Notification

×

Iklan

Iklan

Perekonomian Global di Pasca Pandemi dan UMKM di Indonesia

Senin, 27 November 2023 | November 27, 2023 WIB | 0 Views Last Updated 2023-11-27T10:05:58Z
abati parfum | Parfum Arab Terbaik

Foto : ILUSTRASI

Perekonomian global di Indonesia bisa disebut dengan Negara Berkembang Membangun Solidaritas ekonomi Global Semenjak muncul orientasi baru yaitu kepentingan ekonomi domestik. Banyak negara di seluruh dunia yang ingin merasakan pertumbuhan ekonomi yang berkembang di seluruh dunia dan Terjadinya Pasca pandemi Covid 19, beberapa negara cukup kewalahan untuk mengembalikan kondisi perekonomiannya di masa pandemi covid 19 yang dimana perekonomian mengalami penurunan ekonomi di negara berkembang.


Namun hal itu tidak berlaku untuk Indonesia karena kinerja perekonomian pasca pandemi masih dalam kondisi positif . Bahkan di tahun 2023 ini, Indonesia optimis bisa menghindari perlambatan ekonomi dan inflasi. Hal ini bisa dilakukan karena sektor ekonomi kini membaik ,Jika ingin membangun solidaritas ekonomi global, maka kesetaraan harus diterapkan supaya perekonomian membaik ke depannya dan memiliki dampak positif bagi warga Indonesia.


solidaritas ekonomi global kurang berwujud., Sumber Daya Alam Indonesia bisa diambil dalam keadaan mentah dan dibeli murah. Sedangkan negara maju itu akan mendapatkan keuntungan, karena sudah memiliki produk jadi yang siap jual. Oleh karena itu, warga Indonesia harus tetap teguh berpendirian bahwa Indonesia bisa maju, Meski solidaritas Ekonomi Global tidak terwujud, tapi kita tetap bisa merasakan yang namanya kemakmuran.


Kemudian, indikator berikutnya adalah terbukanya keran aktivitas ekonomi dalam negeri yang mengakar kuat melalui UMKM. UMKM menjadi syarat mutlak bagi kekuatan ekonomi nasional. Sebagaimana kita ketahui bersama, peran UMKM cukup siginifikan sebagai tulang punggung ekonomi bangsa. Sejarah telah membuktikan keperkasaan UMKM dalam menyelamatkan perekonomian negeri ini. Saat ini, UMKM menyumbang 73% total tenaga kerja nasional, 37,3% Produk Domestik Bruto (PDB) Nasional dengan transaksi senilai Rp4.235 triliun (Data Akumindo, ABDSI, & Kemenkop dan UKM, 2021).


ekonomi harus bertumpu pada tiga aspek. Pertama, mengubah ekonomi berbasis konsumsi menjadi ekonomi berbasis produksi. Kedua, alokasi anggaran negara yang lebih tepat sasaran untuk pengentasan kemiskinan. Ketiga, mendorong pembangunan yang lebih merata di luar Pulau Jawa. Adapun strategi dalam merealisasikan transformasi ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan, yakni dengan meningkatkan daya saing Sumber Daya Manusia (SDM), meningkatkan produktivitas ekonomi, transformasi ekonomi hijau, transformasi digital, interkonektivitas ekonomi domestik, pemindahan Ibu Kota Negara (IKN), dan percepatan program penghiliran industri.


Pertama, meningkatkan daya saing SDM dengan melakukan upgrade jalur pendidikan maupaun pemberian ketrampilan dengan standar internasional supaya mempunyai daya saing yang unggul.


Kedua, meningkatkan produktivitas ekonomi. Indonesia memiliki bonus demografi, di mana sekitar 60% penduduk Indonesia berusia di bawah 39 tahun yang memiliki potensi kreativitas dan inovasi yang sejalan dengan perkembangan teknologi. 


Ketiga, transformasi ekonomi hijau. Industri Energi Baru dan Terbarukan (EBT) memiliki peranan penting dalam pembangunan ekonomi ke depan karena Indonesia harus memenuhi komitmen untuk mengurangi emisi karbon. 


Keempat, transformasi digital harus mendukung pembangunan industri yang inklusif dan berkelanjutan dengan memperbesar partisipasi pelaku UMKM dalam global value chain, memperkuat SDM sektor IKM, mendorong berjalannya ekonomi sirkular, serta mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya alam.


Kelima, interkonektivitas ekonomi domestik. Melalui pembangun infrastruktur di seluruh wilayah, harapannya akan menekan biaya logistik serendah mungkin. Ekosistem industri menjadi terbentuk secara efektif dan efisien, sehingga mendorong pusat-pusat bisnis baru untuk pemerataan pembangunan ekonomi. 


Keenam, pemindahan IKN akan meningkatkan investasi di ibu kota baru dan provinsi sekitar. Dengan begitu, akan mendorong pemerataan pembangunan di mana 50% lebih wilayah Indonesia akan mengalami peningkatan perdagangan jika ibu kota dipindahkan ke wilayah yang memiliki konektivitas yang baik dengan provinsi lainnya. pertumbuhan ekonomi nasional sekitar 0,1% - 0,2%.[]


Pengirim :

Amanda Novianti, mahasiswa Jurusan Bisnis Digital Universitas Bangka Belitung, Hp/WA : 0821790036xx 

×
Berita Terbaru Update