Notification

×

Iklan

Iklan

Nasib Pantun Tamiang Pasca Banjir 2025: Ketika Petuah Orang Tua Terhenti di Tengah Luka

Minggu, 15 Februari 2026 | Februari 15, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-02-15T07:27:13Z
abati parfum | Parfum Arab Terbaik


Caption : [Foto Ilustrasi (Wak Bedoel Kampoeng) Digital Art/mediaTamiangNews.com/Reger]
Pegiat seni budaya pantun di Aceh Tamiang ini ibarat garam. Tidak terlihat dan tak dianggap mahal, tetapi selalu dicari dan dibutuhkan,

Tamiang-News.com, ACEH TAMIANG - Di tengah upaya pemulihan pasca banjir bandang 2025, denyut kesenian tradisi di Aceh Tamiang ikut meredup. Salah satunya adalah seni tutur berpantun, warisan lisan Melayu yang selama ini menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sosial masyarakat.


Muhammad Daud , yang Akrab disapa Wak Bedol Kampoeng, pegiat pantun yang telah menekuni seni berpantun sejak 2002, menjadi saksi bagaimana panggung-panggung budaya pasca banjir bandang kini sepi. 


Ia tergabung dalam Sanggar Seni Rampai Tamiang, sebuah wadah yang selama ini aktif menghidupkan tradisi pantun di berbagai acara adat dan seremonial. Dengan tag line yang selalu ia gaungkan, “Kate Atoek Ambe (Kata Petuah Orang Tua)”, Wak Bedol menjadikan pantun bukan sekadar hiburan, melainkan medium menyampaikan nilai, nasihat, dan jati diri Melayu Tamiang.



“Sebelum banjir, kami aktif mengisi acara peresmian pernikahan, menjadi MC dalam kegiatan seremonial, hingga menyambut pejabat yang hadir di Aceh Tamiang,” ujar Wak Bedol.



Namun, sejak banjir bandang melanda beberapa bulan lalu, aktivitas itu terhenti. Hingga kini, belum ada lagi kegiatan berpantun maupun agenda kesenian lainnya yang kembali berjalan.


Kondisi tersebut tak lepas dari belum pulihnya perekonomian masyarakat pasca bencana hidrometeorologi yang melanda wilayah ini. Fokus warga masih tertuju pada pemulihan rumah, mata pencaharian, dan kebutuhan dasar sehari-hari. Dalam situasi seperti itu, ruang untuk kegiatan kebudayaan menjadi terbatas.



Sebelum bencana, Wak Bedol bersama rekan-rekannya di Sanggar Seni Rampai Tamiang kerap tampil dalam berbagai kegiatan masyarakat, baik yang digelar secara swadaya maupun dalam event yang diprakarsai pemerintah kabupaten dan provinsi. 


Pantun menjadi pembuka acara, perekat suasana, sekaligus simbol penghormatan dalam setiap seremoni.


“Pegiat seni budaya pantun di Aceh Tamiang ini ibarat garam. Tidak terlihat dan tak dianggap mahal, tetapi selalu dicari dan dibutuhkan,” ungkapnya.


Bagi masyarakat Melayu Tamiang, pantun bukan sekadar rangkaian kata berima. Ia adalah tradisi lisan yang mengangkat identitas kedaerahan dan memperkuat karakter budaya. Melalui pantun, pesan disampaikan secara halus baik berupa nasihat, teguran, maupun kritik—tanpa melukai perasaan.



Tak heran, UNESCO telah menetapkan pantun sebagai Warisan Budaya Takbenda pada 17 Desember 2020, karena nilai luhur yang dikandungnya. Dalam pertemuan adat, acara sosial, hingga peresmian pernikahan, pantun menjadi alat komunikasi yang mencairkan suasana, melicinkan perundingan, dan mempererat keakraban.


Di Aceh Tamiang, daerah yang dijuluki Bumi Muda Sedia, pantun juga menjadi penanda identitas budaya Melayu yang memperkuat rasa kebersamaan masyarakat.
Kini, di tengah upaya bangkit dari keterpurukan pasca banjir, para pegiat seni budaya hanya bisa berharap agar denyut kesenian kembali bergema.


Sebab, ketika pantun tak lagi terdengar, bukan hanya panggung yang sepi, tetapi juga ruang-ruang kebersamaan yang perlahan kehilangan suara petuah orang tua.


Di balik lumpur dan puing yang tersisa, nasib pantun Tamiang menanti momentum untuk kembali bersuara menguatkan, mengingatkan, dan menyatukan.[]TNW_001


×
Berita Terbaru Update