minim, koleksi buku terbatas, dan akses digital pun tak selalu merata. Sementara itu, gadget—meski terjangkau—lebih sering digunakan untuk hiburan daripada edukasi.

 

Studi UNESCO (2020) menyebutkan bahwa internet telah menggantikan buku sebagai sumber utama informasi. Padahal, menurut OECD, literasi bukan hanya mengenali huruf, tapi juga memahami, mengevaluasi, dan menganalisis teks secara kritis. Media digital cenderung menawarkan konten singkat dan cepat, sehingga kemampuan literasi mendalam tak berkembang optimal.

 

Dari sisi psikologis, teori konstruktivisme Piaget menyatakan bahwa pembelajaran efektif terjadi saat seseorang aktif membangun pemahaman melalui interaksi dengan teks kompleks. Sementara itu, Bandura menegaskan bahwa perilaku membaca dipengaruhi oleh model di lingkungan sekitar. Jika di rumah atau sekolah lebih banyak waktu dihabiskan untuk bermain gadget daripada membaca, maka minat baca pun ikut menurun. Hal ini diperkuat oleh teori motivasi Deci dan Ryan, bahwa minat baca akan tumbuh jika ada dorongan dari dalam dan dukungan dari lingkungan sekitar.

 

Pemerintah Indonesia sebenarnya telah memiliki regulasi pendukung, seperti UU No. 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan dan PP No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Sayangnya, implementasinya masih menghadapi banyak tantangan: anggaran terbatas, kurangnya pengawasan, distribusi buku tidak merata, serta minimnya koleksi menarik bagi generasi milenial.

 

Di sisi lain, beberapa negara maju berhasil membangun budaya baca sejak dini. Finlandia misalnya, menyediakan perpustakaan lengkap di sekolah, program membaca yang menyenangkan, serta keterlibatan aktif orang tua. Jepang dan Korea Selatan memanfaatkan teknologi untuk menciptakan buku digital interaktif yang menggabungkan teks dengan animasi, membuat membaca terasa seperti bermain.

 

Indonesia bisa meniru pendekatan ini. Kita perlu mengembangkan program literasi yang adaptif, yang menggabungkan kekuatan buku dan teknologi. Pojok baca di sekolah, kampanye literasi digital, atau lomba membaca daring bisa menjadi langkah awal. Yang paling penting adalah membangun budaya membaca sebagai gaya hidup, bukan kewajiban.

 

Minat baca bukan sekadar urusan pendidikan, tapi investasi masa depan bangsa. Generasi milenial yang gemar membaca akan tumbuh menjadi generasi yang kritis, kreatif, dan siap bersaing di kancah global. Saatnya semua pihak—pemerintah, sekolah, keluarga, dan komunitas—bersinergi menciptakan lingkungan literasi yang menyenangkan, mudah diakses, dan relevan dengan zaman.[]

 

Penulis :

Mukzitun Husnah, Mahasiswi Prodi Manajemen Pendidikan Islam Fakultas Tarbiyah dan Keguruan Universitas KH. Mukhtar Syafaat Blokagung Banyuwangi

×
Berita Terbaru Update