Tamiang-News.com, ACEH TAMIANG - Deru ekskavator memecah sunyi pagi di bantaran Hilir Sungai Tamiang. Lumpur pekat yang mengendap berbulan-bulan itu kini diangkat perlahan, seolah membuka kembali ingatan warga akan malam kelam ketika banjir bandang menerjang Aceh Tamiang pada akhir 2025 lalu. Bagi sebagian orang, pengerukan sungai ini hanyalah proyek infrastruktur. Namun bagi warga di hilir, ini adalah tanda pertama bahwa hidup sedang diupayakan untuk kembali normal.
Banjir bandang 2025 bukan sekadar limpahan air. Ia membawa kayu gelondongan dan lumpur pekat dari hulu, menutup alur sungai dan menjadikannya dangkal. Rumah-rumah terendam, sawah tertutup endapan, dan sumber penghidupan seolah ikut hanyut bersama arus. Hingga berbulan-bulan kemudian, sungai masih menyisakan trauma dangkal, menyempit, dan rawan meluap kembali saat hujan turun.
Pengerukan sungai yang kini dilakukan menjadi babak penting dalam proses pemulihan. Alat berat bekerja hampir setiap hari, mengangkat sedimen yang selama ini menjadi penyebab utama tersumbatnya aliran air. Di beberapa titik, kayu-kayu besar yang dulu datang tanpa permisi akhirnya dikeluarkan satu per satu. Sungai mulai bernapas kembali.
“Kalau sungai sudah dalam, kami bisa sedikit tenang,” kata Jamaluddin, warga Kecamatan seruway, sambil memandangi aliran air yang mulai tampak lebih lancar. Ia masih ingat bagaimana air naik dengan cepat, memaksa saudaranya yang berada di hulu mengungsi dalam gelap. Kini, setiap suara mesin dari arah sungai terdengar seperti isyarat harapan.
Namun pemulihan tak berhenti pada pengerukan semata. Bagi warga, sungai bukan hanya saluran air, tetapi nadi kehidupan. Ketika sungai rusak, ekonomi ikut lumpuh. Nelayan sungai kehilangan tangkapan, petani gagal tanam, dan akses air bersih terganggu. Maka, normalisasi sungai juga berarti membuka kembali ruang hidup yang sempat tertutup bencana.
Di balik kerja teknis itu, tersimpan harapan agar pengerukan dibarengi dengan pembenahan di hulu. Warga menyadari, tanpa perlindungan kawasan atas, lumpur dan kayu akan kembali datang saat hujan besar berikutnya. Banjir bandang 2025 telah memberi pelajaran mahal: pemulihan sejati bukan hanya memperbaiki yang rusak, tetapi mencegah kerusakan yang sama terulang.
Kini, di tepian sungai yang mulai rapi, anak-anak kembali bermain, meski masih dengan kewaspadaan. Perempuan mencuci pakaian sambil bercerita tentang rencana menanam kembali kebun yang sempat tertimbun. Sungai belum sepenuhnya pulih, tetapi denyut kehidupan perlahan kembali terasa.
Pengerukan sungai di Aceh Tamiang bukan sekadar mengangkat lumpur dari dasar aliran. Ia adalah upaya menggali kembali rasa aman, menata ulang harapan, dan membangun keyakinan bahwa setelah banjir bandang, kehidupan tetap bisa dirajutasal alam dijaga dan manusia belajar dari luka yang pernah ada.[]TNW_001


