Notification

×

Iklan

Iklan

Rumah Syahbandar di Aceh Tamiang, Akankah Tinggal Kenangan?

Sabtu, 14 Februari 2026 | Februari 14, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-02-14T18:01:44Z
abati parfum | Parfum Arab Terbaik


Caption : [Foto Ilustrasi Digital Art/mediaTamiangNews.com/Reger]
Narasumber: Mustafa Kamal, S.Pd. M.M (Kabid Kebudayaan Disdikbud Aceh Tamiang) & Syahrial (Pemerhati Situs Cagar Budaya)


Tamiang-News.com, ACEH TAMIANG - Di Kampung Serba, Kecamatan Bandar Pusaka, waktu seperti berhenti pada 25 November 2025. Sisa-sisa lumpur masih menempel di dinding kayu tua, menyisakan aroma getir banjir bandang yang beberapa waktu lalu menerjang Aceh Tamiang.

Di antara bangunan yang paling memprihatinkan berdiri atau lebih tepatnya bertahan sebuah rumah bersejarah yang dikenal masyarakat sebagai Rumah Syahbandar.


Rumah itu milik Nyak Mud. Dibangun oleh seorang tukang bangunan keturunan Tionghoa bernama Tengong, bangunan ini bukan sekadar hunian. Ia adalah saksi bisu interaksi budaya, jejak perdagangan, dan denyut kehidupan pesisir Tamiang pada masa silam, ketika syahbandar memegang peran penting sebagai pengatur lalu lintas niaga dan pelabuhan.


Kini, kondisinya rusak berat. Struktur kayu melemah, bagian dinding terkelupas, dan sejumlah ornamen hilang. Hingga hari ini, rumah bersejarah tersebut belum tersentuh pemulihan menyeluruh. Bahkan, pembersihan total pun belum dilakukan.


Syahrial, salah seorang pemerhati situs cagar budaya alam di Aceh Tamiang, berdiri menatap dinding rumah itu dengan raut wajah getir. Tangannya menunjuk ke bagian dinding yang kini tampak polos dan kusam.


“Di Rumah Syahbandar, jejak itu dulu terlihat nyata. Tulisan Arab Melayu yang tertera di dinding kini telah hilang, tergerus air dan waktu. Padahal, itu bukan sekadar aksara,” ungkapnya pelan.


Tulisan Arab Melayu itu, menurut Syahrial, bukan hanya hiasan atau ornamen arsitektur. Ia adalah penanda identitas, bukti peradaban, dan saksi perjalanan perdagangan serta percampuran budaya yang pernah hidup di Tamiang.


Setiap guratan huruf menyimpan nilai sejarah tentang hubungan dagang, tentang keislaman masyarakat pesisir, serta tentang pertemuan budaya lokal dan pengaruh luar yang membentuk karakter daerah ini.


“Alhamdulillah, stempel Cina yang bermakna kurang lebih sebagai simbol tolak bala pada kedua tiang pintu masuk masih terlihat,” tutur Syahrial yang menyaksikan langsung kondisi tersebut.


Simbol itu menjadi pengingat bahwa rumah ini bukan hanya representasi budaya Melayu-Islam, tetapi juga bukti akulturasi dengan budaya Tionghoa. Perpaduan tersebut lahir dari aktivitas perdagangan dan hubungan sosial lintas etnis di pesisir Tamiang.


Identitas yang Tergerus


Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan melalui Kabid Kebudayaan Aceh Tamiang, Mustafa Kamal, S.Pd., M.M., mengungkapkan terdapat 48 Cagar Budaya dan Objek Diduga Cagar Budaya (ODCB) di wilayah ini. Dari jumlah tersebut, 32 di antaranya terdampak banjir bandang pada November lalu.


“Sebanyak 48 Cagar Budaya dan Objek Diduga Cagar Budaya (ODCB) di Aceh Tamiang, dan 32 di antaranya terdampak berat akibat bencana banjir yang melanda beberapa waktu lalu. Ini bukan sekadar angka, tetapi bagian dari identitas dan jejak sejarah Tamiang yang terancam hilang,” ungkap Mustafa.


Restorasi atau Kehilangan

Mustafa Kamal, S.Pd., M.M., berharap musibah ini menjadi momentum kebangkitan kepedulian.


“Semoga ini menjadi langkah awal. Mudah-mudahan ke depan ada dukungan lanjutan untuk restorasi menyeluruh agar Rumah Syahbandar dapat kembali mendekati bentuk aslinya, bukan hanya sebagai bangunan tua, tetapi sebagai simbol kejayaan sejarah pesisir Tamiang,” ujarnya.


Namun, ia juga mengingatkan kenyataan yang tak bisa dihindari. Pernyataan itu seperti alarm. Tanpa campur tangan serius dari pemerintah dan pihak berwenang, besar kemungkinan keluarga pemilik rumah akan melakukan rehabilitasi secara mandiri yang bisa saja mengubah bentuk asli bangunan demi alasan keselamatan dan kebutuhan tempat tinggal.


“Dengan segala keterbatasan, perbaikan tersebut tentu tidak akan mampu mengembalikan bentuk dan nilai sejarah seperti aslinya. Jika itu terjadi, maka hilanglah satu lagi bukti sejarah otentik Tamiang.”


Di situlah dilema muncul: antara mempertahankan keaslian sejarah atau menyelamatkan fungsi hunian.


Harapan yang Datang Perlahan


Di tengah keprihatinan, ada kabar baik. Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah I (BPK) berencana membantu melakukan pembersihan awal.


Walau saat ini baru sebatas itu yang mampu dilakukan, langkah tersebut tetap patut disyukuri dan diapresiasi. Dalam pelestarian cagar budaya, pembersihan bukan hanya soal membersihkan lumpur, melainkan simbol bahwa negara hadir dan sejarah masih dianggap penting.


Rumah Syahbandar bukan sekadar kayu tua dan tiang lapuk. Ia adalah cerita tentang pelabuhan, kapal-kapal dagang yang pernah singgah, perjumpaan Melayu dan Tionghoa, serta aksara Arab Melayu yang menjadi identitas spiritual masyarakat pesisir.


Jika rumah itu runtuh tanpa jejak, yang hilang bukan hanya sebuah bangunan, melainkan serpihan memori kolektif Tamiang.


Karena jika bukan kita yang menjaga, siapa lagi?. Dan jika bukan sekarang, kapan lagi?[]TNW_001

×
Berita Terbaru Update