![]() |
| Gambar: Jumadi alias Wak kuda, "Saya tidak minta macam-macam. Cukup ada kuda, saya bisa cari makan sendiri,” |
Tamiang-News.com, KARANG BARU -Di bawah pohon yang meranggas, di atas tanah yang masih basah oleh lumpur banjir bandang, Jumadi, yang akrab disapa Wak Kuda duduk terpaku di bangku delman tuanya.
Kereta kuda yang dulu menjadi sumber nafkah itu kini teronggok tak berdaya di Desa Bundar tempat dirinya Mangkal. Yang paling menyayat, kuda kesayangannya telah mati terseret banjir bandang yang melanda Aceh Tamiang pada Bulan November 2025 lalu.
Banjir bandang tersebut tak hanya merendam rumah dan kebun warga, tetapi juga merenggut mata pencaharian Wak Kuda, seorang kusir delman yang selama puluhan tahun menggantungkan hidupnya pada seekor kuda.
Tanpa kuda, delman hanyalah rangka besi tak bernyawa, dan bagi Wak Kuda, itu berarti berhentinya roda kehidupan.
“Sejak kuda saya mati, saya tidak bisa bekerja lagi,” ujar Jumadi lirih, matanya menatap tanah berlumpur di Desa Bundar, Kecamatan Karang Baru, tempat ia Mangkal.
Setiap hari, ia hanya bisa membersihkan sisa-sisa lumpur di sekitar delmannya, seolah berharap keajaiban datang menghidupkan kembali kuda dan masa lalunya.
Sebelum bencana, Wak Kuda biasa mengantar anak-anak serta orang dewasa untuk berjalan santai di sore hingga malam hari, hingga dirinya menjadi sala satu transportasi hiburan buat warga di desa desa kabupaten yang dijuluki bumi muda sedia ini.
Kini, ia hanya mengandalkan bantuan keluarga dan tetangga untuk bertahan hidup. Banjir bukan hanya merusak harta benda, tetapi juga memutus rantai ekonomi kecil yang selama ini nyaris tak terlihat.
Wak Kuda berharap ada perhatian dari pemerintah daerah maupun pihak terkait, Ataupun Relawan.Harapannya sederhana: mendapatkan seekor kuda baru agar ia bisa kembali bekerja dan hidup mandiri.
“Saya tidak minta macam-macam. Cukup ada kuda, saya bisa cari makan sendiri,” katanya.
Kisah Wak Kuda menjadi potret kecil dari dampak besar banjir bandang yang melanda Aceh Tamiang. Di balik angka kerusakan dan laporan resmi, ada manusia-manusia seperti Jumadi yang kehilangan lebih dari sekadar harta, mereka kehilangan harapan. Kini, Wak Kuda hanya menunggu uluran tangan, agar delmannya kembali bergerak dan hidupnya kembali berjalan.[] TNW 001


