![]() |
| Gambar sumber: BNPB |
Tamiang-News.com, Aceh- Bencana alam yang melanda wilayah Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat menimbulkan dampak kemanusiaan yang sangat besar. Hingga pembaruan data per 19 Januari 2026 pukul 12.00 WIB, tercatat 1.199 jiwa meninggal dunia, 144 orang dinyatakan hilang, serta 135.696 jiwa terpaksa mengungsi akibat rangkaian bencana yang terjadi sejak akhir 2025.
Data tersebut menunjukkan Provinsi Aceh menjadi wilayah dengan dampak terparah. Di provinsi paling barat Indonesia itu, korban meninggal dunia mencapai 560 jiwa, sementara 31 orang masih dinyatakan hilang. Selain itu, jumlah pengungsi di Aceh tercatat sangat signifikan, yakni 113.496 jiwa, atau lebih dari 80 persen total pengungsi di tiga provinsi terdampak.
Sementara itu, di Sumatera Utara, jumlah korban meninggal dunia mencapai 375 jiwa, dengan 41 orang dilaporkan hilang. Sebanyak 11.346 jiwa di provinsi tersebut masih harus bertahan di lokasi-lokasi pengungsian akibat kerusakan permukiman dan infrastruktur.
Adapun di Sumatera Barat, bencana menyebabkan 264 jiwa meninggal dunia dan 72 orang dinyatakan hilang. Jumlah pengungsi di wilayah ini tercatat sebanyak 10.854 jiwa, yang tersebar di sejumlah titik pengungsian darurat.
Dalam upaya penanganan darurat dan pemenuhan kebutuhan dasar korban, pemerintah bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) telah menyalurkan bantuan logistik dalam jumlah besar. Total logistik yang berhasil didistribusikan mencapai 1.757,03 ton selama periode 29 November 2025 hingga 18 Januari 2026.
Distribusi bantuan dilakukan melalui berbagai moda transportasi. Tercatat 64 sorti penerbangan pesawat Hercules, 56 sorti penerbangan pesawat carter BNPB, 55 unit truk melalui jalur darat, serta 7 kapal melalui jalur laut dikerahkan untuk memastikan bantuan dapat menjangkau wilayah-wilayah terdampak, termasuk daerah yang sulit diakses.
Pemerintah menyatakan upaya pencarian korban hilang, penanganan pengungsi, serta pemulihan layanan dasar masih terus dilakukan. Di tengah kondisi cuaca yang belum sepenuhnya stabil, masyarakat diimbau tetap waspada terhadap potensi bencana susulan, sementara koordinasi lintas sektor terus diperkuat guna mempercepat penanganan dan pemulihan pascabencana.[] sumber; BNPB.


