TamiangNews.com - Bencana banjir dan longsor yang melanda sejumlah wilayah di Sumatra, termasuk Aceh dan daerah sekitarnya, kembali mengingatkan kita bahwa bencana bukan hanya persoalan alam, tetapi juga ujian kemanusiaan. Di balik rumah yang terendam, jalan yang terputus, dan aktivitas warga yang lumpuh, tersimpan duka, kecemasan, serta trauma yang dialami masyarakat terdampak.
Dalam kondisi seperti ini, bantuan logistik dan penanganan teknis tentu menjadi prioritas. Namun, ada aspek penting yang sering luput dari perhatian, yakni komunikasi hati. Komunikasi yang berlandaskan empati, kepedulian, dan ketulusan menjadi kebutuhan mendasar bagi masyarakat yang sedang berada dalam situasi krisis.
Komunikasi hati berarti menyampaikan pesan tidak hanya dengan kata-kata, tetapi juga dengan sikap memahami kondisi emosional orang lain. Bagi warga yang terdampak banjir dan longsor, didengarkan keluhannya, diakui penderitaannya, dan diperlakukan dengan hormat merupakan bentuk dukungan psikologis yang sangat berarti. Bahasa yang menenangkan, bukan menyalahkan, menjadi kunci untuk menjaga kepercayaan masyarakat.
Sayangnya, dalam penanganan bencana, komunikasi sering kali masih bersifat formal dan birokratis. Pernyataan yang terlalu teknis atau sekadar berfokus pada data dan angka kerap mengabaikan sisi kemanusiaan korban. Padahal, di tengah ketidakpastian dan rasa kehilangan, masyarakat membutuhkan kehadiran yang hangat serta komunikasi yang menumbuhkan harapan.
Media lokal seperti Tamiang News memiliki peran strategis dalam membangun komunikasi hati tersebut. Pemberitaan yang berpihak pada kemanusiaan, mengangkat suara warga terdampak, serta menyoroti semangat gotong royong di tengah bencana dapat memperkuat solidaritas sosial. Media bukan sekadar penyampai informasi, tetapi juga penghubung empati antara masyarakat, pemerintah, dan para relawan.
Selain itu, komunikasi hati juga sangat dibutuhkan dalam koordinasi penanganan bencana di tingkat daerah. Pemerintah, aparat, relawan, dan masyarakat perlu membangun komunikasi yang terbuka dan saling menghargai agar bantuan dapat tersalurkan secara tepat sasaran. Ketika komunikasi dibangun dengan empati, potensi kesalahpahaman dan konflik di lapangan dapat diminimalkan.
Bencana banjir dan longsor yang terjadi di Sumatra hendaknya menjadi momentum refleksi bersama. Bahwa dalam situasi darurat, kekuatan utama masyarakat bukan hanya pada infrastruktur dan sumber daya, tetapi juga pada nilai kebersamaan dan kepedulian. Komunikasi hati menjadi perekat sosial yang menjaga solidaritas tetap hidup di tengah duka.
Pada akhirnya, luka akibat bencana mungkin tidak mudah hilang. Namun, melalui komunikasi yang tulus dan manusiawi, harapan dapat terus ditumbuhkan. Di tengah bencana, komunikasi hati adalah bahasa kemanusiaan yang menyatukan dan menguatkan masyarakat untuk bangkit bersama.



