
Gambar: ilustrasi
Tamiang-News.com,YOGYAKARTA – Bencana banjir dan longsor yang melanda sejumlah wilayah di Sumatra dan Aceh dalam beberapa waktu terakhir menyisakan duka mendalam.
Rumah-rumah warga terendam, jembatan dan akses jalan terputus, serta lahan pertanian rusak parah. Aktivitas masyarakat lumpuh, sementara fasilitas umum dan sekolah tidak dapat difungsikan.
Di Kabupaten Aceh Tengah, bencana ini berdampak langsung pada kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat. Sawah dan kebun terendam banjir, mengancam sumber penghidupan warga Gayo.
Tanaman kopi yang selama ini menjadi komoditas unggulan daerah mengalami kerusakan dan terancam gagal panen. Kondisi tersebut membuat banyak keluarga kehilangan pendapatan di tengah kebutuhan hidup yang terus berjalan.
Dampak bencana tidak hanya dirasakan oleh warga di lokasi terdampak. Anak-anak rantau asal Aceh juga ikut merasakan tekanan emosional dari kejauhan. Ahmad Syafiq Sidqi, mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta asal Desa Jagong Jeget, Kabupaten Aceh Tengah, mengaku setiap kabar dari kampung halaman membawa kecemasan tersendiri.
“Berita tentang banjir bukan sekadar informasi, tapi menjadi beban emosional bagi kami yang jauh dari rumah,” ujarnya. Keterbatasan jarak membuat anak rantau tidak dapat hadir langsung membantu keluarga. Kondisi jaringan komunikasi yang kerap terganggu akibat listrik padam semakin memperparah rasa khawatir.
Anak rantau hanya bisa memantau perkembangan situasi melalui media sosial, sambungan telepon, atau berita daring. Ketika komunikasi terputus, rasa tidak berdaya semakin terasa. Keinginan untuk pulang sering terbentur kewajiban kuliah, pekerjaan, jarak, serta keterbatasan transportasi.
Meski demikian, solidaritas tetap terjalin. Dari perantauan, anak-anak Aceh berupaya menggalang donasi, mengirim bantuan, serta menyebarkan informasi agar perhatian publik tertuju pada bencana di Aceh, khususnya Aceh Tengah. Dukungan juga datang dari berbagai pihak di Yogyakarta. Sejumlah komunitas, organisasi kampus, masyarakat, hingga pemerintah daerah turut menginisiasi penggalangan dana. Bahkan, beberapa warung makan menyediakan makanan gratis bagi mahasiswa dengan KTP Sumatra-Aceh sebagai bentuk kepedulian.
Sementara itu, warga terdampak di kampung halaman menghadapi kondisi serba terbatas di lokasi pengungsian. Banyak keluarga kehilangan tempat tinggal, anak-anak kehilangan ruang belajar, dan aktivitas ekonomi terhenti. Pasar tradisional tidak beroperasi, sementara akses antarwilayah masih sulit dilalui.
Di tengah keterpurukan, semangat gotong royong tetap menjadi kekuatan utama masyarakat. Warga saling membantu, berbagi logistik, dan menguatkan satu sama lain. Solidaritas ini menjaga harapan tetap hidup meski bencana telah merenggut banyak hal berharga.
Bagi anak rantau, bencana ini bukan hanya soal kerusakan fisik, tetapi juga beban psikologis. Rasa cemas bercampur dengan rasa bersalah karena tidak dapat hadir mendampingi keluarga di saat-saat sulit. Semua perhatian hanya dapat disalurkan melalui doa dan dukungan dari kejauhan.
Bencana banjir dan longsor di Sumatra-Aceh menjadi pengingat bahwa jarak tidak pernah mampu memutus kepedulian. Duka yang dirasakan bersama ini menegaskan pentingnya solidaritas, kesiapsiagaan, dan perhatian berkelanjutan agar masyarakat dapat bangkit dari bencana dan menghadapi tantangan serupa di masa depan.[]Ahmad Syafiq Sidqi

