![]() |
| Dok: TamiangNews.com |
Bagi sebagian warga, musibah justru menghadirkan rezeki tak terduga.
Deretan sepeda motor milik warga yang sempat terendam banjir kini memenuhi halaman rumah, pinggir jalan, hingga Warkop yang disulap menjadi bengkel sementara.
Kerusakan mesin, sistem kelistrikan, hingga rangka kendaraan pascabanjir membuat jasa perbaikan mendadak menjadi sangat dibutuhkan.
“Sejak banjir surut, hampir tidak ada waktu kosong. Dari pagi sampai malam selalu ada kendaraan masuk,” ujar Ridho (23), seorang mekanik di Kecamatan Karang Baru, Senin (20/1/26).
Bersama dua rekannya, ia membuka bengkel darurat bermodal peralatan Bengkel sisa banjir di teras rumahnya.
Menurut ridho, dalam sehari ia bisa menangani 5 hingga 8 kendaraan, jauh di atas kondisi normal sebelum banjir.
“Biasanya paling tiga atau empat motor. Sekarang bisa lebih dari delapan. Alhamdulillah, rezeki di tengah musibah,” katanya.
Fenomena serupa terlihat di sejumlah kecamatan terdampak banjir seperti Manyak Payed, Rantau, dan Banda Mulia. Mekanik lepas, montir bengkel kecil, hingga warga yang memiliki keahlian dasar otomotif turut memanfaatkan peluang untuk membantu pemulihan kendaraan warga sekaligus menopang ekonomi keluarga.
Selain memberikan pemasukan bagi para mekanik, bengkel dadakan ini juga meringankan beban korban banjir. Pasalnya, keterbatasan bengkel resmi dan jarak tempuh yang jauh membuat warga memilih perbaikan di sekitar tempat tinggal mereka.
“Kalau ke bengkel besar atau dealer showroom harus antre lama dan biaya lebih mahal. Di sini lebih dekat dan bisa langsung ditangani,” ungkap Rio (29), warga Kampung bundar yang motornya rusak akibat terendam banjir.
Di balik puing-puing sisa bencana, bengkel dadakan menjadi simbol daya lenting masyarakat Aceh Tamiang—bahwa dari keterbatasan dan kesulitan, selalu ada jalan untuk bertahan dan bangkit kembali.[]TN-001


