Notification

×

Iklan

Iklan

Krisis Komunikasi Non-Verbal Gen Z di Tempat Kerja: Diam, Digital, dan Sering Disalahpahami

Jumat, 02 Januari 2026 | Januari 02, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-01-02T14:35:57Z
abati parfum | Parfum Arab Terbaik

Foto/Ilustrasi

Di tahun 2025, Generasi Z semakin mendominasi dunia kerja. Mereka dikenal adaptif terhadap teknologi, kreatif, dan cepat belajar. Namun, di balik keunggulan itu, muncul satu isu yang sering dibicarakan di lingkungan profesional: krisis komunikasi non-verbal Gen Z di tempat kerja. Banyak Gen Z dianggap “dingin”, “kurang antusias”, atau “tidak sopan”, bukan karena apa yang mereka katakan, tetapi karena cara mereka mengekspresikan diri tanpa kata-kata.


Komunikasi non-verbal mencakup ekspresi wajah, kontak mata, gestur tubuh, postur, hingga simbol digital seperti emoji dan reaksi chat. Menurut penelitian Albert Mehrabian, sebagian besar pesan emosional manusia disampaikan melalui komunikasi non-verbal. Artinya, ketika sinyal non-verbal tidak terbaca dengan baik, potensi salah paham akan sangat besar.


Diam Bukan Berarti Tidak Peduli


Salah satu fenomena yang sering dikaitkan dengan Gen Z adalah kecenderungan untuk lebih banyak diam dalam rapat atau diskusi langsung. Bagi generasi sebelumnya, diam sering ditafsirkan sebagai tidak tertarik atau kurang inisiatif. Namun, bagi banyak Gen Z, diam justru merupakan bentuk observasi dan pemrosesan informasi.


Beberapa studi tentang gaya komunikasi Gen Z menunjukkan bahwa mereka lebih nyaman berbicara ketika merasa aman secara psikologis dan ketika pendapat mereka benar-benar diminta. Tanpa konteks ini, ekspresi non-verbal mereka—seperti wajah datar atau minim gestur—sering disalahartikan sebagai sikap pasif.


Non-Verbal Digital: Emoji, Reaksi, dan “Seen”


Di era kerja hybrid dan remote, komunikasi non-verbal juga bergeser ke ruang digital. Gen Z sering menggunakan emoji, stiker, atau reaksi singkat sebagai pengganti ekspresi wajah. Bagi mereka, satu emoji bisa bermakna empati, dukungan, atau persetujuan.


Namun, perbedaan generasi membuat simbol digital ini tidak selalu dipahami dengan sama. Atasan mungkin menganggap balasan singkat atau emoji sebagai tidak profesional, sementara Gen Z melihatnya sebagai bentuk komunikasi yang efisien dan ramah. Inilah titik krisis: bahasa non-verbal digital belum memiliki kesepakatan makna yang sama di dunia kerja.


Kurangnya Latihan Interaksi Tatap Muka


Gen Z tumbuh di tengah media sosial, pesan instan, dan video pendek. Akibatnya, kesempatan untuk melatih kemampuan membaca ekspresi wajah, kontak mata, dan gestur secara langsung menjadi lebih terbatas. Penelitian komunikasi interpersonal menunjukkan bahwa kurangnya interaksi tatap muka dapat memengaruhi kepekaan seseorang terhadap sinyal non-verbal orang lain.


Di tempat kerja, hal ini bisa berdampak pada kerja tim, kepercayaan, dan hubungan profesional. Bukan karena Gen Z tidak mampu, tetapi karena konteks belajar komunikasinya berbeda.


Menuju Solusi di 2025


Krisis komunikasi non-verbal Gen Z bukanlah masalah satu pihak. Solusinya terletak pada adaptasi dua arah. Perusahaan perlu memberikan ruang aman untuk berbicara, memperjelas ekspektasi komunikasi, dan memberikan pelatihan komunikasi lintas generasi. Di sisi lain, Gen Z juga perlu menyadari bahwa sebagian lingkungan kerja masih sangat bergantung pada sinyal non-verbal konvensional.


Di tahun 2025, tantangannya bukan memilih antara digital atau tatap muka, tetapi menjembatani keduanya. Jika dipahami dengan benar, gaya komunikasi non-verbal Gen Z bukan ancaman, melainkan peluang untuk menciptakan budaya kerja yang lebih inklusif, empatik, dan relevan dengan zaman.[]


Penulis :

Muhammad Hafidz Fahlevi, mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas pamulang

×
Berita Terbaru Update